Pada akar esensinya, konsep kebebasan berpikir bukanlah soal membenci apa yang bertentangan dengan pemikiran kita, melainkan perihal menempatkan diri untuk selalu mengevaluasi pemahaman atau pemikiran, mempertanyakan “validitas gagasan”, selalu skeptis dan kritis terhadap sekitar.

Secara konseptual, kebebasan berpikir bukanlah hal yang salah apalagi sesat. Kebebasan berpikir yang benar, sejatinya akan membawa kita pada suatu pemikiran yang terbuka (open minded). Pemikiran yang terbuka, membuat kita mendapatkan suatu pemahaman yang baru. 

Pemahaman yang baru, tentu bukanlah suatu hal yang mudah diterima, apabila kita masih hidup dalam imajinasi yang kita anggap realita. Terutama bila “konstruksi paradigma” kita sudah memiliki begitu banyak ‘isme’, seperti kapitalisme, komunisme, liberalisme, kolot-isme, bahlul-isme, bigot-isme, atau lebih parahnya lagi sering terjebak dalam kecacatan logika (Logical Fallacy).

Seperti kata Si Dinamit Nietzsche, “Sometimes people don’t want to hear the truth because they don’t want their illusions destroyed”.

Sejatinya, kebebasan berpikir akan memberikan kita ruang menuju sesuatu yang baru. Suatu titik kesadaran, bahwa kebenaran itu memiliki banyak sudut. Karena pada hakikatnya, kebenaran itu memang memiliki banyak sudut, versi, perspektif, kacamata, maupun terminologi, atau bahkan tergantung secara objektif maupun subjektif.

Seumpama anggapan, “Matahari terbit dari Timur”. Apakah anggapan itu salah? Tentu tidak. Lalu, apakah apakah anggapan itu benar? Tidak juga. Kenapa demikian?

Sebab, bila kita tilik secara Sains, maka kita akan menemukan bahwa matahari tidak terbit dari Timur. Malahan lewat Ilmu Sains juga, kita membuktikan bahwa Heliosentrisme (Bumi yang mengelilingi matahari atau matahari sebagai pusat alam semesta) adalah kebenaran, sehingga tidak mungkin matahari yang terbit dan mengelilingi Bumi. 

Dan, apabila anggapan “Matahari terbit dari Timur” dinilai secara mayoritas pun, mayoritas orang akan membenarkan anggapan itu. Namun tentu akan berbeda, jikalau anggapan itu ditilik secara Filosofi. Karena secara Filosofi, “Matahari itu terbit dari Barat”. Matahari di sini, merujuk pada simbol cahaya, perubahan, ilmu, atau pengetahuan, yang mana itu semua berasal dari ‘Barat’. 

Tapi lagi-lagi, apabila kita telaah dari sisi yang lain, yakni Spiritual, maka anggapan yang benar adalah “Matahari itu terbit dari Timur”. Akan tetapi, matahari disini merujuk pada cahaya, kesucian, kemurnian, dan kehangatan dari agama atau nilai-nilai spiritual yang sangat kental di ‘Timur’.

Jadi manakah yang benar? Semuanya. Tergantung dari perspektif, sudut, kacamata, versi, terminologi, atau konsepsi mana yang kita gunakan.

Lalu, apa itu kebenaran objektif dan subjektif? Singkatnya, kebenaran objektif adalah kebenaran yang bertopang pada nilai, asas, kaidah moral atau sifat-sifat ketuhanan yang ‘luhur’. Katakanlah kegiatan bederma, maka bederma adalah suatu kebenaran yang objektif, karena sesuai dengan nilai-nilai kebaikan yang berlaku. 

Tapi, kebenaran dari derma yang objektif itu “tidak absolut”. Karena kebenaran juga ada yang bersifat subjektif. Contohnya, “perilaku mencuri adalah kebenaran di komunitas pencuri. Jadi, apabila ada orang yang tidak mencuri di komunitas itu, maka dia tidak benar”.

Lantas, makhluk seperti apakah kebenaran itu? Atau siapakah yang berhak untuk menentukan kebenaran absolut tersebut? Tentu saja Tuhan. Karena sejatinya, hanya Tuhan semata yang memiliki hak istimewa (prerogatif) untuk menentukan suatu kebenaran yang absolut. 

Terlebih, pada hakikatnya, manusia itu tidak memiliki hak atau wewenang apapun dalam dunia ini. Dalam sudut pandang akar penciptaannya pun, manusia hanya dititipkan dan dipinjamkan hak atau wewenang oleh Tuhan.

Kembali pada kebebasan berpikir, sekali lagi kebebasan berpikir ialah fase untuk belajar, mengenal dan membandingkan, sebuah proses “komparasi objektif”. Namun dewasa ini, banyak yang sering berpikir dan berargumentasi dengan “tendensi sentimentil”, bahkan tak jarang menghardik pemikiran yang berbeda dengan dirinya. Bukankah itu bertentangan dengan sifat evaluatif? Atas alasan itu semua, mari kita renungkan bersama-sama.

Terakhir, semua unsur keberagaman ini ada untuk disatukan, bukan untuk diperbandingkan apalagi diperdebatkan. Karena, apaguna dunia bila semuanya adalah baut. Lagi pula, “mobil saja baru bisa maju dan disebut paripurna, bila ada kursi, bumper, bensin, mesin, ban, kaca spion, baut, mur, kemudi, knalpot dan lain sebagainya”.

Jadi, tetaplah bernafas dan belajar. Jikalau kita belajar dari sumber yang benar, niscaya cahaya kebenaran akan selalu menyinari gelapnya kehidupan. Sekian, dan semoga semua makhluk berbahagia!