Siapa yang pernah merasakan bahwa menjadi seorang adik adalah hal yang sangat menyebalkan? Biasanya yang menjadi seorang adik adalah yang paling sering tertindas. Belum lagi jika memiliki kakak yang kedudukannya adalah anak sekaligus cucu pertama, pasti sang kakak akan merasa memiliki saingan saat sang adik lahir. Hal ini yang akan menjadi dasar sang kakak menjahili adiknya hingga menangis. Ini yang pernah aku alami saat masih kecil dulu, hingga waktu yang kemudian akan mengubah segalanya.

Aku adalah anak kedua dari tiga bersaudara. Sejak dulu aku memiliki ingatan yang merekat sangat dalam. Ada banyak sekali kenangan tentang pertengkaran yang terjadi antara aku dan kakakku. Jujur saja, aku merasa bahwa masa kecilku adalah masa paling suram di mana aku selalu tertindas karena terlahir menjadi seorang adik (kebetulan beda umurku dan kakakku cuma 3 tahun, sedangkan beda umurku dan adikku adalah 4 tahun).

Sejak aku masih duduk  di bangku TK, kakakku selalu melakukan hal yang membuatku menangis (anggap saja kakakku itu galak dan kasar, sebenarnya dia itu agak tomboy juga). Kakakku adalah anak sekaligus cucu pertama dari keluarga mama, jadi sejak kecil dia selalu menjadi pusat perhatian di keluarga besar mama. Mungkin itu yang menjadi alasan sifatnya yang besar kepala.

Bayangkan saja, waktu aku masih dalam kandungan mama dia sudah merasa bahwa kehadiranku adalah saingan dalam mendapatkan perhatian (aku adalah cucu kedua). Saat aku lahir, konon kakakku sering cemburu karena orang-orang lebih memperhatikan aku dibandingkan dia.

Inang tuaku (kakaknya mama) yang biasanya menggendong dia malah lebih sering menggendongku saat aku lahir (ya iyalah, secara aku lagi lucu-lucunya) dan tanpa merasa bersalah kakakku bilang begini, "Ih, itu apaan sih, udah buang aja ke tempat sampah!" Sumpah, jahat banget kan dia!! Kebetulan yang menceritakan tentang hal ini adalah inang tuaku ).

Sifat galak dan tidak mau kalah dari kakakku sering menimbulkan pertengkaran di antara kami. Aku yang masih kecil juga tidak mau mengalah. Aku sering menggunakan cara terakhir dengan mengadu kepada orang-orang yang lebih tua untuk meminta perlindungan jika kakakku menggangguku. Dan itu membuat kakakku semangkin kesal.

Hal ini terus berlanjut sampai aku SMP. Pertarunganku dan kakakku bukan sekedar saling menjambak rambut, memukul atau mencubit, tapi juga ada waktu aku terkena tamparan hingga kami saling mendorong. Yang paling aku ingat adalah saat aku didorong kakakku sampai meja kaca pecah.

Kalau dihitung-hitung, 98% yang memenangkan pertarungan adalah kakak dan sisanya aku. Itu pun karena ada berbagai pihak yang menolong. Saat itu aku merasa bahwa ini tidak adil. Kenapa yang jadi pihak adik selalu kalah? 

Setiap pertarungan yang terjadi antara aku dan kakakku akan berakhir dengan hukuman dari Papa. Dimulai dari omelan-omelan sampai dilarang sekolah, dikunci dalam kamar berdua. Pernah juga kakiku dan kaki kakakku diikat dengan rantai. Ini yang paling berkesan. Bayangkan saja, waktu itu papa sampai memasang rantai di kaki kita pakai gembok yang ada nomornya.

Ternyata kakakku tahu password gembok itu. Jadi saat papa pergi, ia langsung membuka rantainya. Saat Papa sudah pulang, kakakku kembali merantai kaki kita berdua seperti semula, seakan-akan kami berdua sudah merenungi kesalahan yang telah diperbuat. 

Masih banyak hukuman yang aku dan kakakku terima waktu kecil. Mama dan Papa benar-benar stress melihat kelakuan anak-anaknya yang hampir setiap hari selalu bertengkar. Berbagai cara mereka lakukan supaya aku dan kakakku bisa akur. Termasuk hukuman apa yang harus diberikan agar kami jera.

Jujur saja, dari SD sampai SMP yang ada di pikiranku adalah aku bakal bahagia kalau saja kakakku tidak tinggal satu rumah lagi. Sampai akhirnya hal yang aku inginkan itu terkabul. Waktu itu aku lulus SMP dan kakakku lulus SMA. Sejak masuk kuliah, akhirnya kakakku memutuskan untuk kos.

Aku teramat senang karena akhirnya bisa leluasa di rumah. Hingga tiba saatnya aku merasakan kangen dengan pertengkaran-pertengkaran kami. Dan seiring dengan umur kami yang bertambah, pola pikir kami pun mulai berkembang. Akhirnya tanpa kami sadari, rasa saling iri dan keinginan untuk berantem mulai hilang.

Sejak itu, tanpa sadar aku selalu menunggu dia pulang ke rumah. Saat kami bertemu, ia masih sering menjahiliku tetapi tidak pernah kasar lagi. Canda dan tawa mulai sering terdengar di rumah. Hal ini yang membuat Papa dan Mama senang. Tak lupa nasihat yang mereka tekankan bahwa sebagai kakak beradik kami harus saling menjaga satu sama lain.

Perlahan tetapi pasti kami semakin dekat. Kami saling berbagi cerita, juga mulai bekerja sama dalam melakukan sesuatu, saling memuji dan melakukan kegiatan-kegiatan lainnya bersama. Apa pun itu, yang namanya saudara kandung tetaplah saudara kandung. Pertengkaran apa pun itu, tidak akan pernah mengubah ikatan persaudaraan. Pertengkaran akan memudar seiring berkembangnya pola pikir dan kedewasaan seseorang.

Sampai saat ini kakakku menjadi salah satu idolaku. Dia adalah anak pertama yang artinya dia memiliki tanggung jawab yang cukup besar dalam keluarga. Kami sudah sama-sama dewasa, tidak pernah ada lagi pertengkaran di antara kami. Meskipun terkadang di antara kami ada masalah, tapi kami selalu menyelesaikannya secara dewasa.

Masa kecil kami yang penuh pertengkaran menjadi cerita yang kadang membuat kami tertawa saat mengingatnya. Mungkin kami tak pernah secara terus terang mengatakan sayang satu sama lain, tetapi aku tahu bahwa kakakku sangat menyayangiku. Begitu pun aku, sangat menyayangi dia. Kenangan itu akan selalu melekat tetapi pertengkaran kami sudah terlewat.