1 bulan lalu · 760 view · 5 menit baca · Politik 52175_60665.jpg

Tentang Jokowi dan Prabowo yang Bersekutu Sejak Awal

Banyak film-film yang tanpa disadari ternyata sukses berkat jasa penjahat ataupun tokoh antagonisnya. Sandiwara ini mendidihkan darah penontonnya dengan memperkuat tokoh antagonisnya. 

Informasi berupa lemahnya protagonis dan kuatnya antagonis tersebut langsung masuk ke otak reptil kita dan secara otomatis mendesak kita untuk membela protagonis; kita akan cencerung membela yang lemah.

Dalam film IP Man, Guru Yip harus berhadapan dengan antagonis utama seorang bule yang bukan hanya petinju kelas berat tetapi juga mendapat perlindungan luar biasa dari pihak otoritas penjajah. 

Kondisi antagonis yang begitu kuat tersebut makin lengkap dengan keangkuhan dan rasisme di dalam dirinya. Darah penonton makin mendidih ketika dengan tinjunya sang antagonis membunuh seorang guru terhormat di tempat itu, lengkap dengan adegan sosok penuh keangkuhan.

Agak berbeda dengan itu, dalam film The Karate Kid, Dre Parker yang sama sekali tidak tahu-menahu mengenai kung fu harus berhadapan dengan Cheng yang telah berguru begitu lama di sekolah kung fu ternama di kota itu. 

Keangkuhan dan kekejaman Cheng dan gurunya berhasil menyita perhatian penonton, mendidihkan darah penonton sewaktu ternyata perguruan Cheng berbuat curang agar Dre tidak menang.

Berkaca dari situ, sebuah antusiasme ternyata bisa terbentuk jika suatu keadaan benar-benar hitam-putih, tidak abu-abu. Yang satu harus benar-benar hitam dan yang satu harus benar-benar putih. 

Selain itu, cerita akan menjadi sangat menegangkan jika pihak yang satu benar-benar lemah dan akan melawan sesuatu yang benar-benar kuat, sesuatu yang sungguh benar melawan sesuatu yang penuh intrik licik.

Prabowo tidak benar-benar serius untuk mengalahkan Jokowi. Jokowi pun tidak pernah benar-benar serius menyerang Prabowo dalam berbagai kesempatan yang dia bisa. Ini menjadi tanda tanya besar bagi saya, melahirkan suatu dugaan yang sangat mutakhir, "Prabowo dan Jokowi bersekongkol." Bagaimana mungkin ini terjadi?

Di berbagai momentum besar di waktu yang lalu, PDI-P dan Gerindra adalah dua sejoli yang seiring sejalan seirama. Namun mereka, terutama Gerindra, harus menghadapi kenyataan kalah secara nasional dengan partai-partai besar seperti Demokrat dan Golkar. Begitu pun di pilpres, koalisi dua sejoli ini harus menanggung kekalahan besar.

Perlu strategi tingkat tinggi untuk dua sejoli ini bisa memenangkan hati rakyat, dengan membentuk dua kubu yang sama kuat. Kubu yang sangat kuat ini akan mencegah munculnya poros-poros besar lain yang berpotensi menang. Menariknya, itu benar-benar terwujud dan ceritanya menjadi menarik.

Platform

Bukanlah sesuatu yang sulit bagi kita untuk melihat bahwa platform Partai Gerindra dan PDI-P sangat mirip. Kalau kita screening DNA partainya, maka di antara semua partai yang survive hingga sekarang, yang paling dekat kekerabatan ideologinya adalah Gerindra dan PDI-P.

Saya sendiri yakin bahwa anggota ideologis Partai Gerindra lebih nyambung berdiskusi dengan anggota ideologis PDI-P dibandingkan dengan PKS, misalnya. Sebab meme mereka mirip dan pandangan mereka tentang gambaran Indonesia ke depan kurang lebih sama.

Saya juga percaya bahwa se-oportunis-oportunis-nya suatu partai, ideologinya pasti sangat sulit untuk berubah. Itu tetap terjadi pada Gerindra dengan ide-ide besarnya di masa lalu, jika menang pasti akan diwujudkan. 

Itu kenapa, jika Gerindra menang, para penumpang di Gerindra tidak akan mendapat tempat khusus. Mereka tidak lebih dari cameo dalam film ini.

Program

Ketika untuk pertama kali Prabowo berhadapan dengan Jokowi di pilpres, keduanya mempunyai program-program yang menarik dan realistis untuk dilakukan. Namun sangat lucu untuk kita menyadarinya, fokus program koalisi Prabowo adalah fokus program yang dikerjakan dan direalisasikan oleh pemerintahan Joko Widodo 5 tahun belakangan ini.

Program yang paling gamblang dapat terlihat adalah pembangunan infrastruktur. Ini adalah program yang tidak terlalu ditekankan oleh Jokowi-JK ketika pilpres, sebaliknya ini tercantum secara gamblang pada pelaksanaan misi Prabowo-Hatta, “mempercepat pembangunan infrastruktur”.

Menjadi menarik karena justru pemerintahan Jokowi terkenal dengan pembangunan infrastruktur yang sangat masif.

Meski konsisten sampai sekarang mengenai ekonomi kerakyatan, tetapi pemerintahan Jokowi sejak awal sudah langsung melaksanakan “fokus program Prabowo” ini, mulai dari BUMDes sampai Bank Mikro. Mendistribusikan “uang pusat” ke desa adalah ide besar Gerindra - PDI-P yang sekarang direalisasikan melalui Dana Desa.

Begitu pun terkait kedaulatan pangan, energi, dan sumber daya dengan usaha perebutan kembali sumber daya alam dari tangan asing, dengan sangat terampil dilaksanakan pemerintahan Jokowi. Malahan fokus “pembangunan manusia” yang menjadi jualan Jokowi belum berjalan dengan baik.

Kontras

Untuk menjalankan agenda besar ini, maka kedua pihak harus benar-benar mengontraskan diri. Salah satu harus menjadi hitam dan yang lainnya harus benar-benar putih. 

Agenda ini berlangsung dan sangat dramatis. Hingga benar-benar kontras dan membentuk suatu warna yang tidak lagi abu-abu: Cebong dan Kampret.

Jika ini adalah sebuah drama, sebenarnya sudah jelas siapa yang antagonis dan protagonis, persekongkolan ini berhasil menciptakan kontras. Ketika kubu antagonis dipenuhi dengan orang-orang yang emosional dan temperamental, kubu protagonis dipenuhi dengan orang-orang yang suka bercanda.

Ketika kubu antagonis dipenuhi dengan orang-orang yang suka menfitnah dengan segala intriknya, kubu protagonis adalah orang-orang yang taat aturan main. Ketika kubu antagonis ditumpangi dengan tokoh-tokoh pendukung sistem pemerintahan baru, kubu protagonis diisi dengan orang-orang nasionalis.

Ketika kubu antagonis diduduki oleh orang-orang intoleran, kubu protagonis diduduki oleh orang-orang toleran. Ini sudah jelas mulai dari kasus hoaks terakbar Ratna Sarumpaet, ujaran kebencian berlebihan Ahmad Dhani, hingga kisah ateis yang mendadak menjadi spiritualis. 

Juga sangat jelas dengan citra yang dilekatkan ke Pak Jokowi di mana dirinya jauh lebih kompeten daripada Pak Prabowo.

Sudah jelas cerita ini bagaimana dan bagaimana seharusnya berakhir. Sudah seharusnya memang orang yang mempunyai keluhuran hatinya memihak kepada pihak protagonis, namun ternyata yang terjadi tidak pernah sesederhana itu.

Kisah Pesulap dan Tragedi DKI

Kembali ke film, ini adalah kisah protagonis dan antagonis yang saling berkomplot sejak awal untuk mendulang kesuksesan, Thaddeus dan Lionel Shrike. Thaddeus sukses menjadi kritikus pesulap sedangkan Lionel Shrike sukses menjadi pesulap.

Hingga akhirnya hal tersebut membawa mereka kepada rivalitas yang tidak lagi bisa dibendung, yang akhirnya menewaskan Lionel Shrike. Hal ini melahirkan dendam pada anak Lionel Shrike, Dylan Rhodes. Dendam yang tidak berakhir hingga pada akhir film Now You See Me 2.

Jika teori konspirasi ini benar, maka yang terjadi di Pilgub DKI adalah rivalitas yang kebablasan. Mungkin ini juga adalah akibat campur tangan para penumpang gelap yang sangat sulit untuk dibendung. Pilpres saat ini mulai mengarah ke sana. 

Sudah seharusnya Pak Prabowo seperti John McCain yang tidak membenarkan kelakuan wakilnya Sarah Palin yang rasis terhadap Obama seperti yang terjadi pada film Game Change.

Namun saya adalah pencinta film, bukan analis politik. Andai semua bisa sesederhana teori konspirasi ini, mungkin kita bisa lebih berdamai sejenak, antara cebong dan kampret, antara Gerindra dan PDI-P, antara protagonis dan antagonis.