Bedug mulai terdengar dan adzan pun mulai berkumandang. Mendesak umat Islam untuk meninggalkan perjuangan meraih kemenangan dan berbondong-bondong untuk beribadah.

Begitulah gambaran padatnya umat Islam yang ada di Kota Kudus. Kota ini biasa dijuluki sebagai Kota Wali, Kota Santri yang indah dan bagus. Dimana kota ini terkenal dengan menara bersejarah peninggalan Walisongo yang menyebarkan agama Islam di Kudus kala itu.

Sunan Kudus adalah salah satu seorang ulama Wali Songo yang dimakamkan di menara Kudus, dimana menara itu adalah tempat beliau mendakwahkan agama Islam.

Para ulama ternyata juga memiliki cara tersendiri loh untuk menyebarkan dan menyampaikan dakwah agama Islam. Tahukah kalian jika Ja'far Shodiq juga memiliki cara tersendiri dalam menyebarkan agama Islam?

GUSJIGANG  adalah metode yang digunakan Ja'far Shodiq dalam menyebarkan agama Islam di Kudus.  Metode dakwah ini lebih sering dikenal dengan sebutan Sunan Kudus oleh masyarakat di Kota Kudus.

GUSJIGANG adalah singkatan dari baGUS ngaJI lan daGANG. Arti yang sangat deskriptif, tetapi hanya sedikit yang memahaminya.

Arti kata "Bagus" sendiri memiliki makna yang sangat unik, yaitu bagus dalam tingkah laku, bagus dalam tutur kata, bagus dalam berpakaian, dan bagus dalam segala Akhlakul Karimah.

Tidak kalah unik dengan arti kata bagus. Ngaji juga merupakan kegiatan yang diajarkan kepada masyarakat agar rajin beribadah. Semua itu diajarkan oleh Sunan Kudus kepada masyarakat sekitar melalui pondok pesantren dan kegiatan di Masjid Menara Kudus.

Dan yang terakhir ada "berdagang", dagang sendiri adalah kegiatan yang diajarkan oleh Sunan Kudus seperti yang dilakukan oleh Rasulullah Saw.

Biasanya masyarakat sekitar kerab berjualan di depan Menara Kudus saat akan menjelang bulan suci Ramadhan. Berjualan di sekitar jalan menara kini sudah mulai menjadi hal yang biasa saat akan menjelang ibadah puasa. Tradisi ini biasa disebut dengan "Dandangan".

Pada awalnya dandangan hanya menyediakan untuk para santri dan santriwati usai berziarah ke makam Ja'far Shodiq, namun tidak sebesar dan seramai saat ini. Tahun demi tahun berlalu, dandangan kini mulai berkembang dan menambah semangat untuk menjalankan ibadah puasa.

Untuk menjaga budaya dakwah Gusjigang ini, masyarakat Kudus menyediakan museum tersendiri untuk menyimpan dan menguri-uri ajaran Sunan Kudus. Kini, museum ini menjadi senter untuk dikunjungi usai berziarah ke makam Sunan Kudus.

Museum Gusjigang kini menjadi tempat yang strategis untuk dikunjungi, karena museum tersebut kini menjadi satu dengan pusat oleh-oleh khas Kota Kudus.

Berbicara tentang museum, kini museum Gusjigang juga terdapat bagaimana cara masyarakat membuat jenang dengan cita rasa yang khas dengan Kota Kudus. Tidak hanya jenang, Kudus juga memiliki memiliki julukan sebagai Kota Kretek karena memproduksi rokok dan sudah sangat terkenal hingga saat ini.

Tidak hanya museum yang menjadi sarana untuk melestarikan dakwah GUSJIGANG. Kota Kudus pun kini memiliki kearifan lokal yang menceritakan Gusjigang melalui wiraga, wirama, dan wirasa.

Tari Gusjigang biasanya ditampilkan saat ada tamu penting yang berkunjung ke Kudus. Tarian ini biasa ditampilkan bersama dengan tari Kretek sebagai pengenalan dan pembukaan acara penting di Kudus.

Kembali lagi, Gusjigang ini memiliki makna yang menyemarakkan semangat untuk beribadah. Anak-anak pun sudah mulai diajarkan mengaji dan berakhlak bagus melalui pondok pesantren. Tidak sedikit anak-anak yang sudah dikenalkan dengan kegiatan yang ada di menara Kudus.

Tidak hanya menjadi pusat kegiatan agama umat Islam, daerah sekitar menara Kudus kini juga menjadi pusat dagang dimana tempat bertemunya penjual dan pembeli.

Tidak sedikit anak-anak dari berbagai pondok pesantren datang ke menara Kudus untuk berziarah ke makam Sunan Kudus setiap menjelang bulan suci Ramadhan. Bukan hanya anak-anak, masyarakat luar Kudus pun juga ikut berziarah ke makam Sunan Kudus berserta jajarannya.

Sudah tidak heran lagi bagi warga Kudus jika menjelang bulan Ramadhan jalanan sekitar menara sangat ramai. Meskipun jalan sangat ramai dan banyak orang berkerumun di sekitar menara, itu tidak akan membuat masyarakat berfikir negatif.

Dengan ramainya pengunjung justru itu yang membuat masyarakat Kudus senang, karena itu merupakan salah satu penerapan makna dari Gusjigang. Tetap berakhlak bagus meskipun desak-desakan dan tetap mengaji meskipun sedang dagang.

Itulah yang membuat makna Gusjigang semakin melekat di masyarakat sekitar khususnya du Kota Kudus.

Gusjigang yang diajarkan oleh Sunan Kudus untuk masyarakat, ini bertujuan agar masyarakat umat Islam di Kudus mempunyai akhlak dan budi pekerti yang bagus, bisa mengaji, dan rajin beribadah. Serta pandai berdagang seperti yang dilakukan Rasulullah Saw.

Metode ini sudah diajarkan bahkan diwariskan dari generasi ke generasi. Sebagai seorang remaja, sudah seharusnya kita menjaga dan melestarikan ajaran para ulama dan membangkitkan semarak untuk generasi berikutnya, agar tetap terjaga kerukunan antar masyarakat dan memiliki budi pekerti sesama makhluk sosial.

Bagaimana dengan keindahan Kota Kudus? Tidak kalah menarik bukan?

Penasaran dengan Kota Kudus? Ayo sini main ke Kudus agar rasa penasaranmu terobati dengan keindahan yang dimiliki Kota Kudus.

Setelah menyampaikan tulisan ini, saya harap ajaran para ulama ini bisa menggugah semangat pembaca untuk selalu berbudi pekerti, dan rajin beribadah serta pandai berdagang dan tidak mudah putus asa.

Dan saya harap tulisan ini bisa menjadi contoh dan menerapkan ajaran ulama ke dalam kehidupan sehari-hari. Seperti memiliki budi pekerti yang bagus dan rajin beribadah agar kita sadar bahwa hidup yang hanya sekali ini terasa lebih bermakna.