Saya mau cerita tentang seseorang. Sebut saja Gie.

Kami berkenalan secara tak sengaja di Twitter. Saat itu saya menyambar obrolannya dengan salah satu teman. Mereka sedang membahas seorang dalang di daerah timur Jawa Timur.

Dia mengirim pesan pribadi ke saya dan bertanya: 'Kamu kerja di situ juga?' Padahal foto profilnya sudah saya atur sedemikian rupa agar tak menampilkan dengan jelas nama perusahaan tempat saya bekerja. Tapi dia tahu.

Kenapa? Karena dia juga bekerja di bawah bendera yang sama. Dia ditempatkan di Kalimantan, saya di Surabaya. Pekerjaan kami sama.

Kami menjadi dekat, dia resign dari pekerjaannya dan memilih kerja dekat dari rumah saja. Hobi kami sama; membaca. Bahkan dia yang mengenalkan beberapa jenis buku yang sebelumnya tidak pernah saya sentuh. Saya juga mengenalkannya pada Sherlock Holmes, tokoh fiksi favorit saya.

Saya pernah bercanda; 'Aku tuh ndak suka sama cowok gondrong dan kumisan gitu, Mas. Ndak bersih.'

Besok paginya dia mengirimkan sebuah swafoto yang menampilkan potongan rambutnya yang lebih pendek serta kumis dicukur bersih. Kaget? Iya.

Tak hanya sampai situ, dia rela berhenti merokok total saat saya bilang kalau perokok itu akan awet muda, karena sebelum tua sudah mati duluan. Begitu sayangnya dia ke saya.

Dia selalu bilang bahwa saya ini perpaduan pribadi yang unik. Saya suka membaca dan memasak, itu sudah cukup membangkitkan rasa cintanya. Saya sedang belajar menulis saat itu, dan dia sudah lebih dulu. Saya yang awalnya diam tapi bisa jadi sangat cerewet ini pun baginya adalah penyeimbang semua sifatnya.

Kami berdua merasa cocok. Kami berdua ingin terus bersama. Namun semesta tak berpendapat yang sama. Kami berpisah. Dengan tidak baik-baik, tentunya. Saya terluka, dia juga.

Saya dan dia masih sering menuliskan kisah kami yang singkat di media sosial, dan hanya bisa saling membaca. Saya sedang rindu? Mungkin.

Beberapa hari yang lalu, seorang teman menelepon bertanya kabar. Dia bilang: 'Aku tadi ke rumah Gie, kami akan ke luar kota besok. Kau tahu, Din? Fotomu masih terpajang di tembok kamarnya'.

Malam ini aku ingin merapal doa untuknya. Semoga dia bahagia.

~~
Suatu hari aku mengabarkan kalau mobil bapak mendadak mogok di flyover dekat rumah. Gie dengan nada menyesal bilang seandainya saja rumah kami berdekatan pasti dia sudah datang duluan untuk membantu bapak. Aku tertawa saat itu.

Kami memang berjauhan. Aku di Sidoarjo, dia di Jember.

Aku tahu dia jago menyetir motor dan mobil. Cara dia menyetir juga enak, nggak bikin jackpot aku yang gampang mabuk darat ini. Entah karena dia emang lihai atau karena akunya yang nyaman-nyaman aja asalkan berdekatan dengan dia. Entah.

Beberapa hari setelah itu, Gie cerita kalau dia menemani dan membantu bapaknya di bengkel. Bapaknya memang punya bengkel dan penjualan sparepart mobil dan motor di dekat terminal kota Jember. Hari itu bapaknya sedang ada urusan, maka Gie yang akan menjaga bengkel untuk beberapa jam ke depan.

Kehebohan dimulai saat ada beberapa orang yang datang untuk membeli sparepart. Gie ini tidak tahu dan tidak mengenali jenis-jenis onderdil motor dan mobil. Hahahaha. Dia menceritakannya dengan nada kesal karena salah terus saat memberikan barang yang diminta. Aku yang mendengarnya tentu saja tertawa terbahak-bahak.

Kesialan belum berhenti sampai di situ. Besok malamnya saat akan keluar untuk ngopi bersama temannya, tiba-tiba motor Gie tidak bisa dinyalakan. Dengan yakinnya dia menelepon temannya dan mengabarkan kondisi itu. Temannya bilang bahwa Gie harusnya coba untuk mengecek busi motornya.

Tahu apa yang terjadi? Ya, dia bingung. Dia tidak tahu bagaimana cara melepas busi saudara-saudara! Hahahahaha. Akhirnya dia mengalah pasrah batal ngopi hanya karena tidak tahu bagaimana cara melepas busi.

Dia meneleponku dan bilang: "Dek, busi itu ngelepasnya diputer, dipukul atau gimana sik?"

Kujawab: "Mas, mas. Kamu tuh ya ngelepas busi aja nggak tahu, kok sok gaya-gayaan menawarkan diri mau bantuin kalo mobil bapakku mogok!"

"Lho, kalo buat calon mertua apa pun akan kulakukan, Dek," balasnya.

...

Sayangnya itu tak akan pernah terjadi lagi ya, Mas. Sampai kapan pun.

~

Saat kami berkenalan dulu, dia sedang terluka. Ada dua luka yang dia pendam. Ya, dipendam. Bukan diobati. Pertama, luka karena ditinggal nikah oleh orang yang dicintainya. Kedua, luka karena orang yang dia sayangi setelah itu malah tidak mau diajak nikah.

Saya hadir setelah mereka. Saya hadir setelah ada dua lubang penuh darah di dirinya.

Dia sering sekali berkata dengan nada bercanda bahwa dia sudah pernah ditinggal menikah. Tapi saya tahu perih seperti apa yang dia rasakan. Saya selalu mencoba mengalihkan topik pembicaraan. Kami membahas buku, membahas puisi, tulisan bahkan pekerjaan kami yang memang sama. Percakapan kami selalu asyik dan selalu ditemani dua cangkir kopi.

Namun percakapan terakhir kami berisi sebuah pertengkaran karena salah paham. Saya si Capri yang keras kepala ini tidak mau mengalah, begitu juga dia si Libra yang merasa dia jauh lebih tahu segala hal daripada saya.

Tak pernah ada lagi percakapan setelah itu. Kami memilih untuk berlari. Ke arah yang berbeda tentu saja. Tapi yang selalu membuat saya gemas adalah entah kenapa jalan kami selalu beririsan. Selalu ada saja satu jalur yang membuat saya dan dia berdiri di titik yang sama.

Mungkin harusnya kami berhenti sejenak, duduk bersama, ngopi mungkin lalu saling meminta maaf agar tak lagi sama-sama menyimpan dendam. Tapi tak bisa, gengsi kami terlalu besar. Kami memang penyembah ego yang baik. Dan ego kami bersabda: 'Untuk apa melakukan itu? Toh kalian sudah kembali ke titik awal, tidak saling kenal'.

Beberapa hari yang lalu, seorang teman bercerita pada saya. Teman itu bertanya pada Gie di sebuah unggahan media sosialnya dengan nada bercanda; 'Sudah pernah ditinggal nikah?'

Dia menjawab: 'Sudah. Dua kali. Yang pertama lima tahun yang lalu. Yang kedua adalah yang menjadi luka terbesar ketigaku,' jawabannya berhenti di situ.

Ya, yang terakhir dia sebut itu adalah saya.