Lara

Hey lara
Ya, kau lara
Yang mendiami relung hati yang paling gelap
Dikutuk dengan stigma yang tak pernah diberi harap

Mental mu baja, melampaui gatot kaca
Darahmu dingin, penuh hasrat memburu panas
Maafkan anganku yang sering lupa dengan sengaja
Tanpamu ku hanya ampas, pengecut nan hina

Dengan ini ku undang kau kemari
Berpesta denganku, bernyanyi dan menari
Izinkanku mengecup keningmu yang mendidih
Biarkan bibirku melepuh, dengan kebencianmu yang berapi api

Sakit, sudah pasti
Biarku pergi menjauh dari dunia yang mati
Dimana para jenazah merasa hidup dengan menyembah harga diri

Lara, oh lara
Inginku bercinta denganmu dineraka
Mencium tangamu, memelukmu erat selamanya
Maafkan kami yang kadang lebih jahat darimu
Yang berlaga bagai Tuhan, padahal tak lebih dari debu

Suram

Ingatan itu masih membekas
Menghantui kepala yang kian keras
Meretas saraf-saraf penyambung nyawa
Menerbangkan jiwa, melampaui dunia waras

Cantiknya senja kian tak berarti
Cerahnya redup perlahan kabur sembunyikan hati

Tingkap tingkap langit seakan tersegel, gelap
Kesunyian menekan degup jantung, kalap

Tawa manis itu pecahkan sunyi
Memutus saraf halus penyambung nadi
Kaburnya pendirian lahirkan ragu
Prinsip kian hilang satu persatu

Keheningan merdu tak lagi syahdu
Cerahnya mentari pun tampak kabur
Seakan arah angin kian tak tertuju
Hempaskan raga, jiwa terbujur kaku

Karma engkaukah itu
Ataukah semua hanyalah halu
Asumsi ramai saling beradu
Mati ku takut hidup pun malu

Ingin mengadu entah kemana
Ingin berdoa, pada siapa
Tuhan tak tampak sibuk menjelma
Jiwaku haus akan cahaya

Embun pagi bagai mendidih
Hanguskan cinta, lahirkan perih
Nyanyian sinden terdengar lirih
Malam mencekam pun tembus pagi

Hiburan adalah lupa
Ingatan goreskan luka
Candaan bagai penista
Senyum penuh paksa

Mata

Bagai panorama, tampil penuh pesona
Raga menggeligis mata terpana
Kepala bermonolog penuh tanya
Tentang kebenaran dibalik sang bunga

Harapan mekar dominasi jiwa
Akal pun maklum, mendukung jua
Wangi mawar merah merona
Warnai hari cerahkan dunia

Tawa, terdengar jauh di kedalaman
Ketika hayal mulai mengobrak abrik pengalaman
Tawa selimuti lara, mendobrak zona nyaman
Hantarkan iblis, yang berbisik dalam keheningan

Cerah, perlahan sirna, gelapkan hari
Indah, hanya alibi, bohongi hati

Luka, menganga, jiwa, meronta
Ukiran pena, sarat derita. 

Harapan terbakar, kebingungan mengakar
Akal pun maklum, hati gemar menampung racun
Merah merona, amis darah
Gelapkan hari, suramkan dunia

Bagai bencana, hadir tumpahkan darah
Raga menggigil, mata membuta
Kepala penuh sesak, teriakan putusnya asa
Tentang kehancuran dari yang fana

Sastra Hama

Kita punya banyak orang pintar, katanya
Sejak cendana berkuasa, hingga ditumbangkan mahasiswa
Demikian mereka selalu berkata

Kita punya banyak orang pintar, sepertinya
Gedung yang mengejar angkasa buktinya
Sistem mapan yang kian awet saja
Banyak pula dari mereka yang menipu rakyat biasa
Saking pintarnya

Bukan cercaan ilmiah yang ingin ku papar
Lagipula ku bukan widji thukul, yang gemar mengutuk si pintar
Aku hanya bocah penghayal, ditengah-tengah perang yang takan pernah kumenangkan
Berteriak ditengah kerumunan yang masa bodo dengan rumahnya yang terbakar

Kedipan mata, tidak lagi sepenuhnya hiperbola
Kedipan mata, seperti tanda yang membedakan masa lalu, dengan masa kita
Mengerti, dalam kedipan mata, kini hal yang nyata
Dibodohi, dalam kecepatan cahaya, kini hal biasa 

Tawaku sunyi, terselubung oleh senyum yang rapi
Ketika ilmu menghianati kebenaran terekam oleh mata hati
Saat wewenang, memaksa akal sehat melecehkan nurani
Bersandiwara dalam dunia yang mati

Panggungku adalah tanah yang pecah
Rumput kering makanan kuda
Terpapar panasnya semangat, yang terkubur dengan nisan tak bernama

Api ini tak terbendung. saudara
Tak kuat ku menahan dadaku yang dibakar olehnya
Ludahku mendidih tak mampu kutelan
Tenggorokanku hancur, digerogotinya perlahan

Disini, di dalam lebatnya rimba manusia
Bagai pelacur penderita kencing nanah
Aku menjajal keperawanan sastra hama
Mengusik tanaman sang raja
Yang menyesatkan cinta pada arah yang salah

Bulan

Bulan tak kunjung hadir
Untuk pertama kali gerhana berlangsung 10 hari
Teringat sinar pucatnya yang kelabu
Tadinya ku acuh, kini ku rindu

Hilangnya datangkan gelap
Selimuti malamku hingga terlelap
Hening masih rutin bernyanyi
Ramaikan sunyi, leburkan sepi

Tiba waktunya ku harus berlari
Tanpa remangnya bulan
Tersandung oleh batu, sudah berkali-kali
Kali ini semakin sering, akibat sinarnya yang lama tak kunjung kembali

Tidak Ada

Semalaman ku berhayal
Tentang beberapa hal yang mendatangkan sial
Perlahan ku mulai sadar
Hayalku sendiri mendatangkan sial

Seharian ku berjalan
Mondar mandir di pesisir pantai
Merenungi ombak dan laut yang tak terpisah
Seperti wanita dan luka yang menganga

Malam ini ku tak sekedar menghayal
Hingga menyadarinya pun tak butuh waktu semalaman
Bahwa ombak itu tidak ada
Yang ada hanya laut yang membentang

Entah apa yang mereka duga
Apa yang menyumbat telinga mereka
Ramainya hinaan dengan mudah mereka terima
Merdunya nyanyian alam tak mampu mereka cerna

Santai, kataku pada diriku
Sebelum ku menyadari kenyataan tentang tubuhku
Bahwa aku hanyalah ombak
Bukan laut yang membentang

Bodohnya aku, sama seperti mereka
Dengan mudah menuduhnya sunyi, padahal aku hanya tak mampu mendengarnya