Saya dan teman non-Muslim saya sangat terbuka dalam obrolan agama. Kita berpendapat bahwa perbedaan kita sudah sepatutnya dibicarakan saja, alih-alih dihindarkan. Seterbiasa itu kita bicara tentang beda keyakinan, sehingga rasanya sulit untuk merasa tersinggung satu sama lain.

Hal tersebut juga berlaku saat menonton cuplikan film azab yang sedang viral mengenai mayat yang masuk truk cor-coran dan tersambar meteor. Saat menonton cuplikan film itu, teman non-muslim saya berkomentar, “Untung mayatnya Islam, jadi pas kelempar masih ketutupan kain kafan. Coba Kristen! Masa sudah didandan rapi-rapi malah keputer truk melon?”

Saya tahu celetukan itu murni bercanda, namun saya tergelitik untuk mengambil alih obrolan dari bahan candaan itu. Saya tanyakan padanya, “Kamu gimana sih melihat Islam kalau nonton film begini?”

“Kocak aja. Ada gitu yang tega bikin becanda agamanya sendiri sampai kayak gini.”

Dari potongan percakapan itu saya punya sedikit keresahan mengenai industri ide yang diolah oleh televisi, khususnya mengenai film azab yang tidak masuk akal ini.

Pertama, tentang film dengan skenario menggelikan yang bisa saja ditayangkan oleh televisi.

Saya paham menulis itu melelahkan. Ibarat kita sudah pusing dengan banyak bintang di kepala, masih saja dituntut usaha untuk menyusunnya dalam sebuah konstelasi agar dapat dimengerti. Setelah tersusun, bahkan kadang hasil yang didapat tidak sesuai dengan lelahnya upaya dalam melahirkan sebuah tulisan. Tapi, apakah rasa lelah itu lantas mengizinkan seorang penulis untuk menghasilkan skenario minim logika? Sebegitu sulitkah duduk sedikit lebih lama di depan monitor untuk merancang sebuah cerita yang layak? Bukankah itu tugas agung seorang penulis?

Seorang guru di kelas menulis saya pernah menasehati kami semua agar selalu menulis dengan pertimbangan bahwa audiens adalah orang cerdas yang serba tahu. Dan kenyataannya memang begitu. Sebagai audiens, tidakkah kita selalu merasa bahwa kita yang paling tahu? Maka jangan sekali-kali menulis dengan asumsi audiens kita bisa dibodohi, sehingga dengan demikian kita akan selalu terdorong untuk melahirkan tulisan yang layak.

Tapi kenyataannya, tanpa bersusah payah menyusun tulisan yang logis pun, skenario sembarangan bisa begitu saja difilmkan dan bahkan tayang di televisi. Mungkin saya memang kurang paham, tapi apakah tidak ada sumber daya di dalam tubuh instansi pertelevisian negeri ini yang mampu menyaring skenario yang pantas untuk difilmkan? Sebegitu kurangkah ide untuk bisa dikembangkan menjadi cerita yang baik?

Kedua, tentang mayoritas penonton televisi.

Masifnya penggunaan internet yang berdampak pada revolusi media, telah membuat banyak kalangan mampu memilih sendiri tontonan yang sesuai untuk mereka konsumsi. Mereka tidak lagi hanya duduk menerima semua yang disajikan televisi. Meski begitu, tidak semua kalangan mampu memperoleh privilese untuk memilih tontonan. Mereka yang tidak mendapat kesempatan inilah yang mayoritas masih menjadi penonton setia televisi.

Selain karena minimnya kemungkinan untuk memilih tontonan, mayoritas penonton televisi mungkin saja dari kalangan yang tidak begitu ambil pusing dengan apa yang mereka tonton. Bisa saja mereka memilih mengurusi prioritas lain yang lebih mendesak ketimbang memikirkan kualitas hiburan. 

Maka dari itu, mereka tidak berkeberatan dengan tontonan yang ditayangkan televisi, sejauh mereka masih merasa terhibur. Tapi, apakah hal itu membenarkan pihak televisi untuk menomorduakan kualitas tayangan? Rasanya tidak, karena semua orang layak mendapatkan tontonan berkualitas.

Dalam kondisi ideal (atau utopis), dengan adanya persaingan penonton melawan platform daring, tidakkah semestinya pihak televisi merasa harus memperbaiki kualitas tayangannya agar bisa merebut kembali hati pemirsanya? Tapi nyatanya tidak. Pihak televisi sepertinya lebih suka mengikuti saja keinginan mayoritas penonton, tanpa peduli kualitas dan dampak sosialnya.

Ketiga, tentang dampak sosial yang ditimbulkan oleh film azab yang serba melebih-lebihkan.

Saya percaya semua bentuk kesenian mengemban tanggung jawab untuk membangun masyarakat, termasuk film. Idealnya pihak televisi, yang dianugerahi daya siar luar biasa, semestinya mampu menjadi agen pembentuk budaya yang signifikan. Pihak televisi bisa saja menambahkan vaksin nalar ke dalam konsumsi hiburan masyarakat sehingga penontonnya dapat tumbuh cemerlang. 

Tapi, demi memperbanyak porsi komersil, instansi pertelevisian lebih memilih menyuapi saja para penonton dengan bahan seadanya, tanpa memikirkan matang-matang sakit apa yang bisa diderita pemirsanya akibat konsumsi bergizi buruk tersebut.

Saya paham film dengan skenario ganjil ini sebenarnya ingin menyampaikan pesan kebaikan untuk tidak zalim terhadap sesama manusia. Mulia memang. Tapi tidak bisakah pesan itu dibungkus dalam kemasan yang lebih mumpuni? Jika memang harus dibungkus dalam kemasan religius, tidak bisakah pesan itu dituliskan dalam sebuah skenario yang lapang? 

Islam tidak melulu tentang azab, seakan Allah hanya tahu menghukum. Islam juga tidak menormalkan siksaan Allah, hingga kita lupa bahwa Dia Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Tidakkah lebih damai rasanya jika sisi kasih dan sayang ini yang kita eksplorasi? 

Saya percaya melalui kebaikan Allah, pesan mulia itu bisa dikemas dalam berbagai bungkusan yang indah, warna-warni, dan tidak mengkhianati, jika kita mau mengusahakannya dengan hati.

Jika kembali pada pembicaraan saya dan teman non-Muslim saya di atas (walau pun tidak representatif), maka film azab menggelikan ini tampaknya sudah menjauh dari definisi religius yang ingin disuarakan. 

Rasanya akhir-akhir ini banyak yang sudah begah dicekoki tanpa henti dengan isu agama, khususnya Islam. Saya sendiri sudah cukup jengah saat agama dijadikan jualan politik dalam beberapa tahun ke belakang (dan mungkin juga ke depan). 

Sebagai muslim, saya juga lelah dengan pelarangan vaksin atas nama agama. Belum lagi isu poligami yang harus membuat saya menalarkan keyakinan saya sendiri, agar dapat membantu menjawab sekiranya ada teman non-Muslim yang ingin mengetahuinya. Maka tidak perlulah film azab bertopeng religius ini ikut pula berkontribusi pada isu agama yang semakin membuat frustrasi.

Reaksi warganet di media sosial rasanya bisa dijadikan acuan atas film azab yang tidak bisa diterima akal tersebut. Jika kita mau sedikit saja mengetuk kesadaran diri, sungguh ramai-ramai warganet merespons film itu adalah sebuah bentuk sarkas yang jauh dari memuji. 

Sarkasme menjadi bentuk penyaluran dari rasa putus asa mereka karena tidak tahu lagi harus menggugat ke mana. Jika pihak televisi mau sensitif dengan reaksi ini, seharusnya sudah ada bagian-bagian yang mulai berbenah mengevaluasi tontonan mana yang layak dan tidak layak ditayangkan.

Dan kepada lembaga yang berwenang akan hak siar, saya paham akan adanya hak akan kebebasan berekspresi. Tapi toh sensor tetap berlaku. Apakah tidak boleh jika kita menerapkan sistem yang sama pada tayangan yang dirasa tidak mampu melewati seleksi kualitas? 

Mengingat dampak negatif yang berpotensi timbul, tidakkah rasanya sensor itu lebih layak diterapkan pada sisi kualitas ketimbang dipakai untuk mengaburkan bikini yang dikenakan oleh teman tupai Spongebob?