2 tahun lalu · 178 view · 7 menit baca · Cerpen sunset-sailing-boats-sea-69395.jpeg
“Sekurang-kurangnya, ceritakanlah kepadaku dan anakku tentang saat-saat ketika kau menantikan aku kembali. Aku mohon. Untukmu, untukku, dan untuk anakku.”

Tentang Dirimu yang Berlayar ke Timur

Aku tidak tahu apakah kau masih ingat pertemuan pertama kita. Kala itu kau masih begitu belia. Ya, sungguh belia karena aku ingat ketika itu kau masih berada di gendongan bahu ayahmu. Ah, aku baru ingat. Kau tak mau diingatkan barang sebiji pun tentang ayahmu, bukan? Karena bagimu, ayahmu adalah pangkal utama dari putaran nasib yang memisahkanmu dariku; impianmu, kenanganmu.

Ketika itu kau terkagum dengan diriku. Aku, tidak seperti sekarang, masih sangat gemulai dalam menari. Tubuhku masihlah berkilau jika sinar sang surya menerpa. Ingatkah engkau ketika aku sering melambai kepadamu ketika angin dengan halus membelai kita berdua?

Ah, kau masih sangat muda. Semuda para bocah-bocah belia pada umumnya yang dengan lugunya tertarik pada gemulai gerakanku.

Namun tidak seperti bocah-bocah itu, yang hanya terkagum melihat diriku yang dengan indahnya menari bersama angin, kau memandangku dengan tatapan yang lain. Ada sesuatu di matamu yang seakan tahu akan sejarahku, akan jiwa yang dipatri dalam setiap urat-urat tubuhku.

Dengan bantuan ayahmu—ah, lagi-lagi aku menyebut ayahmu—kau berusaha untuk meraihku. Dengan tangan-tangan kecilmu, kau mencoba untuk menyentuh sudut tubuhku yang masih menari-nari. Betapa aku ingin menghentikan tarianku di kala itu! Jika bukan karena tubuhku yang memang ringan sehingga sehembus angin saja sudah membuatku menari, sungguh sudah kuserahkan diriku kepadamu ketika itu.

Namun, ingin juga aku melihat usaha seorang bocah kecil untuk menggapaiku. Ingin kulihat seberapa kuatnya tekadmu untuk bisa menyentuhku yang terus menari. Dan sudah kuduga, kau pada akhirnya berhasil meyentuh ujung tubuhku. Dan kau tertawa bahagia seakan kau baru saja memenangi suatu hadiah yang besar dan membahagiakan.

Pada saat itu, kau sudah menjadikanku impianmu.

Lalu waktu berjalan dengan gemulai semenjak dari saat itu. Di lapangan ini, di tempat orang-orang berkumpul dan berlalu lalang, masih kulihat dirimu sesekali memandangku dan tersenyum kepadaku. Betapa aku ingin tersenyum balik kepadamu saat itu!

Namun, Tuhan tidak menakdirkanku untuk bisa tersenyum, aku hanya bisa membalasmu dengan sebuah tarian yang membuatmu semakin tersenyum bangga. Ketika itu kau sudah terlihat lebih tua dan jantan dari bocah laki-laki yang digendong ayahnya saat itu.

Tubuhmu sudah lebih tegap, dan tatapanmu tidak saja dalam, namun kuat. Sama seperti orang-orang dahulu yang pernah berada di sisiku dan menjunjungku hingga ke langit. Pada saat itu bisa kulihat sebuah suratan takdir tentang dirimu; bahwa engkau akan menjadi salah satu dari mereka.

Waktu semakin berjalan, dan ramalan takdir itu pun terbukti. Kau, beserta beberapa pemuda-pemudi lain yang memiliki keteguhan setara dengan dirimu, akan dengan gagahnya menjadi mereka yang akan menjunjungku. Dan dirimu, ah, dirimu.

Keteguhan dan kekuatanmu menjadikan orang-orang percaya pada dirimu bahwa kau adalah orang yang paling sesuai untuk berdiri di barisan depan; tempat bagi mereka yang diberikan kehormatan khusus untuk menjunjungku secara langsung. Dan dirimu, ah, dirimu. Kaulah yang akan membawaku ke langit, menantang surya.

Begitulah terus sehingga lima tahun lamanya. Dari beberapa pemuda-pemudi itu, engkaulah yang peduli dengan diriku. Aku ingat tentang hari itu, suatu hari yang deras hujannya. Di kala mereka—kawan-kawanmu—berada dalam keteduhan, kau berlari menuju tempatku berdiri.

Dalam derasnya hujan, kau turunkan aku dengan lembut, lalu kau bawa menuju keteduhan. Lalu, setahun sekali dalam lima tahun itu, selalu kau bawa aku menantang sang surya. Kepadaku, dengan hatimu, kau bisikkan kata-kata bahwa aku lebih agung dari sang surya. Dan kau berjanji untuk akan terus berada di sisiku, menjunjungku.

Begitulah kenangan manis yang kuingat, apakah kau masih ingat?

“Nusa dan keluarganya akan berlayar ke timur!”

“Nusa? Anak Paskibra itu?”

“Iya!”

“Lalu, siapa nanti yang menggantikannya? Dari anak-anak Paskibra itu, dia yang paling hebat! Dia juga yang paling disiplin! Susah nanti kalau anak sehebat dia harus pergi!”

Begitulah ocehan-ocehan orang yang kudengar. Tanah di seberang laut. Banyak yang bilang kalau negeri yang penuh berkah ini sudah dikutuk oleh Tuhan karena sifat orang-orangnya, baik penguasa maupun rakyat, sudah sangat bejad. 

Maka, mereka yang masih ingin bersih jiwanya hijrah ke sebuah tanah yang bisa dicapai dengan berlayar menyeberangi lautan dan menuju ke arah timur. Beberapa orang menyebut tanah itu Negeri Seberang, dan beberapa menyebutnya Tanah di Ufuk Timur. Tanah yang menjanjikan harapan.

Ucap orang-orang, kau dan keluargamu akan pergi kesana. Ayahmu yang memprakarsai keputusan itu. Orang-orang bilang, sering terdengar pertengkaran antara dirimu dan ayahmu. Aku tidak tahu sebenarnya akan apa yang terjadi, atau apa keputusan yang akhirnya diambil oleh keluargamu. 

Lagipula, aku tidak memiliki mata untuk menangisi apapun keputusan yang kau ambil. Namun, bisa kurasakan tarianku semakin lemah, mengikuti semakin jarangnya kau bertemu denganku. 

Di hari-hari hujan, kau bukan lagi lelaki yang akan membawaku menuju keteduhan. Adalah orang lain yang mengurusku semenjak kabar tentang dirimu yang akan berlayar ke seberang itu beterbangan dari mulut ke mulut. Ah, sungguh ketika itu aku rindu padamu.

Hingga pada satu malam. Sebulan sebelum hari dimana kau akan membawaku menuju keagungan langit seperti tahun-tahun kemarin. Kau datang ke tempat aku berdiri, kau turunkan aku, lalu kau peluk tubuhku. Lalu, air mata perlahan menuruni wajahmu yang teguh.

“Aku masih ingin bersamamu…”

 Aku juga.

 “Tapi aku harus berlayar, Ayah memutuskan itu…”  

 Aku tahu.

 “Tapi aku berjanji, aku akan kembali suatu hari! Aku… akan kubawa kau menuju keagungan lagi…! Tolong, percayalah padaku!”

Akan kutunggu dirimu.

Banyak sekali kata-kata perpisahan dan tangisan janji yang kau utarakan kepadaku. Ah, betapa aku berharap aku bisa membalasnya ketika itu! Namun Tuhan menakdirkanku untuk tetap kaku, menjadi pendengar dari segala tangismu. Andai saja aku memiliki sepasang mata yang juga bisa mengeluarkan air mata, sungguh aku ingin menangis juga di kala itu.

Dirimu, si bocah kecil yang membawaku menantang matahari, akan berpisah denganku. Namun aku tahu bahwa dalam suatu perpisahan, orang yang ditinggal akan dihinggapi kesepian dan orang yang meninggalkan akan merasakan kesendirian.

Sejak saat itu, tidak kulihat dirimu, dan tidak kudengar kabarmu. Bahkan di hari dimana kau biasa membisikkanku bahwa aku lebih agung dari sang surya, kau tidak ada. Adalah orang lain yang menaikkanku, seorang perempuan yang ayu wajahnya.

Perlu kuakui bahwa ia juga seseorang yang baik hati, namun tidak sepertimu yang menganggapku sebagai kawan dan impianmu, ia hanya menganggapku sebagai sebuah benda pusaka.

Mungkin itulah takdir Tuhan. Selama bersamamu, aku menjadi tinggi hati, padahal memang dari awal aku dilahirkan, aku memang hanya ditujukan sebagai benda pusaka oleh wanita yang melahirkanku. Namun salahkah jika aku merasa bangga jika ada seseorang yang mau menjadikanku impiannya?

Bertahun-tahun setelah itu, aku sudah semakin kusam. Semenjak kau pergi, orang-orang menganggap bahwa tidak apa kiranya jika aku tertimpa hujan. Begitu seterusnya. Hingga hujan membuat tubuhku tidak lagi sejernih dulu; putihku yang dulu mampu memantulkan sinar matahari kini sudah kekuningan, dan merahku yang dulunya begitu jernih berani kini sudah kecokelatan. Lalu mereka membawaku menuju gudang di sudut lapangan.

Pada saat itu, masa baktiku sudah berakhir. Dan kau tahu apa? Ketika dua orang pemuda memasukkanku ke gudang, kudengar tentang dirimu.

“Apa kata Nusa nanti kalau balik kesini dia?”

“Tak mungkin balik dia…”

“Lah, mengapa pula?”

“Sekarang dia sudah jadi orang Malaysia! Kau tak tahu? Dia menikah sama orang Melayu disana, dan ikut kewarganegaraan istrinya.”

“Walah, mantan Paskibra itu… bagaimana pula ceritanya?”

“Kalau aku tak salah, dua tahun setelah pindah kesana, ayahnya jatuh sakit. Nusa sebagai anak tertua jadi kepala keluarga, berhenti sekolah, dan akhirnya cari kerjaan. Dapat kerjaan dia, lalu dapat pula kepercayaan dari pemimpinnya.

Pemimpinnya itu punya anak gadis yang dijodohkan dengan Nusa dengan janji bahwa ia akan jadi warganegara Malaysia dan diangkat derajat kehidupannya. Ayahnya akan ditanggung biaya penyakitnya. Ya jelaslah kurasa, jika Nusa akhirnya memilih jadi orang sana.”

“Yah, itulah kehidupan. Arusnya terkadang membuat seseorang harus mengorbankan hal-hal yang paling ia impikan.”

Pria berumur tiga puluhan datang ke sebuah lapangan yang kini hanya berupa tanah merah. Ia ditemani oleh anaknya yang berusia sekitar sepuluh tahunan. Ia perhatikan lapangan kosong itu, dan menggeleng kepalanya. Air wajahnya yang awalnya tidak menunjukkan apa-apa kini terlihat mengeruh.

Matanya lalu tertumpu kepada sebuah gudang yang terletak di sudut lapangan. Air mukanya menegang. Seakan berharap, ia menuju gudang itu. Ia buka pintu gudang itu, lalu berubah kembali air mukanya; raut kekecewaan dan kesedihan yang mendalam. Penyesalan.

            Matanya tertumpu kepada sebuah bendera merah putih yang sudah sangat kusam dan banyak robekannya. Bendera yang sudah sangat menyedihkan keadaannya. Ia ambil bendera itu, lalu ia peluk kuat-kuat. Anaknya yang masih disampingnya hanya bisa bingung melihat tingkah ayahnya. Sang lelaki lalu mengalihkan pandangan kepada anaknya, lalu memeluknya bersama bendera itu. Perlahan, ia membisik kepada anaknya.

“Ini adalah impian ayahmu ini dulu, Nak. Juga ingin  Ayah jadikan ini impianmu. Namun, kini segalanya sudah tidak mungkin.”

“Memangnya apa ini, Yah?” tanya anaknya itu lugu.

“Kenangan terindah Ayah di negeri ini.”

Lelaki itu lalu meletakkan bendera itu di tempat ia mengambilnya, lalu bersimpuh di depannya. Setengah membisik, ia berkata-kata dengan mata berkaca-kaca.

“Sekurang-kurangnya, ceritakanlah kepadaku dan anakku tentang saat-saat ketika kau menantikan aku kembali. Aku mohon. Untukmu, untukku, dan untuk anakku.”

Artikel Terkait