Copywriter terlibat dalam pembuatan berbagai bentuk iklan dan materi promosi. Berbagai macam materi promosi, bukan yang hanya sering kita lihat di media. Bahkan banyak iklan atau materi promosi yang tidak pernah kita lihat. Kita cenderung hanya memikirkan kampanye paling terkenal untuk brand-brand mapan: iklan yang kita lihat disiarkan di saluran televisi utama, disisipkan ke papan reklame besar atau tayang via YouTube.

Copywriter tidak bekerja sendirian dalam membuat iklan. Dalam sistem kerja traditional advertising agency, copywriter dipasangkan dengan seorang art director. Jika copywriter bertugas untuk menyampaikan pesan sebuah iklan atau materi promosi melalui kata-kata, art director yang akan mengolah visualnya.

Cara kerja mereka sangatlah dinamis dan luwes. Artinya, tidak selamanya copywriter hanya bertugas mencari kata-kata. Ia juga dapat membantu memikirkan visual. Begitu juga dengan seorang art director dapat membantu membuat headline. Pada praktiknya, banyak copywriter yang sangat visual driven dan banyak juga art director yang pintar bermain kata-kata.

Ada banyak sekali materi iklan atau promosi yang membutuhkan masukan kreatif dari copywriter. Bukan hanya di biro iklan saja kita dapat menemukan copywriter.

Keterampilan copywriter juga terlibat dalam banyak tempat lain. Tugas mereka tetap membuat dan membuat teks untuk berbagai macam materi promosi dan pemasaran. Misalnya saja, biro PR, konsultan pemasaran, graphic house, digital marketing agency dan lain-lain. Bahkan, brand owner sendiri juga sering menggunakan jasa copywriter untuk membuat materi-materi promosi dalam berbagai media.

Iklan membawa banyak pesan ke sejumlah khalayak sasaran yang berbeda. Kita juga sepakat bahwa iklan adalah suatu bentuk komunikasi. Iklan mengikuti alur komunikasi dan juga berkomunikasi secara semiotika. Ada pesan yang ingin disampaikan dalam iklan. Ini adalah bagian penting dari pekerjaan copywriter profesional untuk memastikan pesan tersebut berhasil disampaikan.

Menyampaikan pesan melalui kata-kata dan visual. Itulah tugas utama tim kreatif dalam marcomm atau lebih spesifik, periklanan. Copywriter dan art director harus bekerjasama mencari cara kreatif dalam penyampaian pesan tersebut. Kata-kata dan visual bukan saling bersaing tapi harus saling melengkapi, sehingga pesan dari iklan atau materi promosi tersebut dapat tersampaikan dengan sejelas-jelasnya.

Copywriter iklan bertugas untuk menyampaikan pesan dan meyakinkan orang melakukan tindakan tertentu, apakah itu ajakan mencoba pisau cukur baru, untuk menyadari bahaya narkoba atau untuk menyumbangkan uang ke badan amal. Di situlah tantangan seorang copywriter. Pekerjaannya yang begitu dinamis karena mengerjakan berbagai macam jenis brand, produk, atau jasa.

Lalu, ia juga bekerja untuk menyampaikan pesan ke berbagai khalayak sasaran, dengan berbagai macam media yang berbeda pula. Ditambah lagi, ia dituntut untuk hadir dengan ide-ide yang kreatif dan orisinal.

Dengan begitu dinamisnya pekerjaan seorang copywriter, maka mau tidak mau ia harus selalu siap untuk menuangkan ide-idenya, terutama melalu tulisan atau kata-kata. Tidak jarang seorang copywriter sedang merasa tidak mood pada saat pekerjaan datang dan deadline semakin dekat.

Seorang copywriter bukanlah seorang seniman kata seperti misalnya penulis novel, penulis puisi atau penulis lagu. Ia bekerja dengan deadline yang ketat. Ia dituntut untuk segera menulis meski merasa tidak mood atau mentok dalam penulisan.

Salah satu cara dalam menghadapi hal seperti tidak mood atau mentok ini adalah paksakan menulis. Menulis apa saja. Tidak perlu dipikirkan apakah tulisan itu baik atau buruk. Yang penting adalah menulis dan menulis. Setelah mood kita mengalir kembali atau sudah mendapat ilham, baru kita lihat kembali tulisan tersebut. Bagian mana yang perlu diedit.

Selain menulis untuk memersuasi khalayak sasaran dengan menonjolkan benefit atau USP dari suatu produk atau jasa, copy dalam iklan biasanya diharapkan untuk menciptakan respons yang lebih kompleks di antara penonton atau khalayak sasaran. Respons tersebut memunculkan persepsi dengan melibatkan emosi audiens.

Emosi audiens adalah kekuatan dalam memainkan peran bagaimana mereka berperilaku sebagai konsumen produk dan layanan. Copy dalam iklan sangat membantu untuk melahirkan sebuah emosi yang diharapkan, apakah emosi gembira, sedih, marah, dan lainnya.

Kata-kata dalam iklan dapat membuat sebuah iklan seakan berbicara langsung kepada sasaran. Apalagi jika si copywriter sangat paham akan insight dari konsumen yang dituju.

Pengenalan khalayak sasaran atau audiens lagi-lagi menjadi sangat penting. Langkah pertama dalam menulis copy baik untuk media digital maupun non digital adalah meneliti audiens dan memahami apa yang mereka inginkan. Mudahnya, kita harus berkenalan dulu dengan audiens. Berkenalan bukan sekadar tahu nama, tapi lebih dalam dari itu.

Sebaiknya kita sebagai penulis tahu siapa audiens tersebut secara mendalam. Ibaratnya, seperti mengenali calon pasangan. Kita pasti ingin tahu secara mendalam siapa calon pasangan tersebut. Siapa namanya, di mana tinggalnya, berapa umurnya, apa kerjanya, dan sebagainya. Kita juga ingin tahu apa hobinya, apa cita-citanya atau mimpinya, apa yang membuatnya senang dan juga sedih, dan seterusnya.