98953_46336.jpg
Foto: World Atlas
Lingkungan · 8 menit baca

Tentang Cita-Citarum

Siapa bilang sungai Citarum tidak bisa diminum? Bisa diminum kok, tapi setelah itu meninggal.

Begitulah tanggapan seorang warga yang tampak pesimis akan Citarum yang baik dan bersih. Tahun telah berganti, namun kondisi Citarum masih saja begini. Masih saja menyandang predikat sungai paling menderita sedunia, sungai paling kotor, sungai paling tercemar. Predikat ini menampar Indonesia berkali-kali. Saya juga merasa tertampar.

Warna-warni, bahkan 9 hingga 10 warna berganti yang menghiasi Citarum sama sekali bukan warna keindahan, melainkan warna bahan kimia berbahaya. Ini seolah dilupakan oleh pemilik pabrik dan pembuang limbah berbahaya ke induk juga anak-anak sungai Citarum yang sama sekali tak merasa bersalah.

Kandungan zat berbahaya air sungai Citarum membuat tanaman dan hewan yang berkembang di sekitaran sungai menjadi tidak layak dikonsumsi. Bahkan untuk cuci tangan saja, air sungai Citarum masih tak jauh dari kata menjijikkan.

Banyaknya sampah, kondisi dengan bau busuk, buih yang menyerupai lautan, hingga gelinangan lumpur menjadi pemandangan biasa. Bahkan meluapnya sungai Citarum dianggap sama seperti haid perempuan yang datangnya dipersiapkan setiap bulannya, hitungan tahun, hingga mereka memilih untuk bersiap daripada menanggulangi.

Bagaimana bisa minum air ini? Menyentuhnya saja sudah jijik.

Sumber foto: viva.co.id

Citarum yang malang, Citarum yang menjijikkan, padahal Citarum telah memberi banyak kehidupan dan penghidupan. Sampah kiriman yang datang juga lumpur seolah tak pernah berhenti. Dibersihkan, datang lagi.

Jika saja banjir yang datang bisa dipunguti, mungkin warga sekitar Citarum tak akan mengeluh sepanjang tahun. Banyak yang telah mengulas kondisi buruk Citarum. Tulisan ini hanya mengingatkan bahwa Citarum lebih dari sekadar memprihatinkan.

Sungai ini telah dipenuhi oleh limbah dari hampir sembilan juta manusia serta hasil sisa pembuangan pabrik. Air yang tak lagi jernih dipenuhi sampah yang mengapung.

Sungai ini menampung sisa pembuangan dari 500 pabrik yang kebanyakan menghasilkan tekstil dan zat kimia. Belum lagi limbah dari warga yang dengan bebas membuang sampah dan hasil pembuangan dari tubuhnya. Semua menumpuk jadi satu di sungai sepanjang 300 kilometer di Pulau Jawa ini.

Saking rapatnya sampah yang ada di sungai Citarum, hingga permukaan air tak lagi terlihat. Adanya perahu kecil yang mengapung di atasnya menjadi satu-satunya pertanda bahwa tempat tersebut adalah sungai, seperti dilansir oleh Oddycentral (21/07).

Jika perahu ini tetap diam di sekitaran sungai Citarum, maka dalam sehari saja, perahu ini akan jadi sarang sampah, sarang limbah, hingga sarang nyamuk.

Tak ada lagi para nelayan yang mencari ikan. Orang yang datang ke Citarum lebih mungkin mencari sampah atau rongsokan yang bisa dijual kembali, seperti botol plastik, kayu, atau benda lainnya. Citarum berwajah suram dari tahun ke tahun.

Program terakhir yang digaungkan pada 2013, Gerakan Citarum Bersih, Sehat, Indah dan Lentari (Bestari) meleset dari target yang prestisius. Harapannya, di 2018, air Sungai Citarum dapat diminum. Tetapi, sampai saat ini kualitasnya belum memenuhi baku mutu air yang telah ditetapkan, sehingga tidak memungkinan untuk dikonsumsi.

Cita-cita luhur Citarum memang sempat digaungkan dan akhirnya gagal. Namun, kita tidak bisa berpasrah. Mendukung cita-cita Sungai Citarum yang harum adalah keharusan. Tidak mungkin bisa membiarkan jutaan manusia bergantung pada air sungai yang membahayakan ini.

Citarum yang Pernah Harum

Tentang Citarum, ini bukan hanya soal air bersih atau air cuci mulut, cuci badan, atau cuci kehidupan. Citarum adalah soal peradaban yang harus dikembalikan seperti sedia kala. Citarum tidak ingin dikenang sebagai tumpukan sungai mati dengan sampah menggenangi dan sejarahnya dilupakan.

Mengingat kejayaan Citarum tentu bisa menjadi motivasi untuk membangun Citarum yang harum. Motivasi itu penting dalam diri setiap individu yang merasa bahwa air, sungai, dan ekosistemnya harus dilestarikan.

Citarum adalah sungai terpanjang dan terbesar di Provinsi Jawa Barat dengan aliran sepanjang 297 km. Sungai yang hampir membelah Jawa Barat ini bersumber dari mata air Gunung Wayang (sebelah selatan Kota Bandung), mengalir ke Utara melalui Cekungan Bandung dan bermuara di Laut Jawa. 

Citarum berasal dari dua kata, yaitu Ci dan Tarum. Ci atau dalam Bahasa Sunda Cai, artinya air. Sedangkan Tarum (Indigofera spec.div) merupakan jenis tanaman yang menghasilkan warna ungu atau nila yang digunakan sebagai bahan pencelup alami pada kain tradisional.

Menurut catatan sejarah pada abad ke-5, bermula dari Jayashingawarman membangun sebuah dusun kecil di tepi Sungai Citarum yang lambat laun berkembang menjadi sebuah kerajaan besar, yaitu Kerajaan Tarumanegara. Kerajaan Tarumanegara yang dikenal sejarah sebagai kerajaan subur dengan pertanian yang melimpah ruah. Ini berkat air sungai Citarum yang berjasa di masanya.

Citarum juga Sungai Purba. Berhulu di Gunung Wayang Kabupaten Bandung (1.700 m dpl) melewati dasar cekungan dan mengalir menuju Waduk Saguling, kemudian bermuara di pantai utara Pulau Jawa, tepatnya di Kabupaten Karawang.

Citarum Melewati Cekungan Bandung. Cekungan Bandung merupakan cekungan (basin) yang dikelilingi oleh gunung api dengan ketinggian 650 m dpl sampai lebih dari 2000 m dpl. 

Sekitar 105.000 tahun yang lalu, Citarum terbendung oleh letusan dasyat Gunung Sunda yang kemudian membentuk Danau Bandung Purba. Makin lama, paras air danau makin tinggi—diketahui sekitar 36.000 tahun yang lalu paras danau tertinggi mencapai 725 m dpl.

Letusan Gunung Tangkubanparahu (anak Gunung Sunda) materialnya melebar ke Selatan hingga ke dekat Citarum di sekitar Curug Jompong sekarang. Materialnya kemudian mengisi lembah-lembah yang menyebabkan danau raksasa tersebut terbelah menjadi dua, yaitu Danau Bandung Purba Barat dan Danau Bandung Purba Timur.

Citarum juga saksi sejarah ditemukannya berbagai fosil. Fosil Binatang Purba seperti Gajah (Elephas Maximus), Badak (Rhinocerus Sondaicus) dan tapir (Tapirus Indicus) serta gigi Kuda Nil (Hippopotamus) juga pernah ditemukan kawasan Rancamalang, Cipeundeuy, dan kawasan Cekungan Bandung lainnya. Ini menjadi bukti bahwa di sekitar kawasan Danau Bandung Purba pernah dihuni oleh hewan-hewan purba.

Yang mencengangkan, kawasan Sungai Citarum adalah bekal sejarah untuk anak bangsa di mana teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 1945 disusun di sebuah rumah yang terletak di bantaran Sungai Citarum di Rengasdengklok, Kabupaten Karawang di rumah seorang Tionghoa, Djiaw Kie Siong. Apakah kawasan ini akan tetap menjijikkan mengingat begitu banyak kenangan sejarah yang bisa memperkuat persatuan Indonesia?

Potensi Citarum yang Terpendam 

Menjijikkan, kotor, penuh sampah, paling kotor, bahkan sungai pembuangan adalah predikat-predikat yang harus dihilangkan dari Sungai Citarum. Waktunya bagi generasi kini membangkitkan potensi Citarum yang terpendam sekian lama. Citarum tidak bisa menunggu lebih lama. Airnya harus menjadi sumber penghidupan, bukan penghinaan.

Dari sekian banyak pilihan potensi Citarum yang harus kembali digalakkan, yaitu menjadi pusat konservasi. Sungai Citarum yang aliran airnya membelah delapan wilayah kabupaten/kota di Jawa Barat adalah anugerah. 

Sungai terpanjang di Jawa Barat ini merupakan sumber air bagi tiga waduk besar yang sekaligus penyuplai irigasi. Sejatinya, Citarum memiliki potensi air luar biasa. Dari hulu hingga hilir, sekitar 420 ribu hektar tanaman padi, airnya dipasok dari Citarum melalui sejumlah irigasi. Air yang melimpah ini membuat produksi padi Jawa Barat mencapai 11.644.899 ton pada 2015, atau sebesar 15,41% dari total produksi nasional, yakni 75.550.000 ton.

Pada Sungai Citarum, juga terdapat tiga waduk yang secara kaskade, dibangun dalam satu sungai, menghasilkan listrik sebesar 2.585 megawatt, yang terkoneksi Jawa dan Bali. Peran lainnya, yaitu dari Waduk Jatiluhur air mengalir ke hilir melalui bendungan curug kemudian membagi air ke saluran Tarum Barat dan Tarum Timur. 

Tarum Barat mengalirkan air untuk memenuhi kebutuhan air baku bagi 80% penduduk DKI Jakarta. Sedangkan Tarum Timur dipakai untuk irigasi lumbung padi, seperti Kabupaten Karawang, Purwakarta, Cianjur, Subang, dan Indramayu. 

Bukan hanya itu, Sungai Citarum juga memasok 80% air minum untuk Jakarta. Tidak hanya dimanfaatkan oleh 43 juta penduduk Jawa Barat (Data BPS 2010), air Sungai Citarum juga digunakan sebagai sumber air baku penduduk perkotaan DKI Jakarta, irigasi pertanian, perikanan, sebagai pemasok air untuk kegiatan industri serta sumber bagi pembangkit tenaga listrik tenaga air untuk pasokan Pulau Jawa dan Bali.

Citarum juga berpotensi sebagai kawasan hijau yang menguntungkan perekonomian. Kawasan Citarum dan Cimanuk hulu secara konservasi bisa jadi hidrologi air bagus, pelestarian hutan bagus, serapan air jadi bagus dan banjir berkurang. 

Kawasan sungai juga bisa diprioritaskan menjadi lahan pemberdayaan penanaman kopi di sela - sela tanaman pokok. Pasalnya, kawasan tersebut dinilai memiliki potensi perputaran ekonomi. 

Saat ini, dua kawasan tersebut pohon-pohon besar terus terpangkas ditambah dengan tanaman musiman di kawasan tebing. Normalisasi dan revitalisasi akan hasilkan sungai yang bersih. Sungai yang bersih akan melahirkan lingkungan yang sehat, sehingga kualitas hidup jadi lebih baik. Lingkungan yang sehat akan membuat kualitas hidup jadi lebih baik, terutama biaya perawatan kesehatan yang dikeluarkan oleh masyarakat maupun pemerintah jadi tidak mahal‎. 

Normalisasi dan revitalisasi Sungai Citarum, jika kelak selesai, akan melahirkan potensi-potensi wisata baru yang bisa dikembangkan masyarakat sekitar sungai. Dan hasilnya, roda perekonomian masyarakat lokal akan terbantu

Tata kelola mengenai Citarum kini telah beralih dari pemerintah daerah ke pemerintah pusat. Dengan segala keadaan yang terjadi, pemerintah pusat memiliki ambisi menjadikan air dari Sungai Citarum layak untuk diminum pada tahun 2025. 

Pemerintah juga telah berjanji akan menindak tegas pabrik-pabrik yang mengabaikan aturan pembuangan limbah. Selain itu, ada upaya pemasangan CCTV untuk memantau pelanggar-pelanggar yang mencoba membuang sampah dan limbah ke sungai.

Inti dari semua gerakan hebat dengan hasil yang menakjubkan untuk mengubah Citarum adalah dengan pemahaman pendidikan lingkungan yang baik yang dimiliki setiap warga. Citarum yang indah tidak akan lagi dirusak oleh tindakan bodoh apalagi tindakan gelap yang merugikan. Pendidikan tentang alam adalah mutlak. 

Satu-satunya cara untuk menciptakan masa depan yang lebih lestari adalah agar setiap orang dapat melakukan peran mereka. Ada berbagai tindakan yang bisa dilakukan oleh setiap individu, baik di rumah, sosial media/internet, dan kegiatan diluar ruang untuk mengurangi dampak dari masalah air itu sendiri. 

Misalnya, menggunakan produk pembersih (sabun mandi, sabun cuci, dan lain-lain) yang bisa diurai oleh alam. Air limbah rumah tangga akan mengalir sepanjang aliran sungai dan bermuara ke laut, memanfaatkan media sosial untuk menyebarkan ajakan pelestarian alam tentang pentingnya konservasi sumber daya air. 

Ajak teman dan kerabat untuk melakukan aksi yang nyata, menanam pohon. Pohon membantu menjaga tanah tidak terbawa aliran air ketika hujan dan membantu memperlambat aliran air, mengurangi banjir dan memungkinkan lebih banyak air hujan menjadi persediaan air tanah. Menjadi sukarelawan untuk Citarum yang lestari atau menjadi bagian pelestarian Citarum secara keseluruhan. 

Gaya hidup lestari sangat dibutuhkan. Ini hanya bisa dicapai melalui pemahaman sejati tentang lingkungan kita. Memahami bagaimana semua elemen alam saling terkait dan bagaimana budaya manusia harus selaras dengan alam.

Kita optimis ketika kelak menyebut nama Citarum tidak lagi terlintas dalam benak adalah tentang sampah, limbah dan polutan, melainkan tentang tingginya peradaban manusia modern.