Bahagia itu sederhana, sesederhana kamu tersenyum dan bersyukur dengan apa yang sudah kamu punya.

Halo guys. Dalam prolog kali ini saya persembahkan quotes yang sudah tidak asing, sangat-sangat tidak asing, jujur saja itu sangat basi dan pembahasan seperti ini cenderung membosankan. Iya kan? Udah ngaku aja. Hehe

"Paling isi tulisannya menyuruh kita untuk pintar-pintar bersyukur, harus membangkitkan kesadaran, bisa mengontrol diri, mencintai diri sendiri dan kiat-kiat mainstream lainnya," (kalau saya jadi pembaca, begini isi batin saya). Apalagi ketika kita dalam kondisi sedang tidak baik-baik saja, mungkin kita akan berpikir, "tidak sesederhana itu ferguso". 

Tapi, kalau kalian masih betah membaca dan penasaran bagaimana kelanjutannya. Saya kasih bocoran, tulisan ini sebenarnya lebih ke; ajakan untuk mengkritisi diri sendiri dengan seksama. Kesadaran seperti apa sih yang dimaksud? Bahagia itu bagaimana? Apakah kita perlu bahagia? Apakah kita sudah bahagia atau sedang pura-pura bahagia? 

Oke formalitas, saya bahas 'bahagia' secara definitif dulu. Dalam KBBI, kata bahagia berarti keadaan atau perasaan senang dan tentram (bebas dari segala yang menyusahkan). See, ini hanya definisi KBBI. Sedangkan kita 'manusia' memiliki sub makna bahagia masing-masing, standar bahagiamu tidak bisa disamakan dengan standar bahagia orang lain. 

Aku bahagia ketika banyak uang, aku bahagia ketika mendapat nilai bagus, aku bahagia saat bisa bermanfaat untuk orang lain, aku bahagia ketika bersamamu, aku bahagia melihatmu bahagia meski bersama orang lain (haha poin terakhir bulshit sodara).

Bahagia ini meliputi setiap aspek kehidupan. Baik soal materil, kesehatan, pendidikan, profesi, pencapaian, persoalan romansa dan masih banyak lagi. Yah memang, standar bahagia setiap orang itu sangat beragam. Bahagia versi kamu bagaimana?

Setelah bahas definisi, kita bisa tarik benang merah untuk mengetahui substansi dari kata bahagia. Definisi simpel ala saya begini:

Harapan + realitas = rasa puas (baca: harapan yang terealisasi akan menimbulkan rasa puas). Kalau masih belum paham, saya ulangi 'kamu punya harapan (ekspektasi) dan harapan itu menjadi nyata'. 

Dari sini, saya akan mulai kaitkan dengan kesadaran. Ayok mulai selami diri sendiri (mode on: pikiran dan hati), sungguh Tuhan memberikan kita fasilitas yang sangat luar biasa. 

Di dunia ini siapa yang tidak ingin bahagia dan tentram? Saya sangat yakin, manusia itu selalu mendambakan ketenangan, ketentraman, pokoknya bahagia luar dalam (batin maupun fisik). Namun dalam perjalanan hidup, manusia mengalami lika-liku kehidupan, mendapati rasa sakit hingga akhirnya mendapat pelajaran.

Dalam hidup, adalah hal wajar saat kita mendapati kebahagiaan maupun kekecewaan. Tapi, pernahkah kamu mengintrogasi dirimu sendiri soal bagaimana kamu mendapatkan kebahagiaan dan kekecewaan. 

Banyak dari kita, yang cenderung menggantungkan kebahagiaan pada hal di luar dirinya (orang lain, harta benda, jabatan dan lain-lain). Dengan begitu, konsep bahagia akan menjadi sukar. 

Contoh lakunya; saya akan bahagia jika hidup bersama dia, (lalu berharap orang lain membahagiakan kamu). Big No! itu sangat tidak mandiri, kita itu punya skill untuk membuat diri bahagia.

Love coach Jose Aditya dalam channel youtube-nya menjelaskan, bahwa kebahagiaan itu 50 % berasal dari genetik, 10 % dari lingkungan, 40 % kendali personal.

Jangan mudah hancur oleh faktor luar, kita masih punya kendali atas diri kita sendiri. Jika sulit merasa bahagia, tanyakan pada diri sendiri, kiranya apa yang salah dalam diri kita? Dan kalau kamu punya konsep bahagia seperti yang saya sebutkan tadi, siap-siaplah menghadapi kekecewaan. 

Mylove, tolong digarisbawahi ya. Kamu tidak akan bisa mencapai kebahagiaan sebelum kamu sadar kalau kebahagiaan itu adalah tanggungjawabmu sendiri, bukan tanggungjawab orang lain.

***

2 faktor dalam diri yang menghambat rasa tentram (bahagia) muncul:

1. Asumsi pribadi.

Biasanya ekspektasi berlebih yang tidak diimbangi dengan usaha, lalu rasa takut.

Ex. Kamu berharap segera lulus wisuda dan mendapat cumlaude, tapi nyatanya kamu malas-malasan, terus menunda-nunda dan akhirnya telat lulus. Alhasil kecewa pada diri sendiri, atau bahkan menyalahkan keadaan?

Disamping itu, rasa takut juga bisa menghambat lho gengs. Ketakutan berlebih itu tidak baik. Ayolah sadar, ketakutan itu hanya ada dalam pikiran. 

Hidup itu penuh resiko, yang perlu dilakukan adalah menyadari; apa yang bisa kamu kendalikan dan apa yang tidak. Lalu, kamu bisa memilih fokus pada hal yang bisa kamu kendalikan. Kesampingkan saja hal-hal di luar kendali, tidak perlu dikhawatirkan berlebih, itu hanya asumsimu. 

2. Judgement negatif pada diri sendiri.

Ini nih yang jarang kita sadari. Saya sangat sering menjumpai ini, entahlah kenapa banyak sekali dari kita yang seperti ini (termasuk saya). 

Ex. Maaf saya tidak mengerti materi ini, daya cerna otak saya rendah, saya tidak cantik, saya tidak bisa ini dan itu.

Walaupun kamu mungkin berniat untuk merendah, tetap saja itu bentuk pengkerdilan atas diri sendiri.  Bagi saya, itu jahat pada diri sendiri, tidak menghargai dan mempercayai diri sendiri. Dengan kebiasaan itu, kita terus-menerus mengafirmasi bahwa diri kita tidak kompeten. 

Hasilnya, kamu cemas akan dirimu sendiri. Ini menghambat kebahagiaan, karena akan muncul insecurity dan membanding-bandingkan diri dengan orang lain. 

Selebihnya, masih banyak faktor lain yang menghambat ketentraman diri. Kalian bisa cari sendiri ya, fokus saya menulis ini hanya untuk menghantarkan pembaca dalam menggali kegelisahan dan bagaimana cara mengatasinya. 

Statement ini jangan ditelan mentah-mentah juga, kalian bisa memfilter, mencari dan menimbang kebenarannya. 

Kita Bisa Bahagia Tanpa Berpura-pura

Pertama-tama yang perlu kita lakukan adalah, menerima diri sendiri secara utuh (bagaimanapun kondisinya). Kamu sedang sedih? Patah hati? Sakit? Terpuruk? Terima dan jujur saja pada diri sendiri. Tidak perlu memaksakan diri untuk berpura-pura bahagia. Kita ditantang untuk menikmati rasa sakit.

Selanjutnya, kita harus punya tujuan yang jelas. Tanya pada diri sendiri, kenapa kita harus bahagia? Karena dengan bahagia kita bisa lebih mudah menjalani hidup, bisa lebih produktif dan bisa menebar energi positif pada orang lain misal.

Next, setelah kamu tahu tujuan. Kamu perlu komitmen pada diri sendiri, contohnya, "aku harus lebih baik dari hari kemarin". Dan ini harus ada progresnya ya. 

Jangan berpura-pura, terkadang jatuh atau sakit itu diperlukan. Dari rasa sakit kita juga belajar banyak hal kan?

Oh ya, kembali ke ajakan awal, saya hanya mengajak kalian untuk mengkritisi diri sendiri. Kalau tulisan ini tidak memuaskan, saya punya list question untuk kalian. Silahkan cek seberapa sadar dan bahagia kamu.

Self Interrogation

1. Apa makna bahagia versi saya?

2. Apakah saya sudah bahagia? Kenapa saya harus bahagia?

3. Apa saya punya kesadaran dan kontrol atas diri pribadi? Seberapa besar kesadaran itu?

4. Apakah selama ini saya menggantungkan kebahagiaan pada orang lain atau hal eksternal lain?

5. Kalau saya tidak bahagia, apa penyebabnya? Bagaimana jalan keluarnya? Dan apa manfaatnya kalau saya bahagia? 

6. Apakah selama ini saya sudah menghargai diri sendiri?

Finally, tentu saja kalian bisa membuat pertanyaan sendiri tentang apa saja. Kalau kalian mudah mengkritisi orang lain, cobalah sesekali kritisi diri sendiri.