Tahukah Anda? Bahasa Indonesia memiliki satu kata yang begitu dimuliakan, hingga penulisan kata ini harus selalu diawali dengan huruf kapital. Kata tersebut adalah “Anda”. 

Ya, kata itu harus selalu ditulis dengan huruf awal kapital, di mana pun posisinya pada kalimat; mau di awal, di tengah, maupun di akhir kalimat, “Anda” harus selalu ditulis dengan huruf awal kapital. Perhatikan contoh berikut:

  • Di awal kalimat: Anda ke sini dengan siapa?
  • Di tengah kalimat: Saya tak suka melihat Anda menyalahgunakan alis sedemikian rupa!
  • Di akhir kalimat: Entah apa yang terjadi pada alis Anda.


Lihat sekali lagi, kata “Anda” selalu ditulis dengan huruf depan kapital. Kenapa begitu? Nah, silakan benarkan posisi alis, tulisan ini akan membuat Anda mengernyitkan dahi beberapa kali.

Dilihat dari sejarah, kata “Anda” baru diperkenalkan pada 1957. Penjelasan lengkap tentang kata ini dimuat pertama kali dalam majalah Bahasa dan Budaya terbitan Lembaga Bahasa dan Budaya Fakultas Sastra Universitas Indonesia, nomor 5 tahun V, Juni 1957. 

Di situ, terpampang sebuah artikel dengan judul “Anda, Kata Baru dalam Bahasa Indonesia” yang ditulis oleh Sabirin, seorang perwira Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) berpangkat kapten.

Sabirin menjelaskan bahwa kosakata bahasa Indonesia perlu menambahkan satu kata baru untuk menunjuk orang kedua, yang bukan saja formal, tetapi juga memiliki makna lebih luwes; dapat digunakan di segala situasi, seperti kata “you” dalam bahasa Inggris. Kata yang ada saat itu, “kau” dan “kamu”, dirasa kurang bisa menerabas batas-batas keluwesan tadi. 

Di waktu yang bersamaan, Sabirin resah dengan penggunaan bahasa asing, utamanya bahasa Belanda, untuk menunjuk orang kedua dalam percakapan sehari-hari, seperti: ik, jij, jullie dan U.

“Kebiasaan yang aneh ini mungkin timbul oleh karena pemakaian kata “kamu” dan “kau” lazimnya berlaku dalam lingkaran yang akrab benar hubungannya,” tulis Sabirin.

Kata “Anda” tak bernasib sama dengan pergantian kata dari ikke ke “aku”, salah satu sebabnya, tak semua orang senang “diper-kamu” atau “diper-kau”, kesannya sok akrab. Terlebih kepada perempuan, mereka tak suka disapa dengan panggilan sok akrab “kau” atau “kamu”. Kebiasaan ini barangkali masih tersisa di banyak perempuan muda Jakarta yang lebih senang dipanggil dengan kata ganti “elu” atau “lo” ketimbang “kamu”.  

“Mesra banget sih pake “kamu-kamu”; “lo-guwe” ajah!” ini jawaban yang benar-benar pernah saya terima karena menyebut teman baik dengan kata ganti “kamu”.

Kembali ke Om Sabirin, dia sebenarnya juga menyebut bahwa kita punya kata “saudara” yang bisa juga digunakan untuk merujuk ke orang kedua secara lebih formal, namun ia menyebut kata ini tak terlalu diminati. Pertama, kata ini terdiri dari tiga suku kata: sau-da-ra; dirasa terlalu panjang dan mungkin merepotkan lidah. 

Kedua, kata ini kurang bisa diterima lantaran sifat atau kata dasarnya adalah kata benda. Karenanya, Sabirin tetap pada pendirian utamanya, harus ada kata baru untuk menunjuk orang kedua tunggal.

Sabirin mengusulkan agar kata baru tersebut adalah “Anda”. Kata ini ia susun dari unsur “da” dalam bahasa Kawi (Jawa Kuno) yang mengandung arti “yang mulia”. Ia menambahkan “an” di bagian awal sehingga menjadi “Anda” dan selaras dengan kata-kata yang senada dengannya: Ayahanda, Kakanda, Ibunda, Adinda.

Versi lain menyebut Sabirin sebenarnya sedang merujuk ke Kamus Moderen Bahasa Indonesia terbitan Penerbit Grafica Djakarta yang disusun oleh Sutan Muhammad Zain. Sabirin mengartikan “Anda” sebagai kata yang bermakna “yang mulia” atau “yang terhormat”. 

Namun begitu, keterangan itu ternyata masih lemah juga. Sebabnya, sebagaimana diakui oleh Holy Adib, kamus yang dimaksud tak memuat kata “Anda”. Yang ada adalah kata “Anakanda”, “Ananda” dan “Anakda”.

Tentang ini, Zain menjelaskan bahwa kata-kata tersebut awalnya digunakan untuk menyebut anak-anak para raja saja, sebagai sosok yang juga dimuliakan lantaran keturunan dari orang yang mulia (raja), namun arti “yang mulia” akan lama-lama hilang jika kata ini dipakai dalam percakapan sehari-hari.

Orang bisa menggunakan kata “Anda” untuk menunjukkan rasa hormat. Zain mengakui bahwa bukan tidak mungkin penggunaan kata “Anda” ini akan menimbulkan kekakuan atau kecanggungan lantaran masyarakat belum terbiasa menggunakannya, namun ia yakin lambat laun kecanggungan tersebut akan hilang. 

Satu hal yang penting, Zain menegaskan bahwa anjuran menggunakan kata “Anda” tidak berarti penghapusan terhadap kata “kamu” dan “kau”.

‘Perlawanan’ PKI 

Ternyata ada kisah menarik di balik kelahiran kata “Anda” yang dianggap sebagian kalangan sarat dengan muatan politis. Kisah ini diceritakan oleh Rosihan Anwar dalam “Kata 'Anda' Berusia 20 Tahun” yang diterbitkan Kedaulatan Rakyat pada 14 Februari 1977

Menurutnya, kata “Anda” dimuat pertama kali oleh koran Pedoman yang waktu itu menjadi semacam corong perlawanan masyarakat terhadap penjajahan Belanda. Awalnya, koran ini adalah majalah yang didirikan oleh Soegardo (1916-1955) dan Henk Rondonuwu (1910-1974) dengan nama resmi majalah Tengah Boelanan: Pedoman pada 1 Maret 1947 di Makassar.

Kala itu, pihak Belanda risih dengan sikap ngeyel rakyat (yang kerap pula disebut Kaum Republikein) yang menolak bekerjasama dan malah menyalakan bara perlawanan melalui majalah. Soegardo bahkan diusir dari Negara Indonesia Timur (NIT). 

Alih-alih membuat takut dan perlawanan menjadi surut, tindakan Belanda ini justru mengobarkan semangat perlawanan yang lebih besar lagi. Pedoman kemudian diteruskan oleh Henk Rondonuwu sebagai Pemimpin Umum/Redaksi yang mendapat dukungan penuh dari reporter-reporter muda.

Hasilnya, Pedoman yang kala itu hanya terbit per tengah bulan menjadi sanggup untuk terbit tiap pekan. Hingga akhirnya pada 17 Agustus 1948 Pedoman hadir sebagai surat kabar dengan nama Pedoman Harian. Larangan pemerintah Belanda terhadap segala jenis aktivitas menerbitkan surat kabar membuat koran ini terbit dalam bentuk stensil.

Kembali ke kata “Anda”, barangkali karena kata “Anda” dipopulerkan oleh Koran Pedoman, maka kata ini ditolak oleh koran milik PKI, Harian Rakyat. Mereka meluncurkan kata baru sebagai tandingan untuk “Anda”, kata itu adalah “Andika”. Entah bagaimana kisah selanjutnya, yang kita tahu sekarang, kata “Andika” tak populer atau bahkan tak laku.

Kapitalisasi “Anda”

Setelah kata “Anda” muncul di koran Pedoman edisi Kamis 28 Februari 1957, sejumlah kalangan langsung memberi reaksi. Salah satunya adalah ahli bahasa dan sastra Indonesia, Sutan Takdir Alisjahbana (STA), yang menyatakan persetujuannya terhadap penggunaan kata “Anda” sebagai kata resmi untuk merujuk pada orang kedua tunggal. 

Melalui koran Pedoman pula, STA mengusulkan agar kata “Anda” selalu ditulis dengan huruf awal kapital.

Penggunaan huruf awal kapital pada kata “Anda” dijelaskan STA dengan argumentasi linguistik yang menyebut bahwa kata ini dinilai paling netral, demokratis, beradab, menunjukkan rasa hormat, tidak membedakan jenis kelamin, status sosial, umur, dan tidak bersifat feodal (Indonesia in the Modern World, 1961). Itu sebabnya, sejak saat itu hingga sekarang, kata “Anda” selalu ditulis dengan huruf awal kapital.

28 Februari 1957 pun dikenang sebagai hari lahir kata “Anda”, sehingga kata ini terus merayakan ulang tahun pada 28 Februari. Hanya berselang beberapa hari dari perayaan Valentine yang dirayakan oleh sebagian dari Anda yang beruntung saja.

*Tulisan ini untuk Mbak Emmy; yang tak pernah berhenti berpuisi.