1 bulan lalu · 266 view · 4 min baca menit baca · Keluarga 92650_64323.jpg
Story of the Pack

Tentang "Anakmu Bukan Milikmu"

Ketika Gibran menciptakan puisi yang ditujukan kepada para orang tua, ibarat petir yang menyambar telinga orang-orang yang mapan dengan kedudukannya. Bahwa orang tua tidak sepenuhnya berhak terhadap anaknya. 

Masyarakat tidak terbiasa dengan bahasa Gibran. Penulis dari kalangan keluarga Katolik ini menyusun kata dan kalimat yang menusuk jantung masalah dan mendobrak kemapanan penduduk kerajaan Khilafah Utsmaniyah. 

Tak ayal, Gibran pernah dikucilkan oleh komunitas gereja karena karya sastranya menggoncang stabilitas sosial para elite, salah satunya akibat naskah drama Spirits Rebellious yang ia tulis. Sebagai kritik terhadap para elite yang korup dan senang berfoya-foya. 

Di era sekarang, puisi Khalil Gibran itu masih relevan. Pertumbuhan kelas menengah yang melejit, dengan kemampuan daya beli lebih kuat dibanding awal-awal krisis moneter, menjadikan orang tua merasa mampu untuk menentukan dan bahkan menjamin masa depan anak. 

Seperti pangamatan Renald Kasali, seorang ekonom, peran orang tua kelas menengah terhadap anak terlalu berlebihan. Tidak hanya menentukan kuliah dimana, dan hingga baju yang bagus seperti apa. 

Berbeda dengan tahun 1970-1980-an, rata-rata orang tua lebih mengutamakan pendidikan dan pembentukan karakter dan moral anak. Berkaitan dengan masa depan, orang tua menyerahkan sepenuhnya kepada anak. Tetapi, terkadang sebagian orang tua sudah mempersiapkan masa depan anaknya dengan memberikan rumah warisan atau lahan sawah. 

Kendati demikian. Seiring pertumbuhan generasi milenial dan banyaknya dari generasi itu yang sudah menjalani pernikahan, menggendong buah hati, pandangan soal mendidik anak secara konservatif mulai ditinggalkan. 

Peran Proporsional

Dari puisi Gibran kita perlu belajar untuk memposisikan diri dan menempatkan sesuatu secara proporsional. Kita harus tegas membedakan di mana letak ego pribadi dan kepentingan umum. 


Ketika keduanya tercampur, maka rajutan hubungan sosial menjadi kacau. 

Tempo hari saya bersilaturahmi ke salah satu kru redaksi surat kabar terbesar di Semarang, bahkan di Jawa Tengah. Ia mengeluhkan perihal anaknya yang tak mau dan tak mampu menulis. Seperti dirinya. 

Menurut pandangannya, seharusnya anaknya mewarisi bakatnya menulis. Dia menjelaskan dari ayahnya hingga dirinya punya keahlian dan inten menulis. Memang, bisa disebut mereka "keluarga penulis". Di samping, saya kenal dengan ayahnya, sudah renta sekali, tapi masih inten membaca dan berlangganan koran serta majalah. 

"Kenapa anak sendiri tidak bisa menulis? Sudah kusuruh-suruh menulis, sebisanya, tapi tetap tidak mau," keluhnya. Tapi saya juga katakan, bahwa Ayah dan Ibu saya tidak ada yang penulis, tetapi kenapa saya sendiri bisa dan ingin menggelutinya?

Dari cerita si ayah yang malang itu, kita bisa berkaca kepada puisi "Anakmu Bukan Milikmu" karya Khalil Gibran. Saya kutipkan salah satu baitnya:

"You may give them your love but not your THOUGHTS. For they have their own thoughts. You may house their bodies but not their SOUL. For, their soul dwell in the house tommorow."

Orang tua boleh memberi anak-anak mereka berjuta cinta, kasih, sayang, perhatian tapi tidak boleh membingkai pemikirannya, karena mereka memiliki pemikiran dan ekspresinya sendiri. 

Peran orang tua dalam memberikan cinta itu amat penting. Supaya anak mengenal belas kasih dan terutama rasa kemanusiaan. Sebab hal itu tidak dapat dilepaskan dari peran dan pendidikan orang tua, agar jiwa seorang anak tidak menjadi kaku, keras, dan kasar. 

Berbeda halnya dengan pemikiran, karena berkaitan dengan perasaan intim dan pengalaman pribadi. Seperti setiap orang yang lahir dan hidup dalam beragam kondisi, iklim, geografis, dan demografis akan menciptakan karakter, watak, sifat yang berbeda-beda. 

Misal, umumnya kita tahu, bahwa rata-rata orang yang tinggal di wilayah pesisir memiliki watak keras. Bicaranya kasar. Mungkin, bagi orang pedalaman, seperti Solo, menganggap itu hal yang buruk. Nah, itu lah keragaman pemikiran. Pembentukannya menyesuaikan kondisi sosial dan lingkungan setempat.

Lantas, kenapa pemikiran seorang anak dengan orang tuanya bisa berbeda? Padahal mereka tinggal serumah, bahkan diawasi, dan dibina selalu. Jawaban saya sederhana, apakah orang tua mampu memastikan apa yang dialami seorang anak sama dengan yang ia alami waktu masih kanak-kanak.  

Ayah yang murung tadi, mungkin, berpatokan pada semboyan: buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya. Tapi, perlu disadari, satu buah dengan buah yang lain punya bentuk dan rasa yang tak sama persis. 


Oleh karenanya, menurut Gibran, hendaknya orang tua memposisikan diri sebagai "fasilitator". Seorang mentor yang membantu anaknya mencari, menggapai, dan mewujudkan cita-citanya. 

Sebagaimana kutipan puisi Gibran: "You may strive to be like them, but seek not to make them like you" — kamu mampu menyerupai mereka tapi jangan ajak mereka menyerupaimu. "For live goes to not backward or tarries with yesterday" — karena kehidupan tidak berjalan mundur atau tidak sama dengan hari kemarin. 

Tuhan-lah Pemanahnya

Ketika orang tua melewati batas kapasitasnya sebagai "fasilitator". Gibran mengingatkan, bahwa hal tersebut sama dengan mendahului Tuhan. Seperti penutup dalam bait puisinya: 

"You are the bows from which your children as living arrows are sent forth. The archer sees the mark upon the path of the infinite, and He bends you with His might that His arrows may go swift and far. Let your bending in the archer's hand be for gladness; For even as He loves the arrow that flies, so He loves also the bow that is stable."

Si ayah yang sedih karena anaknya tidak mampu melanjutkan "tradisi menulis" yang di keluarganya — diklaim — sudah turun temurun (di samping surat kabarnya defisit penulis). Perlu memahami, bahwa ada peran Tuhan — Gibran menyebutnya Archer — yang lebih berhak dan berkuasa untuk mengarahkan pemikiran dan masa depan anak. 

Ini sama dengan dawuh kiai-kiai pesantren: Selain orang tua ikhtiyar untuk menyekolahkan atau memondokkan anak, orang tua harus mendoakan anak. Bila perlu digalakkan salat malam. 

Dengan demikiran, peran orang tua sebagai "bow" atau busur mampu menyelaraskan dengan kehendak "Archer" atau pemanah, yaitu Tuhan. Lalu, bagaimana memastikan bahwa ini benar-benar kehendak Tuhan atau bukan, wa Allahu a'lam bis showaf.

Artikel Terkait