Malam itu Andrey Karlov, Duta Besar Rusia untuk Turki, berbicara dalam pameran Fotografi di Galeri seni Ankara. Sejumlah orang hadir, Karlov berdiri di podium. Di belakangnya berdiri beberapa orang petugas polisi. Tiba-tiba Karlov jatuh, ada tembakan tak jauh darinya. Seorang pemuda berusia 22 tahun, Mevlut Mert Aydintas, anggota polisi Turki  menembaknya dari jarak dekat.

Video yang beredar di media sosial memperlihatkan adegan selanjutnya; Karlov tergeletak di lantai. Aydintas mengacungkan senjata, dan berteriak menyampaikan pesan. “Allahu Akbar”, “Jangan Lupakan Aleppo”. Dua pesan singkat disampaikan kepada dunia, pertunjukkan dendam baru saja dimulai.

Sebabnya tak jauh dari Turki. Kita semua tahu, ada  tentara yang berperang, ada oposisi yang menduduki kota dan anak-anak yang kehilangan tempat bermain. Turki dan Rusia terlibat di sana, memberikan dukungan untuk pihak yang bersebarangan. Putin, presiden Rusia nyentrik yang gemar mengendarai beruang, punya hubungan dekat dengan Pemimpin Syria. Dia Memberikan dukungan, Oposisi dan ISIS ditaklukkan, Aleppo dibebaskan.

Tapi kisah tak berhenti sampai di situ, tanda pagar yang beredar di media sosial #SaveAleeppo, seolah membawa pesan kabur. Assad dianggap telah membunuh warga, rezim ini diibaratkan mesin pembantai.

Kita disuguhi pameran kekerasan dan parade kekejaman. Ada yang tersulut. Dendam adalah lingkaran setan yang tak pernah putus. Dan malam itu, Karlov ditembak oleh orang yang merasa bahwa dendam seperti pementasan yang harus diselesaikan hingga akhir.

Setiap hari ada yang terbunuh, ada yang bersedih karena kehilangan. Kita terperangah, dendam menjalar begitu cepat. Dunia jadi tempat yang menakutkan, hukum tak lagi dipedulikan. Mereka menjalankan hukum yang jelas begitu sederhana: hukum rimba. Yang kuat menang, membalas setiap kekalahan.

Dalam demokrasi, segalanya tak bisa semena-mena. Ada hukum yang berlaku, prinsip-prinsip yang diterapkan serta moral yang dipatuhi. Darah tak akan berhenti mengalir dengan balas dendam tak berkesudahan.

Jared Diamond, seorang professor geografi dalam karyanya “The World Until Yesterday” menulis tentang bagaimana hukum berlaku dan balas dendam bekerja pada masyarakat kita yang semakin “tradisional”.

Pada masyarakat tradisional, hukum ditegakkan untuk memberi kepuasan pada korban. Kondisi yang seimbang, nyawa dibalas nyawa. Pada masyarakat modern, hukum adalah tugas negara untuk menjaga masyarakat tetap stabil.

Namun dalam dunia ketika konflik dan perang terjadi sama seringnya dengan perdagangan pasar saham, pembunuhan adalah balas dendam untuk sebuah nilai. Ada sekumpulan ide yang terus diperjuangkan, agama yang perlu dibela dan masyarakat yang harus dibebaskan. Kekerasan adalah dendam yang menemukan sasaran.

Dan ketika MUI mengeluarkan fatwa, ada yang tak jelas. Isi fatwa itu mengundang kecemasan, lantas saya bertanya tentang otoritas MUI dalam sistem hukum negara ini. Laranganya jelas: umat Islam tidak boleh mengenakan atribut natal. Alasannya selalu soal akidah, iman yang perlu dipertahankan.

Tapi, serapuh itukah iman? Laksana istana pasir yang dengan mudah roboh. Mungkinkah iman dapat runtuh karena seorang Muslim mamakai topi sinterklas yang lucu atau berfoto di bawah pohon natal yang dipajang di tempat umum?

Ada yang diabaikan, sebuah bangsa yang terbangun dari keragaman kini menghadapi ancaman terbelah. MUI hadir seolah menampik kenyataan, bahwa Islam-Kristen adalah “saudara” sekandung.

Ada kontestasi, persaingan, konflik dan harmoni. Lewat fatwa, MUI memperburuk hubungan mayoritas-minoritas, menumbuhkan kecurigaan dan memperlebar definisi tentang yang “berbeda”.

Fatwa ibarat pisau bermata ganda; memberikan legitimasi kekerasan kepada sebagian orang dan menghakimi iman sebagian yang lain. kita selalu diingatkan, oleh Ali bin Abi Thalib, bahwa yang bukan saudaramu dalam iman adalah saudara dalam kemanusiaan. Pesan universal tentang persudaraan dan iman yang tak tercemar oleh dendam.