2 tahun lalu · 590 view · 4 menit baca · Saintek giotto_spacecraft.jpg
Sudahkah alam mendengar suaramu?

Tentang Alam Semesta yang Ingin Mendengar Suaramu

Abaikan judul yang sok puitis itu. Tulisan ini tidak puitis-puitis amat kok. Ini hanyalah sebuah tulisan yang secara random muncul di kepala saya dengan melihat berbagai macam peristiwa akhir-akhir ini yang berhubungan dengan pelarangan mengutarakan aspirasi dan pendapat; larangan untuk bersuara.

Pembakaran buku, pelarangan mengeksplorasi sebuah ideologi, pembubaran dengan paksa sebuah aksi untuk bebas dan merdeka, hingga sebuah intervensi asing untuk menutup sekolah-sekolah yang (katanya) memiliki hubungan dengan sebuah usaha untuk menjatuhkan si asing yang dicintai di negeri ini. Hal-hal seperti itu tentu saja adalah sebuah penyimpangan, bukan saja bagi manusia, tapi juga bagi alam semesta sendiri.

Ada sebuah fakta yang saya dapatkan setelah tiga tahun mengenyam pendidikan di jurusan fisika; bahwa di antara semua rumus yang menggunakan huruf-huruf Yunani yang wujudnya tidak lebih mengesalkan dari wujud mantanmu, di antara angka-angka dan perhitungan rumit yang sama rumitnya dengan kehidupan asmaramu, rupanya ada nilai-nilai yang begitu dekat dengan diri kita tanpa kita sadari.

Nilai-nilai itu terabaikan, namun tetap ada dan mengelilingi manusia hingga kapan pun. Salah satu dari nilai-nilai itu, tentu saja, adalah bersuara dan mengutarakan pendapat.

Dalam ilmu fisika, bunyi dan suara sudah dideskripsikan dengan jelas sebagai sebuah gelombang, sedangkan definisi dari gelombang itu adalah rambatan energi dari sebuah sumber. Lalu, apa beda bunyi dan suara dengan gelombang lainnya, gelombang laut misalnya? Ya jelas beda. Media rambatan, frekuensi, bentuk, semua berbeda.

Gelombang bunyi adalah sebuah gelombang longitudinal yang arah rambatannya searah dengan medianya, yaitu partikel-partikel udara. Penerimaan reseptor bunyi di otak kita yang memilah-milah perbedaan frekuensi dan panjang gelombang, menghasilkan apa yang kita sebut sebagai nada suara. Dari penjabaran tersebut, sudah kita ketahui bahwa suara adalah sebuah energi yang merambat. Lalu apa kejutan besarnya?

Energi tidak bisa hilang, Kawan. Sebuah hukum fisika bernama Hukum Kekekalan Energi menyatakan bahwa energi tidak bisa dibuat atau dihancurkan; ia berubah dari satu wujud ke wujud yang lain. Contoh mudahnya ketika kamu menendang dinding, misalnya. Energi kinetik dari tendanganmu akan berubah menjadi bunyi dan panas (ya, akan ada sebuah perubahan suhu yang sangat kecil ketika suatu benda menyentuh benda lainnya).

Nah, hal yang sama juga terjadi ketika kamu bersuara. Energi dari suara yang kamu hasilkan tidak akan hilang, melainkan berubah wujud menjadi energi kinetik antarmolekul yang menghasilkan tumbukan antara partikel-partikel udara. Ini normal, tentunya. Udara berwujud gas, dan salah satu sifat utama gas adalah antara partikel-partikelnya terjadi tabrakan-tabrakan yang menghasilkan dinamika gas itu sendiri.

Biar saya buat penjelasan tadi lebih nyaman didengar. Bahwa setiap suara yang kamu keluarkan selama kami hidup sebenarnya tidak pernah hilang. Lebih tepatnya, semesta mengingat dan mendengar semua suaramu dalam bentuknya yang paling dasar, yaitu energi. Di antara pergerakan atom, partikel, dan molekul udara yang tentu saja menjadi salah satu dari asas pergerakan segala kehidupan adalah energi yang menjadi esensi kumulatif dari suara-suara manusia, termasuk suaramu.

Mulai dari aku suka sama kamu sampai berikan kami hak untuk bebas, dari bunyi-bunyian yang tidak terhormat seperti kentut sampai pidato untuk sebuah revolusi, semua dicatat, didengar, dan diingat oleh semesta. Maka, secara kasarnya, menghalangi hak seseorang untuk bersuara sama seperti melecehkan semesta itu sendiri.

Cukup sampai di situ saja? Oh ya tidak, Kawan. Ada lagi. Kita sekarang bergerak ke sebuah hukum fisika yang agak lebih rumit dan saya sendiri masih belum menguasainya dengan baik, yaitu hukum kedua termodinamika yang menyangkut sebuah konsep fisis bernama entropi.

Konsep ini adalah sebuah konsekuesi dari fakta bahwa energi, walau pada asasnya tidak bisa dihancurkan, tetap bisa hilang (baca: terkonversikan) sebagian besarannya.

Energi bunyi yang terhasilkan dari tendanganmu kepada dinding tidak sama besarnya dengan energi kinetik tendanganmu. Nah, jumlah besaran yang “hilang” inilah yang disebut sebagai entropi. Entropi ini lepas, menjadi bagian semesta, dan secara konseptual menjadi “bukti” bahwa semesta masih hidup, alive and well.

Paragraf ini adalah pendapat saya semata, sih. Tapi ya masih memiliki basislah. Kita sering mendengar pertanyaan filosofis bahwa waktu adalah ilusi. Saya separuh percaya. Mengapa? Karena saya terkadang berpikir begini; kalau semua yang ada di alam semesta ini berhenti gerakannya hingga dinamika atom-atomnya, tentu itu berarti berhentinya semua penanda waktu, masih adakah waktu?

Jadi, apa itu waktu sebenarnya; sebuah konsep yang berjalan secara individual yang ada di luar ruang, atau sebuah konsekuensi yang terjadi karena adanya dinamika dalam ruang? Dari situ, saya terkadang berpendapat bahwa mungkin, entropi paling tidak berkaitan dengan waktu. Malah mungkin entropi adalah waktu itu sendiri.

Oke, untuk menyimpulkan semuanya. Suara adalah energi yang menjadi asas dari pergerakan udara dan kehidupan, dan perubahan wujud dari bunyi menjadi energi kinetik antar molekul menghasilkan entropi yang menjadi “bukti” kehidupan alam semesta dan mungkin waktu. Dari kalimat itu, sudah bisa kamu mengetahui seberapa pentingnya suaramu, seremeh apapun itu? Sejelek apapun itu? Seaneh apapun itu?

Lah, kalau begitu, suara-suara orang yang isinya hanya kenegatifan seperti Jonru juga sebenarnya bagus dong? Oh iya, jelas. Ini bedanya antara alam semesta dan manusia; semesta tidak mengenal kebaikan dan keburukan, apalagi seberapa sumbang dan timpangnya suara seseorang.

Kebaikan dan keburukan hanya sebuah konsep yang diciptakan manusia berdasarkan standarnya sendiri. Bagi alam semesta, semua yang ada di dalamnya adalah penting. Mungkin, satu-satunya hal yang dianggap “jahat” oleh semesta, ya sebuah aksi menghalangi kehidupan itu sendiri, dan salah satunya adalah menghalangi seseorang untuk bersuara.

Jadi secara itu, kita tak punya hak untuk menyuruh Jonru diam. Tapi kita berhak penuh untuk membalas suaranya dengan suara pula.

Jadi, bersuaralah. Jangan takut jika ada yang menghalangimu, karena semesta tetap ingin mendengar suaramu. Bahkan dalam sebuah kejadian terburuk, paling terburuk, kamu mati karena suaramu, maka semesta akan dengan senang hati menerimamu menjadi bagiannya dengan sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.