Jakarta, "Corona lagi dan corona lagi" seakan-akan tidak ada solusi yang signifikan. "Pencegahan dan penanggulangan" sudah berulang kali disosialiasikan baik melalui media sosial maupun praktek langsung dilingkungan masyarakat. Hal yang bisa kita lihat dalam kondisi menertibkan pelanggar protokol kesehatan, namun covid-19 makin bertebaran. "Siapa yang akan memperbaikinya"?

Informasi dari laman "komite penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional sabtu (21/6/2021), bahwa data Covid-19 saat ini adalah untuk yang terpapar positif 2.004.445 juta/orang, sembuh 1.801.761 juta/orang dan yang meninggal dunia sebanyak 54.956 ribu/orang. "Harus melakukan apa lagi"?

Dari data diatas, mari segenap masyarakat Indonesia dimanapun berada. Kita menjaga keluarga, menjaga diri sendiri, menjaga sanak saudara, menjaga sahabat dan kerabat, menjaga sesama, dan menjaga orang-orang yang berada dilingkungan kita sampai ke pelosok Indonesia. "Dimulai dari kita semua".

Pernyataan diatas bukan semata-mata hanya himbauan atau ajakan untuk kepentingan pribadi atau personal saja. Melainkan, untuk membangun kesadaran masyarakat Indonesia mengikuti peraturan yang ditetapkan oleh pemerintah, dalam hal ini meningkatkan kedisipilinan secara bersama-sama dan saling mengingatkan satu sama lain. "Ayo disiplin diri yang penuh kesadaran".

Pemerintah dan masyarakat adalah "sama" baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah dan masyarakat juga, baik yang ada di Ibukota maupun sampai pelosok nusantara. Maksudnya adalah agar satu sama lain mengikuti prosedur protokol kesehatan "dipatuhi" oleh kita semua dan tindak tegas bagi pelanggar protokol kesehatan tersebut. "Tanpa pandang bulu dan semua ditindak tegas".

Fenomena dan analisa ini, menjadi sorotan oleh pemerintah dengan masyarakat terutama pelanggaran protokol kesehatan dan penindakam yang tegas. Karena, masih menganggap virus corona tidak ada, virus corona sudah menghilang, dan lain sebagainya.

Persepsi masyarakat yang seperti ini harus diberikan pembinaan atau penyuluhan secara mendalam dan dilakukan pengawasan ketat oleh pihak yang terkait, terutama penegak protokol kesehatan covid-19.

Lantas, dari kegiatan diatas, siapa yang harus diperbaiki atau hal-hal yang harus dievaluasi bila dilihat dari kasus covid-19 semakin tinggi. Berikut adalah sebagai uraian rileksasi untuk menjadi perhatian bagi kita semua.

Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Mikro :

Dari PSBB sampai dengan PPKM merupakan kegiatan pemerintah yang sudah bertindak tegas untuk mengurangi pencegahan dan penanganan kasus covid-19. Kegiatan PSBB dan PPKM ini sudah beberapa kali diperpanjang dengan melihat bertambahnya kasus virus corona (Covid-19).

Seperti kita ketahui bersama, bahwa kegiatan PSBB dan PPKM mikro ini, sebetulnya sudah berjalan efektif . Namun implementasinya selalu ada temuan yang belum ada kedisiplinan dan kesadaran dari masyarakat Indonesia. Artinya perlu pengawasan dari pemerintah dan pihak terlibat lainnya.

Tingkat kolaborasi dalam pemberantasan covid-19 perlu konsisten dilaksanakan dan dievaluasi secara detail dan mendalam. Menentukan titik-titik wilayah yang mengalami kerawanan, sehingga lebih mudah memperketat  prosedur terhadap wilayah tersebut. 

Hal ini perlu juga berkomunikasi kepada kepada RT/RW baik kecamatan dan kelurahan untuk melakukan pembatasan secara kecil-kecilan di wilayah kecamatan dan kelurahan tersebut. Ini lebih membantu pemerintah pusat dalam menjalankan prosedur penanganan dan pencegahan covid-19 secara nasional.

"Penerapan Protokol Kesehatan Transisi 3M Menuju Penerapan 5M" :

3M dan 5M. Pasti tidak asing lagi didengar oleh kita semua, terutama menggunakan masker hampir setiap hari kita memakai masker. Salah satu alat pelindung diri untuk mencegah penularan covid-19, budaya seperti ini perlu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari baik kondisi Covid-19 maupun situasi lainnya.

Memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak (3M) ini menjadi keharusan seluruh warga negara Indonesia baik pemerintah maupun masyarakat umumnya. Sehingga menjadi budaya positif untuk terus diikuti, walaupun virus corona sudah pergi dalam kehidupan kita semua. 

Namum budaya 3M ini, seolah-olah masih belum mendapat respon positif dari pemerintah. Melihat perkembangan yang terjadi masih banyak masyarakat melakukan pelanggaran protokol kesehatan. Untuk itu supaya mengurangi hal tersebut, pemerintah menerapkan menjadi 5M kelanjutan yang sebelumnya hanya 3M menjadi "mengurangi mobilitas dan menjauhi kerumunan".

Walaupun demikian, 3M dan 5M ini masih saja belum menemukan hal yang mujarab untuk mengusir keluarganya virus Corona. Himbauan sudah dilakukan hampir setiap hari dikampanyekan dan di informasikan berulang kali belum mendapatkan titik temunya.

Test Covid-19 (PCR : Polymerase Chain Reaction, Rapit Test, TCM : Tes Cepat Molekuler, Sherology, Swab Antigen, GeNost) dan Vaksinasi :

Alat deteksi covid-19 menjadi solusi dalam berbagai macam aktifitas baik dari unsur perusahaan, organisasi, swasta, pemerintah, dan masyarakat. Dalam perkembangan fenomena kejadian dan kasus virus corona, hal ini sebagai persyaratan untuk kepentingam bisnis baik melakukan pertemuan maupun kegiatan pengembangan bisnis lainnya.

Untuk pencegahan covid-19 ini, walaupun sudah diberikan alat pendeksi lain. Pemerintah tetap menerapkan strategi lain seperti worfk from home (WFH) dengan occupancy 75 % agar tidak terjadi kerumunan ditempat pekerjaan atau tempat lainnya yang sedang menjalankan aktivitas di tempat-tempat tertentu.

Selain WFH, untuk penanganan dan perawatan kasus covid-19 agar lebih cepat pemerintah menerapkan 3T (Testing : Pemeriksaan, Tacing : Pelacakan, dan Treatment : Perawatan). Sehingga bisa terimplementasikan dengan baik, dengan melihat perkembangan kasus covid-19 saat ini.

Selanjutnya bila kita menganalisa bahwa yang dilakukan pemerintah sudah benar dan tepat seperti pemberlakuan pembelajaran online, pembatasan tempat wisata, pembatasan dan protokol kesehatan di tempat-tempat pusat belanja seperti pasar, supermarket, dan mall, mudik dilarang, dan intinya ditempat keramaian dibatasi tetap protokol kesehatan.

Dengan demikian, berdasarkan informasi diatas bahwa kasus covid-19 semakin tinggi dan meningkat. Hal apa saja yang harus dievaluasi dan mengatur strategi baru baik yang sudah dilakukan oleh pemerintah atau yang belum dilakukan. Sehingga bisa berdampak signifikan terutama kasus covid-19 Indonesia semakin menurun.