Beberapa hari yang lalu beredar video Tengku Zulkarnaen yang mengatakan bahwa gaya ceramah ustaz Jawa dan Sumatra itu beda. Ustaz Jawa cenderung berdakwah secara halus dan sopan, sedangkan ustaz-ustaz di Sumatra menggunakan gaya bahasa yang keras dan kasar. 

Sebagai orang Jawa, rasanya saya patut berterima kasih kepada Tengku Zul yang secara tidak langsung telah memperkuat asumsi publik tentang kesopanan dan kelembutan orang-orang Jawa.

Bukan Tengku Zul namanya jika orasi (untuk tidak dikatakan ceramah) serta tindakannya tidak menyeret animo publik untuk ikut bersuara. Baru-baru ini Tengku Zul kembali menyita perhatian publik, khususnya orang-orang yang berada di luar garis afiliasinya. 

Jagat media sosial seketika heboh setelah lelaki kelahiran Medan itu mengampanyekan karakteristik orang-orang Jawa yang lemah-lembut, seperti yang diajarkan Rasulullah SAW Beragam komentar pun membanjiri jagat media sosial, dari yang paling konservatif, moderat hingga komentar yang radikal. 

Saya akan keluar dari itu semua dengan mencoba melihat Tengku Zul dari sisi lain yang berbeda.

Begini. Pada level teologis, kita (muslim) meyakini sepenuhnya betapa Rasulullah SAW adalah satu-satunya makhluk Tuhan yang paling sempurna. Tanpa beban salah dan dosa. Ia sebagai penutup para Nabi dan Rasul yang bukan saja aleh secara ritual, tapi juga saleh sosial. 

Karenanya, dalam Islam, meyakini Nabi Muhammad SAW sebagai salah satu Rasul-Nya merupakan prasyarat utama setelah meyakini zat Allah SWT, sepuluh Malaikat-Nya, dan empat kitab suci-Nya. Kita menyebutnya sebagai ‘rukun iman’.

Islam yang saya pahami mengajarkan prinsip keseimbangan. Sebuah prinsip hidup yang berorientasi pada dua arah; mementingkan praktik ‘ubudiyah’ (peribadatan) di satu sisi dan ‘muamalah’ (sosial/pergaulan) pada sisi yang lain. 

Bentuk praktik yang pertama cenderung pragmatis dan dimaksudkan untuk membangun relasi vertikal yang kuat sebagai bekal akhirat, sedangkan praktik yang kedua sebagai bekal dunia. Sebab kehidupan dunia dan akhirat itu berada dalam satu garis kontinum di mana masing-masing ritus ibadah seyogianya memantulkan pesona kesalehan pada tindak-tanduk manusia. Dan Rasul sudah jauh mempraktikkan itu.

Syahdan; suatu ketika Rasulullah duduk bersama beberapa sahabat. Tiba-tiba seorang pendeta Yahudi bernama Zaid bin Sa’nah menyelinap masuk menerobos shaf, lalu menarik kerah baju Rasul seraya berkata keras, “bayar utangmu, wahai Muhammad, sesungguhnya keturunan Bani Hasyim adalah orang-orang yang suka mengulur-ulur utang.”

Sontak sahabat Umar berdiri sambil menghunus pedangnya. “Wahai Rasulullah, izinkan aku menebas batang lehernya,” katanya berapi-api. Rasulullah berkata, “tiada aku menyuruhmu untuk bertindak kasar. Urusanku dengan orang Yahudi ini harus diselesaikan dengan perilaku lembut dan sopan. Perintahkan saja kepadanya agar menagih utang dengan sopan dan anjurkan kepadaku agar membayarnya juga dengan sopan.”

Sang pendeta tadi tiba-tiba berkata, “demi Allah yang telah mengutusmu dengan kebenaran, kedatanganku padamu tidak murni untuk nagih utang. Aku datang sengaja untuk menguji akhlakmu. Aku telah banyak membaca tentang sifat-sifatmu dalam Taurat. Aku telah menemukan bukti kebenaran apa yang kubaca dalam dirimu, kecuali satu yang belum aku temukan, yaitu sikap lembutmu saat marah. Dan aku sudah membuktikannya sekarang.”

“Oleh karena itu, aku bersaksi bahwa tiada Tuhan yang wajib disembah kecuali Allah dan sesungguhnya engkau Muhammad adalah utusan-Nya. Adapun utangmu padaku, aku sedekahkan untuk kaum muslimin yang berkekurangan.”

Itulah satu dari sekian banyak kisah kelembutan (baca; saleh sosial) Rasul yang merepresentasikan kemapanan hubungannya dengan Allah. Seorang muslim yang mapan secara ritual seyogianya harus mapan secara sosial. 

Dan, saya kira, akan jauh lebih rasional, substansif, dan indah keberagamaan ini jika spirit ‘mengikuti sunnah Rasul’ dititikberatkan pada karakter Rasul yang lemah-lembut, ketimbang memamerkan kepongahan dengan simbol-simbol sekuler. Sehingga ‘sunnah’ bisa didudukkan pada level generiknya.

Sejak sebelum lahir saya orang Jawa yang dibesarkan, dididik, dan didoktrin dengan budaya Jawa. Bahkan barangkali ajaran ‘aja dumeh’ yang diinventarisir oleh Thomas Wijaya Bratawijaya (1997) sebagai pendidikan karakter sudah melekat dalam diri saya sejak dua puluh empat tahun silam.

‘Aja dumeh’ merupakan peribahasa Jawa yang kurang lebih berarti ‘jangan sok’ dalam bahasa nasional. Ajaran ini merangsang kita untuk tidak berbuat sewenang-wenang menuruti hawa nafsu, mengabaikan rasionalitas dan keberadaan orang-orang sekitar. 

Dalam konteks kekuasaan, misalnya, ajaran ‘aja dumeh’ mungkin sangat relevan untuk dijadikan instrumen dalam tubuh kekuasaan, agar jangan menganggap diri sebagai ‘yang paling berkuasa’ daripada yang lain.

Seperti yang tergambar pada Raja Kresna, ‘inggil tan ngukul-ukuli, andhap tan kena ing ngasoran’ (jangan mengunggul-ungguli raja-raja lain, namun tidak berarti harus terus merendah). Nah, orang-orang Jawa, dalam pandangan Thomas (bukan pandangan saya loh, ya), memiliki modal besar itu.

Maka saya tidak tahu dan tidak bermaksud mengasosiasikan orang-orang Jawa sebagai pengikut ‘sunnah Rasul’ yang kaffah. Tapi dalam konteks orasi Tengku Zul yang sangat ekspresif dan menuai pro-kontra itu, setidaknya karakter orang-orang Jawa menunjukkan kelembutan Rasul yang terimplisit dalam orasi lelaki berlelet sorban itu. 

Dan secara tak sadar, ia ingin menegaskan bahwa karakteristik orang-orang Jawa, salah satunya, ya lemah-lembut itu tadi. Jadi, di mana salahnya? Malah bangga saya.

Penting digarisbawahi, tutur kata dan sikap orang-orang Jawa yang relatif lembut itu bukan sesuatu yang generik. Membenarkan pandangan bahwa hanya orang-orang Jawa yang bersifat lemah-lembut dan di luar Jawa kasar-kasar, saya kira tidak adil, hanya akan memperpanjang konflik horizontal masyarakat majemuk, dan pelan-pelan merongrong apa yang disebut Ahmad Suaedy (2018) sebagai ‘kewarganegaraan bineka’.

Saya punya banyak kawan orang Medan. Ya, meski tidak cukup lama kenal, tetapi sejauh yang saya ketahui tidak semua orang Medan pembawaannya kasar, seperti yang dipersepsikan oleh banyak orang. Ada kalanya ia lemah-lembut-seperti orang-orang Jawa yang diekspresikan Tengku Zul, ada kalanya ia kasar. Dan ini juga berlaku bagi orang-orang Jawa tentu saja.

Nah, rupa-rupanya Tengku Zul ini termasuk (salah satu) orang Medan yang pembawaannya cenderung kasar. Blak-blakan ketika berbicara. Tak ayal, jika kehadirannya di ruang publik sering berbuah kritik para pemirsanya. 

Tapi betapapun ia kasar, dalam konteks orasinya yang memperhadapkan karakteristik orang-orang Jawa dengan Medan secara vis a vis, saya menganggapnya tak lebih dan tak kurang hanya sebatas humor.

Usut punya usut, selain sebagai Wasekjen MUI pusat, ternyata Tengku Zul juga merupakan sosok yang memiliki daya humor tinggi. Lihat saja argumen-argumentasinya di ruang publik yang mampu memecahkan gelak-tawa khalayak, karena sarat dengan humor. 

Mengenai RUU PKS, misalnya, dengan tegas ia bilang bahwa pemerintah hendak melegalisasi perzinahan dan menyediakan alat kontrasepsi bagi remaja melalui RUU tersebut. Lucu, kan? 

Hal yang tak kalah lucu ia tampilkan saat membaca tashrif ishtilahi (dalam ilmu shorof) kata ‘kafara’ dengan ‘kafara-yukaffiru-kufran’. Maksud hati ingin mengkritisi hasil Munas Alim Ulama NU tentang term kafir, tapi apalah daya justru dikritik balik oleh adik-adik santri yang kurang peka hakikat humor.