Friedrich Engels membuka kalimat buku kecil ‘The Part Played by Labour in the Transition from Ape to Man’ dengan “Labour is created of all wealth”. Lalu, apa bentuk tenaga kerja yang membentuk kekayaan tersebut? Yakni tak lain adalah bentuk konkret materialnya, yakni tangan. Tetapi, perkembangan tenaga kerja melalui tangan tidak sekelebat mata menjadi hebat. Ia melalui proses yang panjang dari manusia primitif hingga manusia modern.

Manusia primitif sejak beribu-ribu tahun yang lalu memulai aktivitas dengan berjalan 4 kaki, lalu seiring perkembangan zaman mulai berdiri dengan 2 kaki secara perlahan, karena kondisi yang memaksanya (seperti loncat karena ancaman datang). 

Seiring zaman pula, kedua tangan yang terlepas dari “belenggu 4 kaki itu” ia pergunakan untuk mencari makan tumbuh-tumbuhan, membuat “rumah” tempat berlindung, bergelantungan, hingga melawan ancamannya. Sehingga, kata Engels, tangan manusia sejak mulanya sudah menjadi produk dari tenaga kerja manusia. 

Seperti yang tertera dalam hukum gerak perkembangan dari Charles Darwin, di mana perkembangan atau pertumbuhan cabang tubuh manusia juga memengaruhi perkembangan bagian tubuh yang lain walaupun terpisah atau tidak terhubung. Jadi, perkembangan tangan yang sudah disebutkan memengaruhi perkembangan otak manusia dan tubuh manusia secara keseluruhan.

Perkembangan tangan pun tidak langsung menjadi lihai atau sempurna. Ia, mula-mula, diasah melalui perkembangan kondisi material seperti; membuat peralatan sederhana, batu-batuan kasar, pisau-pisau kecil tak sempurna, hingga kapak genggam. Ketika melalui tahap-tahapan seperti itu, otak, otot, ligamen, dan cara berpikir manusia primitif juga ikut berkembang.

Manusia primitif pada awalnya hidup menghabisi sumber daya alam yang ada, seperti menghabisi tumbuh-tumbuhan, rumput-rumputan, dll. Manusia primitif malah menghabisi segala-galanya tanpa menyisakan apapun untuk generasi selanjutnya. 

Hal tersebut, seperti yang dikatakan Engels, sebagai “Predatory Economy”. Perkembangan selanjutnya, manusia primitif dengan material keadaan tersebut memaksa mereka untuk berpikir dan tangan sebagai konkret alat tenaga kerja pun bekerja. 

Pada awalnya, mereka membuat peralatan sederhana berupa pancingan dan tombak untuk mendapatkan daging-dagingan. Hal ini menandakan perubahan peralihan bentuk makanan manusia primitif dari nabati ke hewani. 

Secara ilmiah, daging-dagingan menyebabkan kondisi otak manusia berkembang signifikan. Kembangnya otak ini menyebabkan 2 peristiwa peradaban manusia terjadi, yakni penemuan api dan domestikasi hewan. 

Selama penemuan api tersebut, zaman pun berubah, kondisi tangan manusia pun semakin mampu membuat peralatan yang lebih baik dari sebelumnya seperti alat-alat logam. Produksi alat-alat logam saat itu memang lebih sederhana daripada produksi zaman baru yaitu dengan cara melelehkan logam, kemudian menempatkan cairan metalik ke dalam cetakan alat yang akan dibuat.

Perubahan evolusi manusia primitif ke manusia modern seperti sekarang menghasilkan beribu-ribu kokohnya material tangan. Bahkan Engels menyebutkan, secara kemampuan, tangan Neandarthalensis yang paling terbaik akan tetap kalah dengan manusia modern biasa. 

Manusia modern mampu mengerjakan operasi-operasi yang rumit dan kompleks , mengerjakan sesuatu dengan sempurna dan lebih sempurna lagi. Sehingga kita bisa melihat karya tangan indah berupa lukisan karya Raphael dan Caravaggio, hingga kerumitan patung David karya Michelangelo.

Serta tenaga kerja tangan yang modern itu menampakkan hasilnya dengan adanya teknik agrikultur yang bervariasi, kegiatan menenun dan membatik yang dilakukan oleh masyarakat Jawa, pembuatan kapal-kapal besar yang menghantar bangsa Eropa untuk menjelajahi dunia baru. 

Dalam bidang industri, perkembangan mesin-mesin sederhana dari pacul, palu, traktor, ke kincir angin biasa hingga pembuatan mesin uap yang dilakukan oleh James Watt pun menunjukan perkembangan tangan yang luar biasa.

Pembeda antara tenaga kerja manusia primitif dan manusia modern

Hewan dan manusia primitif dari zaman lampau hingga zaman sekarang menunjukan pola perilaku tenaga kerja yang cenderung destruktif terhadap alam. Mengapa bersifat destruktif? Karena perkembangan mode tenaga kerja produksi mereka hanya bersumber pada kepemilikan dan keperluan atas diri mereka sendiri. 

Dengan menggunakan kekuatan tenaga kerja mereka yakni kondisi tangan, mereka menghabiskan sumber daya alam yang ada untuk memenuhi kebutuhan mereka sebagai keberlangsungan hidup. 

Tetapi pola destruktif manusia primitif ini tetap berlangsung selama tahapan perkembangan sejarah manusia, dimulai dari perbudakan, barbarisme, feodalisme, hingga kapitalisme. Ya, itu berarti “keprimitifan” manusia modern sekarang masih merajalela.

Perbudakan, di mana kelas atas memiliki budak-budaknya untuk mengeksploitasi suatu wilayah alam lain untuk keuntungan mereka sendiri tanpa memperdulikan konsekuensi tindaka tersebut. Tahapan feodalisme, tuan tanah memegang kendali beribu-ribu petani kecil dan memekerjakan mereka pada eksploitasi tanah besar-besaran. 

Dan, ditahap kapitalisme saat ini, dimulai saat industri mulai tumbuh subur dan asap tebal mengepul tinggi berwarna hitam mengakibatkan rusaknya lingkungan—destruktif. Menurut European Environment Agency (EEA), sekitar 90% penduduk kota di Eropa terpapar polutan pada konsentrasi yang lebih tinggi dari tingkat kualitas udara yang sianggap berbahaya bagi kesehatan.

Sedangkan di Tiongkok, pabrik dunia saat ini, tingkat polusi Tiongkok akibat pabrik industri semakin gila. Sebuah studi oleh Health Effects Institute, menemukan bahwa polusi digambarkan tingkat PM2 yang tidak sehat, yang pada akhirnya menyebabkan kematian dini di Tiongkok pada 2019. 

Di Indonesia sendiri, salah satu yang paling menarik akhir-akhir ini adalah rencana perusahaan tambang swasta dalam mengeruk kekayaan emas di Kepulauan Sangihe. Jika memang ini benar-benar terjadi, maka berpotensi menyebabkan burung endemik punah, merusak lingkungan dan kehidupan masyarakat. 

Apakah pemilik saham terbesar PT Tambang Mas Sangihe, Terry Filbert, memikirkan sejauh itu? Tentu tidak. Ia hanya memikirkan profit pribadi.

Jadi, tenaga jerja sampai saat ini bersifat primitif-destruktif. Lalu, apa pembeda dengan manusia “modern” yang dikehendaki oleh Engels? Yakni, bersifat konstruktif. Mengapa secara konstruktif? Karena menurut konsepsi materialis Engels, manusia sejatinya bersinambungan dengan alam (karena sama-sama material) dan manusia ialah produk benda alam. 

Pada akhirnya, hubungan manusia dengan alam selalu bergandengan tangan dan tenaga kerja manusia akan berakhir pada ke-kolektif-an (tidak berdasarkan ambisi pribadi). Dan, tenaga kerja berbasis kolektif ini, menfhantarkan alam seolah-olah melayani kepentingan umat manusia lebih dalam lagi. 

Tenaga kerja yang berbasis kolektif bagaimana? Yakni sosialisme. Lalu, apakah masa depan akan menuju sosialisme seperti kehendak Engels?