Laporan Tempo minggu ini menuai perhatian publik, juga media. Di saat media online sibuk meng-update berita aksi demo, Tempo memuat headline dengan judul “Rusuh oleh Siapa”.

Tak ada yang seberani Tempo, mengupas bagian-bagian yang tak terjangkau media lain. Mungkin ada yang lebih berani, tapi mereka tak cukup punya waktu. Terutama media online yang harus kejar setoran. Menjadi yang pertama adalah kunci, begitulah doktrinnya, jika ingin tetap berada di jalur kompetitif. Demi uang.

Berkat laporan investigasi siapa di balik kerusuhan 22 Mei, ulasan Tempo jadi viral. Orang-orang membagikan. Mungkin dibaca jutaan orang sebelum majalah itu terbit. Dalam skema daringTempo kehilangan peluang untuk mendapatkan banyak uang.

Tapi, lupakan soal uang. Kita bicara tentang kualitas konten. Jika berita sekadar informasi, ia bisa setara dengan status akun-akun Facebook. Apalagi, kini jurnalis sudah menambah daftar kode etik, mereka menciptakan istilah copywriter untuk membenarkan copas (copy-paste). Semua demi rating-viewers. Demi uang.

Mereka hanya butuh menyiarkan, peran yang sebenarnya sudah banyak direbut oleh media sosial. Untuk mengetahui kejadian hari ini, cukup buka Facebook. Tinggal pilih grup-grup untuk menyesuaikan konten yang diinginkan.  

Dan tanpa sadar, kita kehilangan makna. Banjir informasi tak memberi kita waktu untuk sekadar merenung, “mengapa ini terjadi?”

Padahal, kejadian hari ini tidak berdiri sendiri. Ia terkait dengan peristiwa kemarin, juga menjadi sebab apa yang akan terjadi esok. Karenanya, kesabaran menjadi kunci. Prinsip ini yang hingga kini dipegang Tempo. Sesuatu yang tak akan ditemukan di media-media online, yang hanya mengejar berita.

Tak heran jurnalis-jurnalis online bekerja 24 jam. Mereka harus melek tiap saat. Gadget harus on terus. Demi mengabarkan peristiwa setiap hari, setiap jam, setiap menit.

Apa yang sedang berubah? Apakah di era android, kejadian memang berlangsung begitu cepat? Ataukah hanya keingintahuan yang memaksa semua informasi harus segera di-share? Termasuk penerbangan Prabowo ke Dubai?

Tempo Prabowo

Kemarin Prabowo terbang ke Dubai, beserta rombongan lanjut ke Austria. Hampir semua media online merilis kepergian Prabowo. Tak masalah isi berita sama dengan media lain, hanya judul yang dipermak.

Apa yang dilakukan Prabowo di Austria? Mengapa harus transit di Dubai? 

Jika semua pertanyaan itu harus dijawab hari ini, maka bisa dipastikan hasilnya hanyalah rekaan, sangat spekulatif. Jika memaksakan untuk menemukan jawabannya, maka statusnya masih rumor. Seperti kata Adele, “But rumour has it he's the one I'm leaving you for…”

Bagaimana memperoleh informasi tentang apa yang mendorong Prabowo pergi? Ya, tanya langsung ke Prabowo atau orang-orang yang ikut dengannya.

Mengapa Prabowo dengan entengnya meninggalkan Indonesia, di saat pembelanya masih kelelahan setelah aksi rusuh 22 Mei? Prabowo harusnya tahu, sekitar 400 orang perusuh—bukan pendemo—ditangkap aparat. Apakah kepergiannya kali ini sudah diisyaratkan sebelumnya di dalam wasiat kekalahannya? Entahlah. Dan itu tak lagi penting.

Meski, kepergian Prabowo mengisyaratkan sesuatu yang genting. Empat jenderal yang menjadi target pembunuhan, bahkan baru terkuak setelah pengakuan enam eksekutor. Ada skenario rusuh yang mengikuti aksi di depan gedung Bawaslu. Perlahan-lahan rencana rusuh itu terkuak. Skenario itu bahkan melibatkan oknum purnawirawan militer.

Entah apa lagi yang ada di benak Prabowo? Lima tahun setelah 2014, serasa baru saja terjadi. Dan keributan ini, masih tentang Prabowo. Penantian lima tahun mungkin terlalu lama baginya, apalagi ditambah lagi lima tahun. Bisa dibayangkan hari-hari yang dilaluinya.

Kini, mungkin tempo Prabowo bergerak laiknya irama rap. Tapi ia kesusahan menyesuaikan nada. Yang terjadi tak sesuai rencana. Atau lebih tepatnya, semua rencana-rencananya kini gagal. Skenario terakhir berjalan tak sesuai perhitungan. Penggerak people power dicokok sebelum aksi mereka dimulai.

Pengepungan KPU sepertinya sudah diprediksi, pengumuman pemenang dibacakan dini hari. Antiklimaks aksi 22 Mei. Hanya yang tersisa pengaduan ke MK. Anggaplah pelipur lara, atau upaya mengalihkan perhatian.

Tempo Merenung 

Laporan investigatif Tempo hadir seperti mengetuk kesadaran tentang perlunya merenung. Sebagaimana butuh perenungan dan sedikit daya imajinasi untuk menemukan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan ‘untuk apa Prabowo ke Austria?’.

Tempo tetaplah tempo. Ia memahami waktu sebagai sesuatu yang elastis. Tak ada peristiwa yang benar-benar selesai dan tamat. Setiap kejadian akan selalu dilihat dalam mekanisme multicausalitas. Tak ada objektivitas.

Tak perlu direnungi, Prabowo pergi tentu bukan karena ia tiba-tiba ingin meninggalkan Indonesia. Dan seharusnya sudah cukup bagi kita untuk mencoba memahami potongan-potongan kejadian, kaitannya, dan implikasinya.  

Kisah seorang bisa ditutup ketika ia mati. Tapi, Tempo akan selalu hadir sebagai spektrum waktu. Ia bertahan karena visi, bukan ambisi.