Indonesia memiliki kekayaan budaya yang cukup beragam. Salah satu budaya yang populer adalah budaya Jawa. 

Dalam tradisi Jawa, ada berbagai macam jenis musik, tembang (lagu), dan alat musik. Alat musik yang cukup populer adalah gamelan. 

Salah satu film horor di Indonesia memuat budaya Jawa, yakni Film Tembang Lingsir. Film ini menceritakan kehidupan keluarga Jawa. Ayahnya yang bernama Gatot merupakan pengusaha yang kaya raya. Gatot memiliki tiga anak dan satu istri.

Pada awalnya, Gatot lahir dari keluarga yang tidak mampu. Ayahnya Gatot memiliki banyak utang hingga pada akhir hayatnya. Alhasil, Gatot harus melunasi utang-utang ayahnya.

Dalam tradisi Jawa kuno, ada ritual untuk mendapatkan kekayaan tanpa harus bekerja. Masyarakat mengenalnya dengan sebutan “pesugihan”. Dalam pesugihan inilah Gatot melakukannya demi menghidupi dan membayar utang-utang ayahnya. 

Tetapi, dalam pesugihan, ada satu risiko yang cukup besar. Risiko yang harus di tanggung, yakni mengorbankan salah satu anak perempuan yang masih gadis untuk menjadi tumbal.

Tumbal dapat diartikan sebagai jaminan. Secara sederhana, anak tersebut harus mati dan menjadi milik dari Kanjeng Ratu (pemberi pesugihan). Pada saat itu, Gatot menyetujui kesepakatan dengan Kanjeng Ratu dan berjanji untuk memberikan anak gadisnya setelah berumur tujuh belas tahun.

Sesuai dengan judul Tembang Lingsir, lagu tersebut dapat memutuskan perjanjian dengan Kanjeng Ratu. Di saat itulah pesugihan tersebut tamat atau selesai. 

Tembang Lingsir, menurut film tersebut, merupakan lagu Jawa yang digunakan untuk mengusir roh-roh jahat. Tembang tersebut dapat dinyanyikan tanpa bantuan alat musik atau dengan alat musik gamelan.

Di saat anak gadis tersebut masih kecil (Mala namanya), ibunya selalu mengajarinya mengenai Tembang Lingsir ini. Tujuan ibunya mengajari Mala adalah agar Mala selalu selamat dan tidak diambil oleh Kanjeng Ratu. 

Di awal film tersebut, ibu Mala mati terbakar di rumahnya sendiri di saat ibunya menyanyikan lagu Tembang Lingsir. Akhirnya, Mala dapat diselamatkan oleh Gatot yang sebenarnya ayah kandungnya sendiri. 

Mala dikisahkan bahwa ia tidak dapat berbicara akibat luka bakar yang saat itu melanda rumah ibunya. Jika Mala ingin berbicara, Mala menggunakan papan kecil untuk menuliskan apa yang ingin dia bicarakan.

Pada awalnya, Gatot tidak menceritakan kepada anak dan istrinya jika Mala adalah anak kandungnya. Ia hanya bercerita bahwa Mala adalah keponakan satu-satunya. Ibunya yang merawat Mala dari kecil hingga dewasa merupakan kakak Gatot.

Pada saat Mala tinggal bersama Gatot, Mala sering mendapat mimpi buruk dan kejadian aneh. Terkadang ia mendengarkan suara gamelan yang memainkan musik sendiri tanpa ada yang memainkannya. Selain itu, Mala sering melihat sosok makhluk halus yang terdapat di rumah Gatot. 

Salah satu pembantu di rumah Gatot sudah memperingatkan kepada Gatot untuk tidak membawa Mala ke rumahnya. Pembantu di rumah Gatot sebenarnya adalah dukun. Selain berpura-pura sebagai pembantu rumah tangga, ia sering mengingatkan Gatot untuk mempersiapkan ritual tumbal.

Pada saat itulah kejadian aneh terus muncul dalam rumahnya. Rumah bagian belakang Gatot terdapat pohon tua yang sudah mati. Tempat tersebut sudah menjadi angker. 

Gatot dan pembantunya menduga tempat persembunyiannya Kanjeng Ratu. Pembantunya sering memberikan sesaji berupa bunga-bunga dan wangi-wangian untuk diletakkan di dekat pohon tua tersebut.

Di saat waktunya tiba, Gatot berkata terus terang kepada istrinya. Pada film tersebut, istrinya tidak percaya dengan hal-hal mistis karena ia adalah seorang muslim. 

Pada saat Gatot memberitahukan kepada istrinya, istrinya merasa tidak percaya dengan Gatot lakukan. Selama ini, istrinya mengira bahwa Gatot tidak melakukan pesugihan untuk mendapatkan kekayaan yang secara instan.

Di saat malam tiba, rumah yang didiami oleh keluarganya mati lampu. Semua rumahnya dipenuhi oleh akar-akar. Jika dilihat sepintas, akar tersebut merupakan seperti akar pohon beringin yang bergelantungan ke bawah. Gatot dan istrinya pun kebingungan dan memohon kepada Kanjeng Ratu untuk tidak mengambil Mala sebagai tumbal.

Kala itu, Mala dan anak-anaknya sudah terlilit oleh akar-akar yang dilakukan oleh Kanjeng Ratu. Mala yang terlilit tidak dapat bernafas dan tidak sadarkan diri. Suasana film tersebut semakin horor dan mencekam. Akhirnya, Gatot meminta kepada Mala untuk menyanyikan Tembang Lingsir untuk memutus hubungan dengan Kanjeng Ratu.

Sudah sekian lama Mala tidak sadarkan diri, akhirnya Gatot meminta kepada Amanda untuk membantu Mala untuk menyanyikan lagu Tembang Lingsir. Seperti diketahui, Amanda dan Mala merupakan anak Gatot yang kembar secara fraternal. Di akhir film, Mala berhasil menyanyikan lagi Tembang Lingsir dan akhirnya Mala selamat dari tumbal Kanjeng Ratu.

Film Tembang Lingsir merupakan film horor Indonesia yang mengangkat dari kebudayaan Jawa. Namun, saya tidak tahu apakah lagu Tembang Lingsir benar-benar lagu untuk mengusir roh jahat. Melalui film ini, semua orang dapat melihat betapa jahatnya melakukan pesugihan.

Pesugihan merupakan sarana untuk mendapatkan harta kekayaan yang secara tiba-tiba. Memang sungguh nyaman awalnya, tetapi pesugihan bukanlah jalan yang tepat. Pesugihan hanya dapat membuat oang menjadi takut, cemas, dan hal-hal negatif lainnya. 

Dengan demikian, semoga film ini dapat membuka wawasan kita untuk mencari penghasilan dengan cara yang mudah, nyaman, dan tidak menggunakan hal-hal yang gaib.