Sebagai mahasiswa baru, kita harus mempunyai relasi yang luas untuk menjalani masa transisi dari siswa ke mahasiswa di lingkungan baru. Hal itu didapatkan jika kita berani, mau, dan mampu untuk berkenalan dengan orang baru.

Ada kalanya, orang yang diajak berkenalan adalah orang yang ramah. Selain ramah, ia juga baik hatinya dan sangat rupawan paras yang dimilikinya.

Namun, tidak jarang juga akan ditemui orang yang good looking, but perilakunya tidak sebanding dengan keindahan rupa yang dimilikinya atau boleh dibilang dia tidak punya akhlak.

Akan tetapi, kebanyakan orang selalu ramah dan baik di awal perkenalan. Kebanyakan orang akan tercium perilaku buruknya, ketika kita dalam kesusahan dan dia tidak mau untuk dimintai bantuan.

Temanku pernah bercerita kepadaku, jika ia sedang lelah dengan teman kuliahnya. Mau bagaimana lagi, di awal dia baik dan wajahnya juga cantik. Tapi ketika diminta bantuan untuk menyelesaikan  tugas kerja kelompok secara bersama, ia tidak mau bekerja sama sekali.

Akhirnya temanku mengerjakan tugas kelompok sendirian. Karena hal itu, telah terjadi berulang kali, temanku pun sangat merasa terbebani karena teman satu kelompoknya tidak mau bekerja sama dan hanya numpang nama.

Sangat toxic sekali orang-orang seperti itu, tidak mau bekerja keras menyelesaikan tugasnya sebagai mahasiswa dan malah ingin menerima enaknya saja.

Pengalaman yang dialami temanku itu, membuatku waspada dengan orang-orang toxic di dunia perkuliahan. Dan aku sangat menyayangkan sikap temanku yang tidak mau speak up dan pasrah sampai saat ini.

Selain ditemukan dalam sebuah project kelompok, orang toxic juga ditemukan di sebuah sirkel pertemanan di mana ada seseorang yang toxic karena meracuni pikiran teman-teman lainnya untuk melakukan perilaku buruk.

Hal tersebut juga ada dalam sirkel pertemanan temanku, di mana temannya itu selalu mengajak untuk berfoya-foya dan mengajak untuk tidak terlalu perhatian kepada tugas-tugas perkuliahan.

Mengetahui hal itu, aku bersyukur karena semua temanku berperilaku baik dan selalu mengingatkanku untuk berbuat baik juga.

Fenomena orang toxic ini tidak hanya muncul di dunia perkuliahan, tetapi juga sudah muncul pada dunia anak-anak millennial. Anak-anak yang saya maksud adalah anak kelas 5 SD.

Hal itu, saya mengamatinya di lingkungan sekitar saya. Dimana ada salah satu anak dalam sebuah pertemanan itu yang berlaku bossy atau memerintah, terutama memerintah untuk berteman kepada orang yang good looking saja, sebut saja dia Ana.

Hal itu saya ketahui, ketika saya mencoba menemui salah satu anak dalam sirkel pertemanan tersebut. Dan ia pun sedang didiamkan atau dijauhi oleh beberapa temannya karena tidak mau mengikuti aturan yang dibuat Ana.

Sangat miris dan menyedihkan, ketika mengetahui hal tersebut. Semua itu karena anak-anak millennial di lingkungan saya berpotensi untuk menjadi orang toxic nantinya.

Namun, saya tetap berharap agar mereka bisa bertaubat. Terutama si Ana, semoga saja ia tidak suka memerintah dan mengatur teman lain untuk melakukan hal negatif.

Menurut saya orang toxic itu  juga bisa didefinisikan sebagai orang yang hanya memanfaatkan kita saja dan apabila kita sendiri sedang kesusahan maka orang toxic itu pun akan acuh bahkan menghilang jauh dari diri kita.

Sebanding dengan perkembangan teknologi, ternyata orang toxic juga ditemukan di dunia maya tidak hanya di dunia nyata saja. Hal itu terjadi, ketika seseorang sudah nyaman dengan teman online di dunia maya, dan mau melakukan apa saja yang diperintahkan teman entah itu perilaku positif maupun negatif.

Seiring dengan bertambahnya usia, kini aku mulai menyadari betapa kerasnya dunia ini. Tak ku sangka jika aku telah melewati berbagai fase pertemanan. Tak terhingga juga banyaknya orang yang telah ku ajak berkenalan.

Tak heran, jika orang toxic mudah ditemukan dan sering diperbincangkan. Hal tersebut terjadi karena orang toxic pandai menutup rapat rahasia, boleh dibilang bermuka dua atau munafik.

Entah mengapa, korban orang toxic kebanyakan hanya diam, tak mau membela diri dan juga tak pernah mau membalaskan dendam.

Tak wajar dalam sebuah pertemanan, jika ada satu orang yang sangat dirugikan. Rugi karena harus menjadi korban keegoisan orang toxic dalam sirkel pertemanan.

Pedihnya dunia pertemanan kian membara. Membara dibalik kata teman namun juga berkedok bos dan bawahan.

Sulit aku jabarkan mengenai cerita panjang orang toxic dalam kehidupan. Berbagai pengalaman dan pengamatan yang telah aku lakukan sangat menyadarkan diriku untuk meningkatkan kewaspadaan.

Aku terlalu salah dalam menilai kebaikan orang. Kukira dia teman, tapi semakin hari tingkahnya toxic sekali.

Cukup sekali aku mengalami buruknya sebuah sirkel pertemanan dan aku tak ingin mengulang lagi, karena semakin banyak pertemanan yang telah ku amati itu terdapat orang toxic yang banyak sekali.