Melihat sebuah kisah pertemanan dari dua filsuf dan sastrawan asal Perancis yang pernah menjalin persahabatan selama sepuluh tahun yang pada akhirnya mereka berdua memutuskan tali persahabatannya. Perbedaan pada mereka yang terlihat dari yang terakhir dan paling prinsipil adalah perseteruan mereka tentang komunisme. Mereka ialah Albert Camus dan Jean-Paul Sartre.

Dalam gambaran singkat dari kisah pertemanan di atas sedikit menggambarkan bahwa keegoisan dari suatu paham ideologi mampu memecahkan sebuah jalinan yang mengasikkan dari pertemanan.

Sejatinya memang manusia adalah makhluk sosial yang saling berinteraksi dan membutuhkan satu dengan yang lainya. Tetapi pada kenyataannya manusia memiliki kecenderungan yang berbeda dari persepsi-persepsi yang hadir memberikan interest yang berbeda pula. Sehingga dalam praktiknya, pertemanan sendiri sering kali tidak lepas dari sebuah penjurian yang menilai bahwa seberapa besar kebermanfaatannya terhadap apa yang menjadikan keberlangsungan hubungan tetap berjalan dalam keberpihakan.

Pertemanan bisa menjadi kegiatan dari berkamuflasenya interaksi politik. Sebab pertemanan sendiri bisa menghadirkan yang namanya ambisi dari eksistensi yang berujung pada seberapa kuat dari hegemoni menghegemoni. Otomatis perteman sendiri berdalih kebaikan yang dimonopili.

Teman bukan hanya hadir di tengah kita sebagai sosok yang sempurna, yang mampu melengkapi segala kekurangan kita. Tetapi teman hadir sebagai guru pada perbedaan-perbedaan yang ada untuk saling belajar mengintrospeksi diri pada ruang cita-cita dan sela-sela kehidupan sosial kita.

Karena dalam pertermanan sendiri bukan penggantungan dari sebuah harapan, yang sebagaimana dianalogikan tumbuhan benalu yang hidup subur di pohon yang rindang. Melainkan yang hadir nantinya adalah kekecewaan yang diciptakan oleh diri kita sendiri.

Pada akhirnya kita memberikan suatu justifikasi yang dirasa menyedihkan sekali. Berteman adalah kesederhanaan membangun entitas kecil yang berelasi sosial, bukan menjadikan teman sebagai suatu objek kelancaran dari kepentingan kita secara personal.

Ketika yang terbangun pada awal pertemanan yaitu niat untuk memperlancar langkah tujuan kita tanpa menimbang keterbukaan yang bersifat alamiah, maka pertemanan sendiri akan kehilangan esensinya. Bisa jadi seperti masakan yang hambar rasanya, walaupun segala rempah-rempah terolah di dalamnya. Berteman cukup dengan berteman saja. Mengenai segala cita-cita individu harus diselaraskan dengan subjek pertemanannya yang berifat umum dan luas.

Agar pemaksaan atau keterpaksaan kehendak tidak membelenggu asiknya situasi pertemanan. Pada proses pertemanan terdapat dimensi yang berbeda, di mana kita harus memposisikan personal yang mampu mentransformasikan ide atau gagasan kita dan juga pada dimensi yang lainya menawarkan kebebasan yang merdeka penuh keasikkan sebagaimana biasanya, agar tidak membedakan segala kepentingan yang dibangun pada pandanagan ideologi masing-masing.

Sederhananya pula dalam berteman ialah tidak menjadikan dirinya menjadi kita, atau kita menjadi dirinya. Tetapi kenikmatan perbedaan yang ada menumbuhkan sesuatu dari ideologi yang baru menuju pada kedewasaan berpikir dan bertindak. Sebab kita sering kali mencari irisan-irisan perbedaan dari pada kesamaannya yang sejatinya itu bisa menjadi perekat kesetian dalam menjalankan pertemanan.

Bergembiralah berteman dengan siapapun tanpa harus menguatkan kehendak individual, karena dengan berteman kita mampu dan bisa mewujudkan cita-cita kita nantinya, dengan bersama kita pasti bisa. Perlu diingat pula bahwa teman yang paling dekat bisa menjadi lawan yang paling kuat nantinya, jaga pertemanan sebagaimana alamiahnya, jika kehendak pribadi memuncak maka cegalah itu.

Supaya penghianatan intelektual tidak terjadi pada pertemanan kita. Teman bisa menjadi keterbukaan langkah dari pembelajaran pengembangan diri yang lebih baik lagi pada bentuk komunikasi maupun kesadaran pribadi. Dalam berteman juga kita harus mengkedepankan sifat asah, asih dan asuh sebagai pembinaan langkah pertemanan yang manusiawi. Karena berteman itu bukan dari karena-karena, cukup berteman saja!