Diskusi ini terjadi pada Minggu pagi, 16 Agustus 2020, sehari sebelum Indonesia merayakan ulang tahunnya yang ke-75 tahun. Kala itu, saya bersama dua teman sedang menyaksikan secara langsung ajang seni bela diri campuran, Ultimate Fighting Championship atau yang lebih akrab di singkat dengan UFC.

Sembari menonton acara olahraga yang disiarkan secara langsung dari Las Vegas, Nevada, Amerika Serikat tersebut, terlintas dalam diskusi kami membahas para 'gladiator' yang sedang berlaga pada perhelatan itu seraya menikmati suguhan kopi panas dan roti cokelat yang disajikan oleh tuan rumah.

Selain membahas para atlet yang berlaga di ajang akbar tersebut, kami juga menyelipkan bagaimana cara untuk menaikkan kualitas atlet seni bela diri campuran sehingga mereka mampu mengibarkan Merah Putih setinggi-tingginya di liga internasional, mungkin diskusi ini juga terpancing karena H-1 sebelum negara kami merayakan ulang tahun ke-75nya.

Memang belakangan ini, baik lewat jurnal ilmiah ataupun podcast serta video dokumentasi yang ada di jejaring daring, saya kerap mencari tahu rahasia sukses negara-negara penghasil atlet terbaik dunia, Kuba salah satunya.

Mantan negara komunisme tersebut tercatat berhasil mencetak begitu banyak atlet berprestasi peraih medali di ajang bergengsi seperti perhelatan akbar Olimpiade dan turnamen tingkat dunia lainnya. Prestasi tersebut berhasil diraih oleh Kuba bukan karena kebetulan, melainkan sistem dalam dunia olahraga yang sengaja diciptakan oleh rezim Fidel Castro, mantan presiden yang memimpin negara tersebut selama 32 tahun.

Guna menjaring terbaik dari yang terbaik, sistem tersebut dirancang layaknya gambaran sebuah 'piramida'. Pembibitan seluruh calon atlet dilakukan sedari kecil dengan porsi latihan terstruktur, nantinya siapa pun yang berada di puncak piramida dianggap layak mewakili Kuba pada ajang olahraga dunia.

Menurut penuturan salah satu mantan atlet gulat Olimpiade asal negara Kuba yang kini berlaga di UFC, Yoel Romero, penyaringan dan pembibitan atlet biasanya dilakukan sedari usia enam tahun. Yoel yang berkisah di acara podcast 'Joe Rogan Experience' menambahkan, nantinya setelah dilatih beberapa waktu, pihak pemerintah Kuba yang menangani di bidang olahraga (mungkin di sini seperti Kemenpora) akan menentukan cabang olahraga seperti apa yang cocok untuk masing-masing individu.

Tahapan selanjutnya, mereka akan dimasukkan ke asrama khusus atlet yang telah disiapkan oleh pemerintah Kuba. Di sana para atlet muda akan menjalani sesi pelatihan rutin setiap harinya sembari tetap bersekolah. Yoel mengatakan, pada dasarnya hal tersebut mirip dengan 'military system'.

Selain rutinitas yang penuh dengan kedisiplinan dan perjuangan, para atlet muda di sana juga harus menghadapi tantangan lain, yakni kemungkinan untuk bertanding antar-sesama kawan. Meski telah tinggal dan berlatih bersama, persaingan di antara mereka disebut-sebut sangat tinggi.

Dengan menjaga persaingan, setiap orang diharapkan akan menunjukkan kemampuan terbaiknya. Hal tersebut nantinya turut berpengaruh pada insentif yang diterima masing-masing individu. 

Yoel mengatakan, jika berhasil menjadi atlet peringkat satu, maka orang tersebut akan mendapatkan akomodasi terbaik dari pemerintah. Sementara bagi mereka para atlet peringkat bawah, jangan harap dapat duduk satu meja makan dengan atlet peringkat atas.

Melalui hal tersebut, kita dapat melihat bagaimana sistem yang dirancang dan dijalankan dengan baik dapat menuntun terciptanya atlet-atlet top dunia. Strategi jitu Kuba terbukti efektif menjadikan mereka 'langganan' peraih medali di ajang bergengsi, khususnya pada cabang olahraga tinju, gulat, dan bisbol.

Menurut artikel akademis dari seorang professor University of Louisville, Julie Marie Bunck, yang berjudul The Politics of Sports in Revolutionary Cuba, perubahan besar di bidang olahraga ini dimulai pada 1961, ketika negara yang beribukotakan Havana ini menganut ideologi Marxist-Leninist.

Transformasi tersebut dilakukan melalui organisasi INDER (Instituto Nacional de Deportes, Educacion Fisica y Recreacion) yang secara struktural dan sistematis dibentuk untuk tujuan-tujuan politis yang mempermudah pemerintah Kuba dalam melakukan kontrol sosial terhadap masyarakat.

Di samping itu, Castro mengerti betul bahwa olahraga dapat menjadi kendaraan diplomasi Kuba untuk menunjukan prestise serta kekuatannya di kancah internasional. Mengingat secara letak geografis dan perkembangan ekonomi negara ini tidak sekuat negara lainnya.

Dalam perjalanannya, Fidel Castro memercayai pembentukan 'new man' ala ideologi komunisme, di mana manusia baru ini diharapkan hidup tanpa rasa egoisme, anti-materiliastis, dan memiliki loyalitas tinggi terhadap negara. Sementara itu, menurutnya, medium yang paling tepat dalam menciptakan manusia di dalam khayalan utopisnya tersebut ialah melalui olahraga.

Sifat olahraga yang sarat akan kompetisi dan aksi unjuk kebolehan merupakan sarana yang tepat bagi rezim Castro unjuk taring kepada dunia internasional. Dari sejarah panjang tersebut, sampai saat ini Kuba telah berhasil mengantongi sebanyak 226 medali Olimpiade.

Sebagai penutup esai pendek ini, tanpa bermaksud mendukung ideologi yang diusung oleh negara Kuba pada saat itu, sebagai wilayah kesatuan yang tidak memiliki cakupan geografis yang luas serta perkembangan ekonomi yang tidak semaju negara lainnya, Kuba mampu dengan maksimal memanfaatkan sumber daya manusia yang dimiliki guna untuk menorehkan prestasi-prestasi impresif di dunia olahraga, terlepas apa pun motifnya.

Setelah melihat dan mempelajari capaian luar biasa negara ini di bidang olahraga, saya jadi bertanya-tanya, bisakah dunia olahraga Indonesia mengubah sistem serta kurikulumnya sehingga dapat menorehkan prestasi yang serupa? Atau bahkan dapat melebihi?

Saya harap demikian.