Coba bayangkan sebuah tempat paling buruk yang mungkin ditinggali oleh manusia! Tempat terburuk seperti apa yang pernah Anda saksikan sendiri? Mungkin tempat yang saya saksikan dan ingin saya ceritakan ini jauh lebih buruk dan mengenaskan dari yang bisa Anda bayangkan.

Tanpa bermaksud melebih-lebihkan, apalagi berbangga, izinkan saya menceritakan tragedi kemanusiaan yang real ini dan di akhir menyampaikan beberapa hal yang dapat kita buat bersama demi kebaikan banyak orang.

Di Sudut Surabaya

Pada paruh akhir bulan September hingga Oktober 2014, saya dengan dua orang teman mengunjungi sebuah panti sosial di Surabaya bernama Liponsos (Lingkungan Pondok Sosial). Letaknya cukup jauh di luar jantung kota kedua terbesar di Indonesia itu, di sebuah daerah bernama Keputih. Tempat itu dikenal sebagai tempat pembuangan akhir dan lahan makam yang amat luas.

Liponsos menampung para tuna-wisma (gelandangan dan pengemis) dan tuna-grahita (sakit jiwa atau psikotik) yang ditangkap dan dikumpulkan oleh petugas Satpol PP dari pusat-pusat keramaian kota Surabaya. Totalnya ada sekitar 1.400 orang, baik pria maupun wanita. Mereka tinggal di lima barak terpisah: barak psikotik laki-laki 1, barak psikotik laki-laki 2, barak psikotik perempuan, barak laki-laki tuna-wisma, barak perempuan tuna-wisma.

Sejauh ini terdengar baik-baik saja. Namun, bila kita menyaksikan sendiri kondisi tempat mereka hidup, susahlah untuk tidak mengatakan bahwa ini adalah tempat terburuk untuk hidup.

Bila memasuki barak psikotik, baik laki maupun perempuan, segera akan tercium bau pesing yang menusuk, bau yang timbul dari kencing dan kotoran manusia yang berceceran di mana-mana. Kita juga segera akan menyaksikan kerumunan orang bertubuh kurus dan bertelanjang apa adanya.

Beberapa berpakaian lusuh dan kotor, mungkin pakaian yang dipakai selama 2-3 minggu sebelum mereka mendapat pakaian baru. Dengan tatapan penuh harap mereka akan menatap siapa saja yang datang, berharap ada makanan.

Karena beberapa dari para psikotik itu sering marah-marah dan berkelahi, terpaksa petugas merantai kaki mereka di sebuah pagar besi. Bila sudah demikian, hidup mereka tidak akan jauh dari pagar besi itu: makan di situ, buang kotoran di situ, seharian di situ. Oleh karena itu, beberapa mengalami sakit kulit yang parah. Sungguh mengenaskan.

(Salah Satu Barak Tuna-Grahita di Liponsos Keputih - Sumber: Ikesqjatim.org)

Hari-Hari di Dalam Barak

Saya dan kedua teman lain tinggal di kos-kosan dekat Liponsos. Kami memang sudah berencana menghabiskan satu bulan untuk melakukan aksi sosial di sana. Sehari-hari, kami mengikuti apa-apa saja yang dikerjakan oleh para karyawan Liponsos. Sore harinya kami kembali ke kos-kosan, membersihkan diri dan merehatkan diri setelah hari yang berat.

Kegiatan mulai cukup pagi, pukul 07.00. Para psikotik akan dikumpulkan di sebuah tempat yang penuh dengan shower. Mereka akan mandi bersama-sama, tetapi beberapa mesti dibantu karena untuk mandi saja mereka tidak dapat berpikir. Saat itulah, kami mesti bersentuhan dengan tubuh mereka: tubuh yang kotor dan penuh luka.

Tentu awalnya kami enggan dan jijik (bahkan sampai hari terakhir pun tetap merasa jijik), tapi kami memilih untuk tetap melakukannya. “Toh nanti juga kita mandi. Kita juga akan bersih lagi”, ujar kami meneguhkan satu sama lain.

Usai acara mandi masal itu, bersama karyawan kami menyiapkan sarapan dengan membagi porsi makan di piring-piring plastik. Beberapa psikotik yang kesadarannya cukup baik diperbolehkan membantu pembagian makanan itu. Cukup menggembirakan bahwa pemerintah daerah memberi dana yang cukup besar sehingga para penghuni liponsos bisa mendapat makanan harian yang bergizi: ada telor, sayuran, bahkan daging ayam maupun sapi di siang hari.

Setelah semua piring terisi, kami dan para karyawan bergegas masuk ke barak-barak di mana beberapa karyawan lain telah menertibkan para psikotik. Jatah makanan dibagikan, masing-masing satu piring. Namun sungguh tak terhindarkan bahwa ada yang merebut jatah makan milik kawannya. Bila hal ini didapati petugas, mereka akan mendapat sabetan dari pipa plastik.

Mereka makan dengan begitu lahap, meski di tempat yang amat tak mendukung selera makan. Tulang-tulang ayam pun mereka habiskan, bahkan bila sekalipun tulang-tulang itu sudah berjatuhan di lantai, juga di saluran air. Tak ada hal lain yang mereka pikirkan selain meredakan rasa lapar, hal yang amat manusiawi.

Bila ada makanan sisa di panic-panci makanan, maka para petugas akan mencampurkan semua nasi dan lauk di dalam satu panci besar. Mereka lalu membawanya ke dalam barak, di mana sekerumunan orang siap menyerbunya. Takut akan gerombolan itu, petugas itu dengan segera menumpahkan seisi panci itu ke lantai. Tak peduli sekotor apa lantai itu, para psikotik akan berebut mengais nasi, tak ubahnya ayam-ayam di peternakan.

Peristiwa serupa akan terjadi di siang hari saat waktu makan siang dan pada pukul 16.00, saat mereka makan malam (atau lebih tepatnya makan sore). Di sela-sela waktu itu, mereka akan menghabiskan waktu untuk bergumam atau berbicara sendiri. Selalu saja ada hal untuk mereka percakapkan dengan kesendirian mereka. Beberapa berjemur di bawah matahari, dengan tatapan kosong memandang langit.

sumber gambar: detik.com

Ruang-Ruang Penuh Keputusasaan

Kami, juga orang lain yang datang ke Liponsos, mungkin bertanya, “Bagaimana bisa orang-orang ini (para psikotik) sampai ke tempat ini?” Apakah ini merupakan penyakit biologis? Dari cerita-cerita yang kami dengarkan, kebanyakan dari para psikotik adalah orang-orang yang mengalami tekanan psikologis berat: tangungan ekonomi yang besar atau persoalan pernikahan.

Dengan kata lain, mereka ‘gila’ bukan karena ‘bawaan dari sononya’, melainkan karena kondisi sosial di mana dulu mereka tinggal.

Cerita menjadi lebih menyedihkan dengan kenyataan bahwa beberapa dari orang yang tinggal dalam barak psikotik adalah orang-orang tua yang disable (entah buta, entah lumpuh), yang sebenarnya tidak ‘gila’. Mereka ini dibuang oleh keluarga dan kerabatnya yang merasa tak mampu merawatnya.

Beberapa ditemukan ‘tersesat’ di jalanan kota Surabaya atau menjadi korban ‘salah tangkap’ karena berkeliling dengan pakaian lusuh. Dari pihak lembaga Liponsos sendiri tidak dapat memberikan perawatan yang memadai sehingga mereka terpaksa dimasukkan ke barak-barak psikotik, karena hanya di tempat itulah mereka bisa buang air seenaknya.

Sungguh menyedihkan. Mereka mesti tinggal terasing tanpa kawan yang bisa diajak ‘berbicara’ (maka ketika kami datang tentu mereka senang sekali). Mereka tinggal di tempat yang penuh kotoran, bau, dan tak mustahil pula jatah makan mereka direbut teman lain. Adakah hidup yang lebih menyedihkan ketimbang tempat pembuangan ini?

Beberapa dari para penghuni, entah psikotik maupun gelandangan, sakit keras seperti TBC, bahkan AIDS. Sungguh menyedihkan menyaksikan mereka menderita. Beberapa akhirnya meninggal. Mereka yang meninggal akan segera dimandikan, ala kadarnya.

Setelah dipocong dan didoakan, mereka akan dibawa ke tempat pemakaman umum yang sudah disediakan pemerintah. Bagaimanapun, di Liponsos, kematian adalah salah satu jalan ‘keselamatan’ yang melegakan.

Wajah ketakberdayaan bukan hanya tampak dari mereka yang ‘dirawat’, melainkan juga para karyawan Liponsos. Bayangkan saja bahwa setiap hari mereka mesti berurusan dengan barak-barak yang penuh kotoran dan ulah-sikap para psikotik. Beberapa lalu terpaksa bersikap keras: membentak dan membelalak, bahkan dengan pukulan yang menyentak.

Sumber Gambar: detik.com

Berbagi Roti dan Hiburan Rohani, Dialog Misi

Kendati sungguh memilukan melihat kondisi di Liponsos, namun harapan tetap ada. Banyak pihak peduli terhadap nasib manusia-manusia yang dibuang dan diasingkan itu. Dari sekian banyak kelompok yang berdatangan untuk melakukan sumbangan sosial atau aksi sosial, ada kelompok-kelompok keagamaan yang secara teratur datang.

Setidaknya ada empat kelompok sejauh ini yang saya tahu: kelompok muslim yang dipimpin seorang ustad; kelompok karitatif dari Gereja Katolik; kelompok doa dari Gereja Protestan; dan kelompok karitatif dari yayasan Buddha Tzuji.

Apa yang menyamakan keempat kelompok tadi? Secara konkret, mereka sama-sama datang dengan membawa roti untuk dibagikan kepada para penghuni, bukan hanya untuk umat agama yang mereka layani, tapi untuk semua, sejauh mereka mampu.

Secara rohani, mereka sama-sama peduli pada orang yang sudah dibuang ini, yang dianggap tidak berguna, bahkan seperti bukan manusia lagi. Mereka datang dengan keyakinan, bahwa orang-orang ini tetaplah manusia yang bermartabat dan pantas dihargai.

Sungguh menyentuh, melihat kadang kelompok-kelompok ini bertemu untuk saling menyapa dan meneguhkan upaya kepedulian mereka. Saya pun gembira, melihat wajah para penghuni yang merasa ditemani dan senang menerima roti.

Bagi saya, seperti inilah sikap keagamaan yang benar pada zaman ini, apalagi di bangsa yang mengaku menjunjung Pancasila. Alih-alih meributkan siapa yang paling benar ajarannya, mereka saling mendukung demi upaya mulia yang sama: berbagi roti dan hiburan rohani. Para pemuka agama yang benar ialah mereka yang membantu umatnya untuk sadar akan sesamanya yang menderita. Kata ‘dialog misi’ kira saya tepat menamai upaya sinergis seperti itu.

Bila direfleksikan secara teologis, orang-orang seperti mereka ini adalah orang yang tahu diri bahwa mereka sama-sama manusia rapuh dan sama-sama berusaha hidup secara baik di hadapan Allah. Sadar akan keterbatasannya, mereka dengan penuh percaya “menyerahkan kepada Allah menyerahkan penilaian terhadap kemurnian, kebernaran dan kesucian hati orang lain kepada satu-satunya yang sungguh-sungguh menyelami hati manusia, yaitu Allah.”[2]

Melihat dan mendengar berita tentang terorisme dan berbagai kejahatan kemanusiaan yang dilabeli agama pada hari-hari ini, sungguh kisah kepedulian dari sudut kota Surabaya ini pantas dijadikan model. Pemerintah, secara khusus kementrian agama, perlu mendukung berbagai upaya dialog misi, di mana umat beriman dari beragam agama dipersatukan oleh keprihatinan sama: ingin menolong sesamanya.

Dalam hal ini lembaga Liponsos Keputih yang mengkoordinasi beragam kelompok agama itu telah menunjukkan contoh yang baik.

Bila upaya-upaya semacam itu disorot dan menjadi perhatian banyak pihak, tampaknya upaya pemberantasan radikalisme agama menjadi lebih mudah. Semua kaum beriman punya musuh bersama yang mesti dihadapi, yakni semua-mua yang menindas harkat dan hidup manusia: kemiskinan, kerusakan lingkungan, rendah mutu pendidikan, dsb.

Kesimpulan

Melalui tulisan ini, saya ingin menyuarakan suara saudara-saudari yang dibuang dan terasing di sudut kota Surabaya itu, yang hari-harinya dipenuhi bau kotoran dan kesunyian. Saya ingin pengalaman kecil tentang perjuangan kemanusiaan yang saya alami ini tidak berhenti sia-sia, melainkan boleh memantik kesadaran lebih banyak orang. Saya ingin menghenyak mereka yang terlena nyaman, bahwa masih banyak saudara kita yang betul-betul menderita.

Kerja sinergis yang ditunjukkan oleh beragam kelompok keagamaan di Liponsos Keputih, menjadi contoh relasi antarumat beragama yang baik. Mereka menghidupi ‘dialog misi’, di mana mereka sama-sama meneguhkan satu dengan yang lain dalam upaya keprihatinan yang sama: berbagi roti dan hiburan rohani bagi para penghuni Liponsos. Mereka memberikan harapan di tengah kehidupan Liponsos yang mengenaskan.

Pemerintah sepantasnya mendukung dan mengupayakan tumbuhnya ‘dialog-dialog misi’ serupa ini.

#LombaEsaiKemanusiaan