Our Philosophy sebagaimana yang tercantum dalam judul adalah bahasa Inggris dari Falsafatuna; jika diartikan dalam bahasa Indonesia, berarti Filsafat Kita.

Tulisan yang di hadapan pembaca saat ini adalah catatan dalam ruang kajian Falsafatuna karya Ayatullah Baqir shadr, seorang filsuf temporer yang dimiliki Islam hari ini. Dalam bukunya, banyak teori dari filsuf yang disertakan, mulai dari idealisme, empirisme, dan rasionalisme. Hingga ia sendiri menyusun teori desposesi. Untuk itu, kemungkinan tulisan ini akan berlanjut sampai sesi kajian Falsafatuna selesai.

Mendengar nama Plato, imajinasi kita mungkin mengingat negeri para filsuf masa lalu, yakni Yunani. Plato kini dikenal sebagai salah satu filsuf terbesar sepanjang masa. Ia lahir sekitar 429 SM, dekat dengan waktu kematian Perikels, dan ia meninggal pada 347 SM, tak lama setelah kelahiran Aleksander Agung. 

Plato lahir di Athena, dari keluarga yang kaya dan kuat. Banyak kerabatnya yang terlibat dalam politik Athena.

Semasa muda, ia berguru kepada Sokrates, dan belajar banyak mengenai cara berpikir serta apa yang harus dipikirkan. Setelah Sokrates dibunuh pada 399 SM, Plato menjadi berang. 

Plato, yang ketika itu berusia 30 tahun, mulai menuliskan beberapa percakapannya dengan Sokrates. Oleh karena itu, gagasan Sokrates pada masa kini banyak diketahui dari tulisan-tulisan Plato. Namun begitu, yang hendak saya paparkan dalam tulisan ini adalah teori Plato yang ia sebut sebagai Arketipe.

Telaah Arketipe

Perbincangan mengenai asal muasal konsep telah menyita perhatian filsuf dan pemikir terkemuka di dunia, sejak dulu hingga kini. Masing-masing pemikir dunia itu meletakkan teorinya perihal asal muasal konsep. Sebab, memang kita temui secara faktual berbeda adanya antara pemikiran dengan fakta empiris. 

Misalnya bahwa sesuatu pada pikiran kita berbeda dengan realitas eksternal yang memiliki volume dan batasan-batasan materil lainnya. Sehingga, kita pahami bahwa materil tentu tunduk dengan hukum-hukum materil. Lain halnya dengan pikiran sebagai sesuatu yang imateri, cenderung bergerak tanpa batas dan berpindah dari satu kualitas ke kualitas lain.

Plato dikenal dengan teori arketipenya. Menurutnya, jiwa manusia sebelum keberadaanya di tubuh manusia telah eksis di tempat lain, inilah yang ia sebut sebagai arketipe. Arketipe adalah ide-ide yang mandiri pada jiwa manusia sebelum bersentuhan dengan realitas alam. Di sana, jiwa manusia mengetahui segala hal. 

Dengan demikian, memang terbuka kemungkinan untuk jiwa manusia mengetahui kembali segala hal yang ia ketahui saat di arketipe, sebab arketipe pada jiwa manusia bukanlah hal yang baru, bahkan bisa disebut arketipe dan jiwa manusia adalah kesatuan yang telah terpisah.

Hal tersebut tentu membuat kita bertanya-tanya, salah satu pertanyaan mendasar yakni; bagaimana mungkin sesuatu yang Plato sebut sebagai arketipe dapat diketahui kembali oleh manusia melalui pengalaman-pengalaman inderawi berdasar hubungan manusia dengan alam?

Hal ini patut dipertanyakan. Sebab, alam sebagai realitas eksternal manusia tidak memiliki keterkaitan langsung dengan jiwa manusia sebagaimana arketipe dengan jiwa manusia seperti yang dimaksudkan oleh Plato, karena dalam teori arketipenya tak nampak keterhubungannya antara jiwa manusia dan alam.

Sampai di sini bisa dipahami bahwa Plato tidak meletakkan alam sebagai sumber pengetahuan manusia, melainkan hanya pantulan-pantulan yang bertindak sebagai stimulus untuk mengingat kembali pengetahuan yang pernah diketahui oleh jiwa manusia saat di arketipe. 

Namun begitu, saya belum melihat korelasi antara arketipe dengan alam sebagai realitas ekstenal manusia. Akankah arketipe itu mengindikasikan Plato sebagai filsuf yang idealisme murni lagi dualitas? Wallahualambishawab.

Betapapun proses pengingatan kembali dalam teori platonik yang meniscayakan sentuhan alam itu mengindikasikan kehendak penyatuan kembali, hal itu justru menandakan keidealismeannya. Sebagai satu upaya penyatuan kembali, banyak hal yang mesti kita lihat, karena bisa jadi ada beberapa hal yang terdapat di alam ini tak bisa mengantarkan kita untuk mengingat kembali tentang segala sesuatu yang telah kita pahami di arketipe.

Dalam telaah ini, proses pengingatan itu menemui pertanyaan-pertanyaan mendasar, misalnya; bagaimana kita mengkonfirmasi bahwa, ide (Buku, misalnya) yang tercerap dari alam adalah gagasan yang telah ada dahulu dalam jiwa manusia? 

Apa yang menyebabkan jiwa melupakan ide bawaannya sesaat setelah menyatu dengan tubuh fisiknya? Apakah persepsi universal mendahului persepsi indrawi? Dan masih banyak lagi sekelumit pertanyaan untuk arketipenya plato.

Klaim kebenaran arketipe ia dasarkan pada argumentasi tentang ide-ide universal, misalnya dengan mengajukan pertanyaan; datang dari mana ide tentang warna biru? Atau, datang dari mana ide tentang binatang?

Faktanya, yang dicerap oleh indra adalah kucing, harimau, kupu-kupu dan lain-lain. Atau seperti analogi di paragraf pertama, jelas bedanya antara apa yang dipikiran dengan realitas alam yang bervolume massa.

Tongkat besi misalnya, pada realitas eksternal manusia ia memiliki berat materil, sementara dalam pikiran kita tentangnya sama sekali tidak memiliki beban. Jadi bisa dikatakan manusia memikirkan sesuatu hal sebenarnya bukanlah sesuatu pada dirinya yang hakiki. 

Dengan demikian, bisa dikatakan bahwa pikiran sebagai realitas internal dan alam sebagai realitas eksternal masing-masing berdiri pada dirinya sendiri secara otonom.

Oleh karena itu, mesti dibuktikan terlebih dahulu jika kita hendak mengatakan bahwa besi yang berada di realitas eksternal sama dengan besi di realitas internal manusia, sebagaimana defenisi kebenaran adalah kesesuaian antara ide dan realitas.

Bahkan pada tahap tertentu, dalam pikiran kita kadang-kadang melakukan penguraian tentang realitas eksternal, tapi apakah objek yang diurai itu pada dirinya terjadi penguraian? 

Buku misalnya, kita bisa mengurai dan melakukan pembedahan pada pikiran kita, tapi pada dirinya tetap begitu saja. Lagi-lagi ini menunjukkan bahwa dengan arketipenya, Plato menjadi filsuf yang idealis dan dualitas.

Kita tidak bisa membayangkan, dengan pendekatan arketipe plato ini sangat tertutup kemungkinan untuk kita bisa memahami sejarah masa lalu ummat manusia, sebab antara sejarah dan keberadaan kita hari ini adalah hal yang jauh terpisah. 

Hal itu tentu rumit, dan sampai saat ini tak ada satupun ilmuan dan filsuf yang berhasil menemukan kesamaan identik tentang realitas internal dan realitas eksternal. Oleh karena itu, sangat sulit untuk mengatakan bahwa apa yang kita pikirkan adalah sesuatu yang berasal dari realitas eksternal manusia.

Jadi, yang coba didudukkan dalam konsep Plato adalah asal muasal konsepsi manusia. Dengan demikian, hal-hal yang materiil sangat mudah untuk diterima. Tapi bagaimana dengan konsep ketuhanan? 

Tentu itu hal rumit, sebab manusia sama sekali tidak berhubungan dengan objek-objek ketuhanan di alam. Dalam catatan sejarah, Plato diajari oleh Socrates. Menurut guru Plato, Socrates, untuk mengingat dan menemukan kebenaran, satu-satunya jalan adalah harus meninggalkan tubuh dan materi, namun bagi Plato bukan sekadar meninggalkan tubuh dan materi, tetapi harus sekaligus meninggalkan kecendrungan akal murni.

Pemikiran dualitas ini banyak diadopsi oleh umat beragama. Misalnya dengan trend Hijrah. Pernah seorang sohib ku mengurung diri dan cenderung tertutup, kerjaan hanya ibadah, suatu waktu kami berjumpa, ada apa? Kenapa seperti itu? 

Ia lantas menjawab, “kita harus mempersiapkan diri menuju alam berikutnya, karena dunia ini fana, Dit." tutupnya. Di titik ini, kawanku berada di idealisme relegius yang berbau teologi. 

Tapi sering juga sepasang telinga ini mendengar kalimat di ujung pidato “Kebenaran datang dari tuhan, kesalahan datang dari saya sendiri.” Mungkin bukan cuman saya yang sering mendengar penutup pidato yang seperti itu, pembaca yang budiman mungkin juga pernah mendengarnya. Hal ini terlalu melangit, melupa realitas.