Perkembangan teknologi yang begitu pesat ditambah dengan kondisi pandemi, membuat kehidupan manusia berubah sepenuhnya. Dalam hal teknologi, semakin banyak benda-benda “pintar” di sekitar kita seperti telepon pintar, lampu pintar, televisi pintar, bahkan mesin cuci pintar. Masing-masing benda tersebut dapat “berpikir” dan membantu pekerjaan manusia sehari-hari dan bahkan beberapa dapat menggantikan keberadaan manusia.

Salah satu momen terbesar perubahan cara hidup manusia adalah munculnya aplikasi terkait mobilitas dalam telepon pintar. Bukan bermaksud meniadakan kepintaran aplikasi-aplikasi lainnya, namun aplikasi model ini sungguh mengubah kebiasaan manusia dalam menjalankan kehidupannya. Aplikasi-aplikasi serupa pun bermunculan dan semakin memudahkan manusia.

Mungkin tidak perlu disebutkan lagi cara hidup yang diubah oleh aplikasi model ini. Namun, menjadi malang bagi manusia terutama kaum milenial, sebagai yang paling terpapar teknologi, kebiasaan baru ini memunculkan dominasi sifat malas. Istilah seperti “kaum rebahan” atau “mager” pun sering terdengar. Sementara itu, beruntung bagi generasi baby boomer sebagai yang paling sulit beradaptasi dengan teknologi, karena sudah tidak mungkin lagi mereka menjadi malas.

Datangnya pandemi di awal tahun 2020 menegaskan betapa bergunanya teknologi bagi manusia. Pembatasan interaksi sosial seakan membenarkan kebiasaan untuk mengandalkan kepintaran aplikasi dibanding usaha manusia sendiri. Dapat kita lihat betapa beberapa gerai swalayan dan toko pakaian, yang tutup karena lebih banyak yang memilih belanja secara daring, yang hanya dengan menyentuh telepon pintar lalu semua yang diinginkan datang sampai rumah. Demikian juga dengan cara manusia bekerja, sekolah, bahkan arisan, semua dilakukan secara daring.

Memang ada sesuatu yang hilang dari kebiasaan baru ini, misalnya sekolah secara daring berarti tidak dapat bermain dengan teman secara langsung. Lalu, bekerja secara daring justru meningkatkan intensitas pertemuan resmi dibanding bercengkerama dengan rekan kerja. Bahkan, arisan secara online menjadi lebih formal dan tidak ada senda gurau sambil mengunyah hidangan.

Namun, ada saja manusia yang menjadikan pembatasan sosial sebagai dalih untuk tidak keluar rumah. Terdapat banyak alasan bagi mereka untuk tetap berada di rumah walaupun pemerintah beberapa kali memberikan relaksasi pembatasan sosial, antara lain, mungkin hanya karena malas dan ingin rebahan saja, atau telah menemukan dunia sendiri yang lebih menarik dibandingkan kembali berinteraksi sosial, atau mungkin segala sesuatu yang dilakukan secara daring memberikan kenyamanan lebih bagi mereka.

Selain faktor kemudahan teknologi, peningkatan pilihan layanan hiburan rumahan juga mendukung kondisi tersebut. Sebut saja masuknya beberapa layanan streaming video, musik, game di Indonesia. Aneka hiburan baru ini tidak dipungkiri berperan besar dalam mengubah kegemaran manusia. 

Tidak mengapa jika hiburan ini dimanfaatkan sebagai sarana peningkatan kompetensi dan menimbulkan kegemaran baru yang produktif, namun akan menjadi masalah jika manusia hanya gemar untuk menontonnya atau menikmatinya saja tanpa ada nilai tambah. Semakin malaslah mereka untuk kembali keluar rumah, berinteraksi fisik atau melakukan sesuatu yang produktif. Dapat dicermati juga, walaupun mereka ini keluar rumah, tangan dan tatapannya tidak akan jauh-jauh dari gadget. Parahnya, hal ini sudah tidak memandang usia lagi, baik tua, muda, hingga anak-anak usia belia dapat terkena fenomena ini. 

Di tengah gencarnya usaha pemerintah untuk meningkatkan kualitas SDM untuk menuju Indonesia Maju, kemalasan dapat menjadi jebakan untuk mencapai tujuan tersebut. Dengan harapan bahwa kualitas SDM yang unggul akan membawa kita menuju Indonesia Maju, kaum yang senantiasa rebahan tidak akan berkontribusi positif tetapi malah menjadi beban.

Sebelumnya, kita telah mengenal istilah “generasi sandwich” yang menganalogikan angkatan produktif saat ini yang menanggung beban hidup generasi sebelumnya dan generasi setelahnya, dengan seolah-olah terjepit di tengah sandwich. Para generasi sandwich ini tentu berharap bahwa akan tiba waktunya peran mereka dapat sedikit berkurang jika generasi setelah mereka dapat lebih mandiri.

Namun, jangan-jangan, harapan mereka untuk lepas dari himpitan beban generasi sebelum dan setelah mereka menjadi terlalu muluk-muluk. Peran sebagai penopang beban hidup yang sedianya dapat dialihkan kepada anak-anak mereka ketika mencapai masa produktifnya, bisa jadi akan tetap mereka tanggung seterusnya. Generasi muda dan anak-anak yang seharusnya menjadi produktif pada waktunya malah menjadi tetap menjadi beban dan tidak dapat mengambil alih peran sebagai angkatan produktif.

Hampir dua tahun pandemi melanda. Jika kita mengingat kalimat yang pernah dipopulerkan oleh para petinggi negeri dan dibenarkan oleh WHO, bahwa pandemi tidak akan hilang, namun akan bertahan dan berubah menjadi endemi. Maka, mau tidak mau kita akan hidup berdampingan dengan sang virus. Rasanya paparan pandemi di waktu yang tidak sebentar ini cukup mengubah kebiasaan manusia dan saya tidak tahu apakah kondisi dapat kembali seperti semula dengan perbedaan hanya pada protokol kesehatan, atau justru tren mager berlanjut dan semakin banyak kaum rebahan nantinya.

Saya jadi teringat kembali dengan adegan dalam film Surrogate, yang dirilis tahun 2009 dengan pemeran utama Bruce Willis, menggambarkan betapa beratnya manusia untuk meninggalkan kehidupan virtual. Atau bahkan yang lebih ekstrem adalah adegan film animasi berjudul Wall-e produksi Walt Disney Pictures yang menggambarkan manusia-manusia obesitas dan bahkan lupa bagaimana caranya untuk berdiri dan berpikir, karena setiap saat hanya duduk di kursi dan segala sesuatunya dikerjakan oleh robot.