Di tengah perubahan mendasar akibat perkembangan teknologi, kini manusia dituntut tidak sekadar mampu mengoperasikan teknologi namun juga bagaimana memobilisasi dan mensinergikan teknologi demi menunjang keperluannya. Kini di dunia kerja, kemampuan (skill) manusia juga dihadapkan secara komparatif dengan kecanggihan teknologi otomasi.

Pada akhirnya manusia dituntut meng-upgrade dirinya menjadi subjek yang mampu bekerja dengan kreativitas dan keunikan soft skill yang dimiliki yang belum terjamah mesin otomasi. Secara kultur, teknologi telah menuntut peran kompetitif manusia jika ingin tetap relevan dan diakui kualitas skills individunya di tengah perubahan pola kerja yang dipicu perkembangan, khususnya kini di bidang teknologi informasi.

Misalnya di dunia jurnalistik di mana teknologi internet memberikan keleluasaan individu dalam menentukan akses informasi, kini wartawan dan dapur redaksi dituntut menulis berita lebih menarik, unik dan kreatif, lebih dari sekadar transfer informasi (yang kini atau pada saatnya nanti akan lebih banyak dikerjakan robot). 

Tulisan dan berita yang hanya menyajikan informasi how-to, know-how, yang kering tanpa sentuhan artikulasi retoris dan bahasa yang menarik perlahan akan diambil-alih perannya oleh teknologi otomasi.

Kini teknologi tidak cukup dipandang sebagai alat (tools) yang memperingan beban kerja sehari-hari (Business as Ussual) manusia semata. Bank Dunia (World Bank) dalam World Development Report, 2019, The Changing Nature of Work mengemukakan bahwa kini perkembangan teknologi otomasi telah mengubah pola dan tradisi kerja manusia itu sendiri bahkan mendisrupsi pola kerja lama.

Dengan demikian, secara prospektif pada akhirnya manusia atau individu dituntut mampu mensinergikan atau bahkan menciptakan teknologi yang baru minimal dalam menunjang segmen kebutuhan yang sesuai dengan aktualisasi diri dan lingkungannya.

Memang kini berbagai aplikasi teknologi telah banyak diciptakan dari kreativitas di tengah permintaan (demand) pasar di berbagai segmentasi kebutuhan praktis manusia di berbagai bidang kebutuhan sehari-hari. Faktanya teknologi telah menuntut peran kompetitif manusia jika ingin tetap relevan dan diakui kualitas skills individunya di tengah perubahan yang niscaya.

Kini berbagai aplikasi teknologi telah diciptakan untuk memenuhi permintaan (demand) pasar di ranah segmentasi kebutuhan praktis manusia di berbagai bidang kehidupan mulai dari transportasi, komunikasi, transliterasi bahasa, kemudahan transaksi bisnis, kebutuhan informasi tertentu dan lain sebagainya. 

Perkembangan inovasi teknologi kini tidak hanya bersifat monolitik dan top-down semata. Kini inovasi teknologi yang semakin masuk ke dalam ceruk segmen-segmen kebutuhan hidup masyarakat yang sangat beragam tidak bisa dipungkiri telah menciptakan lebih banyak ruang pasar (marketplace) dalam bentuk permintaan dan penawaran baru dalam pasar.

Di dalam ceruk dan ranah ekuilibrium permintaan dan penawaran pasar teknologi inilah sesungguhnya diperlukan potensi soft skill manusia antara lain untuk membaca, mengorganisir memimpin hingga memobilisasi sumber daya demi menciptakan inovasi teknologi yang akan mendukung kebutuhan hidupnya.

Lantas, potensi individu yang seperti apakah yang kini dibutuhkan, dihargai bahkan dicari-cari oleh pasar dunia. Pada 2019, Bank Dunia (World Bank) dikabarkan tengah menginvestasikan uang miliaran dollarnya dan resource-nya demi menguasai dan mengkapitalisasi potensi soft skill manusia yang tidak atau belum tergantikan oleh kecanggihan mesin otomasi. 

Ceruk potensial dari soft skill manusia inilah yang kini menjadi perburuan dan perebutan para pemodal. Setidaknya soft skill yang tidak mungkin dikuasai robot seperti kemampuan berdiplomasi, kepedulian dan kepemimpinan.

Optimisme Indonesia

Melihat konteks Indonesia sebagai salah satu negara dengan jumlah penduduk usia muda, dengan jumlah pribumi digital (digital native) yang besar di dunia, mestinya lebih menjadikan perkembangan teknologi otomasi sebagai tantangan dan bukan ancaman dalam narasi yang diarus-utamakan. 

Bahkan Indonesia adalah negara yang mempunyai potensi diaspora kreatif yang tersebar di perusahaan-perusahaan teknologi ternama di dunia. Juga dengan potensi generasi milenial dan generasi Z yang besar dan begitu akrab dengan perkembangan teknologi.

Bahkan sering kali generasi millennial dan generasi Z cenderung memiliki karakter yang berbeda dengan generasi sebelumnya karena pengaruh perkembangan teknologi digital yang sangat mendasar. Pada umumnya generasi milenial dan generasi Z diidentifikasi dengan sifatnya yang IT adict, tidak mudah percaya pada figur dan otoritas yang monolitik bahkan cenderung tidak betah pada rutinitas dan formalisme yang menghambat ekspresi kreatif mereka.

Melihat besarnya potensi sumber daya manusia yang dimiliki tersebut, semestinya otoritas negara lebih responsif dengan memfasilitasi dan mendukung terciptanya ekosistem berupa ruang yang kondusif bagi perkembangan inovasi teknologi. Juga tentunya dengan melindungi mereka dari persaingan yang tidak seimbang. 

Otoritas negara semestinya juga mulai berpikir jauh ke depan dengan menanam investasi modal manusia melalui pendidikan, pembiayaan riset dan kesehatan bagi manusia-manusia muda potensial. 

Namun dalam kenyataannya, begitu banyak usaha-usaha startup dan pasar berplatform teknologi hingga riset teknologi yang mengalami kendala dalam regulasi dan perlindungan payung hukum. Suatu kendala yang sangat menghambat perkembangan kemajuan teknologi ke depannya.