Lecturer
6 bulan lalu · 98 view · 5 min baca · Lingkungan 96107_40113.jpg
Sumber: http://www.kemenperin.go.id

Teknologi Hijau dalam Industri Pulp dan Kertas Indonesia

Salah satu trend dalam isu pembangunan dan dunia industri belakangan ini adalah "teknologi hijau". Meskipun masih dalam perdebatan yang sengit tentang ideologi dalam praktiknya dan ontologis-epistemologis dalam konseptualisasinya, namun teknologi hijau seolah menjadi narasi wajib yang harus dipatuhi. Kepatuhan itu bahkan menyangkut "nasib" industri dan perdagangan negara-bangsa di tingkat global. Maka Indonesia pun harus ikut serta di dalamnya agar tidak tergilas zaman.

Teknologi Hijau

Teknologi hijau, sering disebut sebagai teknologi lingkungan atau teknologi bersih, adalah teknologi yang ramah lingkungan. Peningkatan dan pemanfaatannya digunakan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat tanpa merusak lingkungan dan melestarikan sumber daya alam. Kesetaraan sosial, kelayakan ekonomi, dan keberlanjutan lingkungan adalah parameter utama untuk teknologi ramah lingkungan (Das Soni, 2015).

Motivasi dasar pemanfaatan teknologi hijau adalah keinginan untuk melihat kemanusiaan dan lingkungan saling mendukung satu sama lain. Dibutuhkan pengetahuan dengan pendekatan multidisiplin, dan kemauan politik yang kuat untuk melakukan perubahan dari gagasan bahwa lingkungan dapat menopang dirinya sendiri. Para pemimpin dunia belum seluruhnya dan sepenuhnya menyetujui protokol yang secara umum dapat diterima untuk mengurangi dampak penggunaan teknologi yang tidak hijau atau tidak ramah lingkungan dalam industri (Odigure, 2016).

Teknologi hijau diimplementasikan dengan menciptakan produk yang dapat sepenuhnya direklamasi atau digunakan kembali (daur ulang), mengubah pola produksi, dan memperhitungkan pengurangan limbah dan polusi. Sebagian besar pemerintahan negara di dunia mengambil inisiatif untuk mempromosikannya. Penggunaan teknologi hijau adalah salah satu metode negara untuk memacu pertumbuhan ekonomi dan mengembangkan kehidupan warganya (Iravani, Akbari, dan Zohoori, 2017).

Industri Pulp dan Kertas Indonesia

Industri pulp dan kertas merupakan salah satu sektor unggulan Indonesia yang terus dipacu pengembangannya. Indonesia memiliki ketersediaan bahan baku dan pasar domestik yang cukup besar serta didukung dengan penerapan teknologi yang canggih. Menteri Perindustrian Indonesia, Airlangga Hartarto, setelah menghadiri Kongres Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia (APKI) tahun 2016 di Jakarta, pernah mengatakan bahwa industri pulp dan kertas Indonesia mempunyai daya saing yang kuat. Hal itu dibuktikan dengan negara-negara lain yang mengenakan dumping seperti Turki, Australia, Amerika dan Jepang (kemenperin.go.id).

Menurut Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Kemenperin Ngakan Timur Antara (2018), Indonesia berada di peringkat sembilan produsen pulp terbesar di dunia serta posisi enam produsen kertas terbesar di dunia. Industri kertas berhasil menduduki peringkat pertama dan industri pulp peringkat ketiga untuk ekspor produk kehutanan selama periode 2011 - 2017. 

Pada 2017, kedua industri tersebut menyumbang devisa negara sebesar US$ 5,8 miliar, berasal dari kegiatan ekspor pulp sebesar US$ 2,2 miliar ke beberapa negara tujuan utama yaitu China, Korea, India, Banglades, dan Jepang. Ekspor kertas tercatat sebesar US$ 3,6 miliar ke Jepang, Amerika Serikat, Malaysia, Vietnam, dan China. Industri pulp dan kertas juga menyerap sebanyak 260 ribu tenaga kerja langsung dan 1,1 juta tenaga kerja tidak langsung.

Pengembangan Industri dan Implementasi Teknologi Hijau 

Isu produk hijau di sektor industri sering menjadi permasalahan dan perhatian di sejumlah negara, terutama di Eropa. Uni Eropa merupakan salah satu organisasi regional atau kawasan yang memperhatikan isu-isu kerusakan lingkungan dan memiliki sejumlah kebijakan dalam menangani masalah lingkungan (www.europa.eu). 

Diantara bentuk pengintegrasian antara kebijakan perdagangan dengan kebijakan mengatasi isu-isu kerusakan lingkungan di wilayah Uni Eropa adalah kebijakan sertifikasi ecolabel yang mulai dioperasikan pada tahun 1992. Uni Eropa menetapkan preferensi produk-produk yang diperbolehkan untuk diperjualbelikan di pasar internal Uni Eropa adalah produk-produk hijau dan ramah lingkungan. Kebijakan sertifikasi ecolabel Uni Eropa merupakan kebijakan yang diterapkan untuk memproteksi masyarakat Uni Eropa dari produk-produk yang tidak ramah lingkungan (www.nsai.ie).


Selain hambatan dan tantangan dari luar negeri, juga datang dari dalam negeri seperti yang diakui oleh Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Panggah Susanto (2017). Dalam usaha untuk terus menumbuhkan industri pulp dan kertas, ada sejumlah tantangan dari dalam negeri yang harus diatasi oleh pemerintah dan ‎pelaku usaha. 

‎Dari dalam negeri, industri ini selalu disoroti terkait dengan isu lingkungan, diantaranya kebakaran hutan, penanganan limbah, termasuk konflik sosial terkait lahan dan kehutanan, dan sebagainya. Isu-isu tersebut biasanya disuarakan oleh Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) atau Non-Governmental Organization (NGO) baik yang berbasis lokal, nasional, maupun internasional.

Kemenperin Indonesia pun mendorong industri pulp dan kertas di Indonesia untuk menerapkan teknologi yang berwawasan lingkungan dalam kegiatan produksinya agar meningkatkan daya saing produk lokal di pasar nasional dan pasar global. Selain itu juga untuk memastikan keberlanjutan sumber daya. Upaya itu juga sejalan dengan implementasi "Making Indonesia 4.0".

Sejauh ini, sebagian industri pulp dan kertas domestik telah mampu menghemat penggunaan energi fosil dengan memanfaatkan lignin kayu dari limbah produksi. Ngakan Timur Antara (2018) menyatakan bahwa proses produksi di industri mengutamakan upaya efisiensi dan efektivitas dalam penggunaan sumber daya secara berkelanjutan, sehingga mampu menyelaraskan pembangunan industri dengan kelestarian fungsi lingkungan hidup serta dapat memberikan manfaat bagi masyarakat.

Dalam rilis media Kemenperin, pada 6-8 November 2018, BBPK Bandung Menggelar Simposium Internasional ke-3 tentang Efisiensi Sumber Daya dalam Teknologi Pulp dan Kertas (3rd REPTech) untuk mendukung dan mengembangkan penelitian hasil pengembangan (litbang) serta pengembangan teknologi berwawasan lingkungan dalam pengelolaan industri pulp dan kertas. 

Selain itu, juga membantu melakukan komunikasi informasi terbaru tentang pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang pulp dan kertas, serta melengkapi jejaring kerja sama litbang dengan mempertemukan para tokoh penting di bidang penelitian dari perguruan tinggi, lembaga, asosiasi, dan lembaga penelitian yang sesuai di dalam juga luar negeri. 

Dihadiri 250 peserta berlatar belakang kalangan industri, peneliti, pemenang, serta tenaga ahli profesional di bidang pulp dan kertas, baik dari dalam maupun luar negeri. Pembicara berasal dari negara Indonesia, Jepang, Korea, Australia, memberi Malaysia yang membahas tentang teknologi sumber serat kayu, teknologi daur ulang kertas, dan produksi industri pulp dan kertas, serta penerapan industri 4.0.

Penutup

Strategi pemerintah Indonesia dalam mengimplementasikan teknologi hijau dalam industri pulp dan kertas patut untuk diapresiasi. Adanya hambatan dan tantangan dari luar negeri dan dalam negeri yang semuanya berujung pada isu keberlanjutan lingkungan dan kesetaraan ekonomi yang ditandai dengan ketiadaan konflik sosial, memang harus diperjuangkan bersama selain kelayakan ekonomi yang sebelumnya hanya difokuskan pada pertumbuhan saja. 

Dalam upaya mengimplementasikan teknologi hijau untuk mewujudkan industri pulp dan kertas yang berkelanjutan, maka harus ada kerja bersama. Selain pemerintah, perusahaan atau korporasi, organisasi masyarakat sipil (LSM/NGO), dan terutama dan yang paling utama sesungguhnya adalah pelibatan sepenuhnya masyarakat adat/masyarakat lokal/masyarakat tempatan. 

Dengan demikian, industri pulp dan kertas memenuhi kriteria sebagai bagian dari pembangunan partisipatif dan emansipatoris yang sesuai dengan konstitusi tentang keadilan sosial bagi seluruh Rakyat Indonesia.


Sumber Bacaan:

Abolfazl Iravani, Mohammad Hasan Akbari, Mahmood Zohoori, “Advantages and Disadvantages of Green Technology; Goals, Challenges and Strengths”, International Journal of Science and Engineering Applications, Volume 6 Issue 09, 2017, ISSN-2319-7560 (Online).

Ghanshyam Das Soni, “Advantages of Green Technology”, Granthaalayah, International Journal of Research, Social Issues and Environmental Problems, Vol.3 (Iss.9:SE): Sep, 2015, ISSN- 2350-0530(O) ISSN- 2394-3629(P)


Joseph O. Odigure, "Green Technology: A veritable Tool for Achieving Technological Transformation and Diversification of the Nation’s Economy", 7th Biennial National Engineering Conference, The Federal Polytechnic, Bida, Niger State, Nigeria, 20th September 2016.

www.europa.eu

www.kemenperin.go.id

www.nsai.ie

Artikel Terkait