Sumbawa merupakan salah satu kabupaten di provinsi NTB (luas 516. 242 atau 48.67%). Merupakan salah satu wilayah yang cukup penting untuk di lestarikan keanekaragaman hayatinya. Dan salah satu potensi di daerah sumbawa adalah madu hutan. Madu hutan di Sumbawa sebagian besar di hasilkan oleh lebah madu hutan Sumbawa. 

Jenis lebah ini merupakan jenis yang hingga saat ini di kalangan masyarakat Sumbawa belum membudidayakannya baik dengan cara tertutup maupun terbuka. Kabupaten Sumbawa merupakan pemasok madu terbanyak di Jaringan Madu Hutan Sumbawa (JMHS) dengan kisaran 5-10 ton/tahun.

Madu hutan ini juga merupakan salah satu ikon komoditas sumber daya alam hayati (SDAH) pulau Sumbawa yang sejak dahulu telah menjadi kebanggaan masyarakat lokal di dunia internasional. Madu hutan Sumbawa dikenal sebagai jenis madu yang memiliki rasa manis yang khas dengan kadar air yang tinggi. Perbedaan madu Sumbawa dengan jenis madu yang berasal dari daerah lainnya terletak pada asal madu yang didapatkan dari lebah hutan liar. 

Madu hutan sumbawa ini dihasilkan oleh jenis lebah madu hutan yang dikenal dengan nama Apis Dorsata. Lebah hutan (Apis dorsata) diketahui hanya akan bersarang di pohon binong yang tumbuh di belantara hutan tropis Sumbawa dan belum bisa diternakan seperti jenis lebah madu lain di daerah lainnya. Pada tahun 2011, keaslian madu hutan Sumbawa sudah dilindungi secara hukum yang ditandai dengan dikeluarkannya sertifikat indikasi geografis dari Direktorat Jenderal Hak atas Kekayaan Intelektual (Dirjen HaKI) Indonesia.

Mengingat pentingnya daerah Sumbawa ini sebagai penghasil madu, maka dibuatlah gagasan pengelolaan daerah aliran sungai berbasis tanaman sumber makanan dan tempat bersarang lebah. Masyarakat desa bersama kesatuan pengelolaan hutan (KPH) Batulanteh dan JMHS pada tahun 2010 telah melakukan pemetaan mengenai pohon tempat bersarang lebah atau yang oleh masyarakat Sumbawa disebut boan. 

Boan merupakan pohon yang dihinggapi dan tempat bersarangnya lebah hutan sepanjang tahun dengan jumlah lebih dari tiga sarang per pohon. Hasil pemetaan partisipatif menunjukkan bahwa posisi boan ini sebagian besar berada dalam kawasan hutan dan berada di hulu DAS Sumbawa, terutama pada pohon binong (Tetramales nudiflora).

Pohon-pohon binong yang kemudian menjadi boan banyak tersebar di kawasan hutan maupun di kebun masyarakat yang berasosiasi dengan kopi serta tanaman pakan lebah lainnya. Pohon binong dikenal dengan nama yang berbeda-beda di berbagai daerah Indonesia, yaitu Kayu tabu (Palembang), binong (Sunda), ganggangan, winong (Jawa), bindung (Madura), Manuang (Alor). 

Kayu ini dijuluki raksasa rimba karena sosok batangnya yang tinggi mencapai 45 meter dengan diameter batang yang cukup besar dan mencapai dua meter. Kadang-kadang batang pohon ini baru bercabang pada ketinggian sekitar 35 meter dari atas tanah dengan kulit batang halus. Memelihara tanaman binong serta pakan lebah lainnya di desa-desa hulu DAS menjadi salah satu bentuk mitigasi bagi perubahan iklim dan sekaligus jawaban terhadap laju degradasi hulu DAS. Menebang pohon lebah, baik pohon binong maupun pohon pakan lebah lainnya akan berdampak pada menurunnya produksi madu hutan.

Meskipun belum dilakukan penelitian secara komprehensif, tetapi telah menjadi kesepakatan tidak tertulis di masyarakat untuk tidak menebang pohon-pohon yang telah menjadi tempat bersarangnya lebah hutan. KPHP Batulanteh bersama JMHS pada tahun 2014 ini merencanakan akan melakukan rehabilitasi hutan dan bentang lahan di hulu DAS dengan berbasis pada tanaman-tanaman pohon sarang lebah seperti binong, maja serta kemiri.   

Dengan demikian, masyarakat dapat memanfaatkan hasil produksi lebah hutan sekaligus memelihara sumber pakan lebah dan melestarikan hutan, sehingga DAS tetap terpelihara. Akan tetapi permasalahannya saat ini adalah pohon binong yang sebagai tempat bersarangnya Apis dorsata yang menyediakan nectar bagi lebah hutan ini terancam kelestariannya. Populasi pohon binong diyakini semakin mendekati terancam. Karena itu IUCN memasukkannya ke dalam daftar merah (redlist) dengan kategori Least Concern (beresiko rendah).

Status dari pohon binong ini merupakan ancaman terbesar bagi kehidupan lebah madu yang akan merujuk pada produktivitas madu yang menjadi icon kabupaten Sumbawa. Permasalahan utama dari semakin berkurangya populasi pohon Binong adalah rendahnya kesadaran konservasi terhadap pohon binong tersebut. 

Penanganan utama dari konservasi dari pohon binong ini adalah pembibitan dan penanaman dengan perawatan maksimal di awal pertumbuhan. Permasalahan yang selama ini dihadapi adalah sulitnya biji binong untuk tumbuh dan berkembang di awal pertumbuhan (pembibitan). 

Menurut masyarakat sekitar, dari 100 biji binong yang disemaikan, hanya sekitar 15% bisa berkecambah. Selain proses perkecambahan yang sangat kecil persentasenya, pertumbuhan kecambahpun sangat lamban. Sehingga dari 15% yang tersisa dari proses perkecambahan, hanya bisa diperoleh satu atau 2 tanaman yang tersisa. Permasalahan ini adalah tantangan utama dari konservasi binong yang semakin lama semakin terancam kelestariannya. Metode pembibitan dan perawatan awal tanaman binong harus memiliki standar tersendiri. Salah satu metode yang efektif adalah dengan menggunakan teknologi biofertilizer (pupuk hayati).

Teknologi pupuk hayati merupakan suatu teknologi yang menggunakan konsorsium berbagai macam mikroba pemicu tumbuh yang sangat penting peranannya dalam perkembangan dan pertumbuhan tanaman. Bakteri pemacu pertumbuhan tanaman merupakan PGPR (Plant Growth Promoting Rhizobacteria). 

Aplikasi mikroba pada pertanian organik dapat meningkatkan ketersediaan dan efisiensi penyerapan unsur hara dalam tanah, menekan mikroba patogen tanah, memproduksi zat pengatur tumbuh (ZPT) yang dapat meningkatkan perkembangan sistem perakaran tanaman, serta meningkatkan aktivitas mikroba tanah yang bermanfaat melalui penambahan bahan organik. Bakteri tersebut berada di tanah rizosfer dan memiliki kemampuan menghasilkan fitohormon diantaranya IAA (Indole acetid acid), sitokinin, dan giberelin.

Aktivitas mikroba-mikroba tanah baik yang bersimbiosis ataupun non-simbiosis pada area rizosfer dapat bersifat negatif atau positif, oleh karena itu manfaat aktivitas mikroba tanah pada tanaman tergantung sepenuhnya kepada manusia untuk mengelola sifat-sifat mikroba agar dapat berpengaruh pada pertumbuhan tanaman secara optimum. 

Secara umum pengaruh aktivitas mikroba ini dapat dilihat pada pemanfaatan metabolit sebagai nutrien tanaman, produksinya manghasilkan ZPT, penguraian hara dari tidak tersedia menjadi tersedia, produksi enzim, penghambat patogen tanaman, produksi sunstansi fitotoksik (mikrob saprofit atau parasit) dan persaingan pemanfaatan hara antara mikroba dengan tanaman.

Teknologi pupuk hayati menggunakan beberapa jenis mikroba yaitu mikroba pendegradasi selulosa, mikroba pelarut fosfat dan mikroba Penambat nitrogen bebas. Mikroba pendegradasi selulosa merupakan mikroba yang berperan penting dalam penguraian bahan oragnik tanah terutama yang mengandung serat selulosa sebagai sumber nutrisi pertumbuhan tanaman. Selulosa menyusun 15-60% bahan kering tanaman. Banyak mikroba yang diketahui mampu merombak selulosa (selulotik). Beberapa mikrob misalnya bakteri dan fungi memiliki kemampuan untuk mendegradasi selulosa.

Mikroba pelarut fosfat (MPF) merupakan mikrob tanah yang mampu mengubah fosfat tidak tersedia menjadi tersedia bagi tanaman, umumnya MPF terdiri dari mikrob-mikrob yang termasuk kedalam golongan bakteri dan fungi. MPF ini mampu mensekresikan asam-asam organik yang dapat membentuk kompleks stabil dengan kation-kation pengikat fosfat di dalam tanah dan asam-asam organik tersebut akan menurunkan pH dan memecahkan ikatan pada beberapa bentuk senyawa fosfat, sehingga ketersediaan fosfat di dalam tanah akan meningkat. 

MPF dan akar tanaman ini akan berpartisipasi dalam pelarutan P anorganik melalui produksi CO2 dan asam-asam organik. Nitrogen (N) merupakan unsur hara makro esensial yang menyusun sekitar 1,5 % bobot tanaman dan terutama berfungsi untuk pembentukan protein. Di atmosfer, nitrogen merupakan unsur paling dominan (80% dari seluruh gas yang ada), tetapi tidak dapat dimanfaatkan secara langsung oleh tanaman. 

Nitrogen bersifat labil karena mudah berubah bentuk dan hilang baik melalui volatilitas ataupun pelindihan. Pemenfaatannya hanya dapat dilakukan melalui bantuan mikroba yang mampu menambat nitrogen, baik melalui mekanisme simbiotik maupun non-simbiotik. Di daerah rhizosfer tanaman terdapat beberapa bakteri penambat N non simbiotik yang hidup bebas seperti Azospirillum dan Azotobacter. Keberadaan bakteri penambat nitrogen ini akan merujuk pada efisiensi penyerapan nitogen oleh tanaman.

Penggunaan teknologi pupuk hayati terhadap pembibitan tanaman binong diharapkan mampu menunjang pertumbuhan dan perkembngan tanaman binong. Beberapa jenis zat pengatur tumbuh yang dihasilkan oleh mikroba mampu mempercepat proses perkecambahan benih pohon binong dan menunjang ketersediaan nutrisi untuk perkembangan dan pertumbuhan. Proses penguraian senyawa organik dan penyediaan unsur penting pertumbuhan tanaman seperti karbon, nitogen dan phosfat mampu menopang ketersediaan nutrisi dalam tahap awal pertumbuhan tanaman binong di habitat aslinya sampai akhirnya bisa beradaptasi dan tumbuh dengan baik.

Penggunaan teknologi pupuk hayati untuk pembibitan dan penopang awal pertumbuhan tanaman binong diharapkan ikut serta dalam penyediaan bibit berkualitas serta menopang keberlangsungan hidup tanaman binong di kabupaten Sumbawa. Keberadaan tanaman binong diharapkan mampu memaksimalkan fungsi lahan hutan dan tanaman ini sebagai tempat tinggal bagi lebah hutan sehingga secara langsung memicu meningkatnya produktivitas madu sumbawa yang merupakan icon penting serta sumber perekenomian masyarakat sumbawa. 

Keberadaan lebah madu dengan kualitas terbaik dan tingkat kemurnian yang tinggi akan mampu bersaing dalam produk ekonomi global. Keberlangsungan produksi madu hutan sumbawa juga diharapkan mampu membawa kabupaten sumbawa dalam persaingan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). Suatu hal yang terpenting dalam peningkatan ekonomi daerah adalah dengan memanfaatkan potensi lokal yang mengglobal serta peningkatan kualitas sumberdaya manusia yang berdasar pada kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.