Membaca merupakan salah satu keterampilan berbahasa yang berperan penting bagi kehidupan seseorang sebagai sarana komunikasi serta informasi dalam rangka pengembangan pengetahuan. Membaca merupakan salah satu keterampilan berbahasa yang bersifat reseptif. 

Dikatakan reseptif karena membaca merupakan suatu kegiatan berbahasa yang bertujuan memperoleh atau memahami informasi dari bahan bacaan. 

Oleh karenanya membaca memiliki peran penting dalam pengembangan pengetahuan karena sebagian besar pengetahuan diperoleh melalui membaca (Iskandarwassid dan Sunendar, 2015: 245).

Salah satu keterampilan membaca yaitu, keterampilan membaca karya sastra. Membaca sastra disebut membaca estetis atau membaca indah yang tujuan utamanya adalah agar pembaca dapat menikmati, menghayati, dan sekaligus menghargai unsur-unsur keindahan yang terpapar dalam teks sastra (Aminuddin, 1987: 20).

Menurut Teeuw karya sastra diambil dari kata sas dan tra. Kata sas dapat dimaknai sebagai petunjuk atau mengarahkan, sementara kata tra memuat makna sarana. 

Jadi karya sastra dapat diartikan sebagai sarana untuk menyampaikan pesan tentang kehidupan serta memiliki nilai estetika di dalamnya. Karya sastra terbagi menjadi dua yaitu, karya sastra fiksi dan non fiksi, karya sastra fiksi dikelompokkan menjadi tiga jenis yaitu prosa, puisi, dan drama. 

Untuk dapat memahami sebuah karya sastra dengan baik, pembaca harus memiliki pengetahuan tentang fungsi dan unsur-unsur karya sastra yang akan dibacanya. 

Namun, tidak semua orang senang dalam membaca karya sastra dan membaca karya sastra dianggap sebelah mata dibandingkan membaca buku ilmu pengetahuan yang lain, karena pembaca kerap kali menilai karya sastra itu menggunakan bahasa yang sulit dimengerti.

Membaca karya sastra seperti novel, cerpen, dan antologi puisi memberikan banyak manfaat bagi pembacanya. Alasan mengapa penting bagi masyarakat Indonesia untuk meluangkan waktu membaca karya sastra. 

Pertama, karya sastra menghadirkan dunia lain, sastra membuka pintu bagi pembacanya untuk mengeksplorasi hal-hal yang belum pernah dan tidak akan pernah terjadi. 

Melalui karya sastra, pikiran pembaca tidak dibatasi dan terkungkung dalam batas-batas situasi yang dialami dan dikenali pada masa kini. Kedua, dengan membaca karya sastra, seseorang terbiasa berkomunikasi melalui bahasa, kalimat, dan ungkapan. 

Dengan cara ini, sastra secara tidak langsung menawarkan pembacanya pengetahuan bahasa yang kaya. Membaca karya sastra tentunya membutuhkan teknik membaca yang secara tidak langsung sama dengan mengapresiasi karya sastra.

Dalam hal ini penulis menyelisik lebih dalam karya sastra fiksi beserta teknik dalam membacanya.

Prosa

Prosa diambil dari bahasa Inggris yaitu, prose. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi V (2017), prosa adalah karangan bebas (tidak terikat oleh kaidah yang terdapat dalam puisi). Prosa merupakan karangan bebas yang disampaikan oleh penulis menggunakan narasi. Teknik membaca karya sastra prosa sebagai berikut:

a) Prosa dibacakan dengan membawa teks dengan demikian, dramatik cerita dapat terbangun dari kalimat utuh yang ditulis oleh pengarang.

b) Pembaca harus memahami dan menghayati segala hal yang dituangkan oleh pengarang sehingga pembaca dapat menangkap isi cerita.

c) Pembaca mampu menganalisis unsur-unsur yang tertuang dalam cerita baik intrinsik maupun ekstrinsik.

d) Pembaca dapat menceritakan kembali isi cerita dengan baik, dan pada akhirnya dapat memberikan penilaian bagus atau tidaknya sebuah karya sastra tersebut.

Puisi

Puisi secara etimologis berasal dari bahasa Yunani poesis, yang berarti pembangun, pembentuk, dan pembuat. Sedangkan dalam bahasa Latin poeta, yang berarti membangun, menyebabkan, menimbulkan, dan menyair. Teknik membaca karya sastra puisi sebagai berikut:

a) Interpretasi, pembaca harus memberikan kesan, pendapat dan pandangan secara teoritis terhadap puisi tersebut.

b) Vokal yang meliputi artikulasi, diksi, tempo, dinamika, modulasi, intonasi, jeda, dan pernapasan.

c) Penampilan yang meliputi gerak, komunikasi, ekspresi, dan konsentrasi.DramaSecara etimologi, drama berasal dari bahasa Yunani draomai, yang berarti berbuat, bertindak, atau beraksi.

Drama 

Drama merupakan cerita yang dilakonkan, drama ditulis dalam bentuk naskah yang berisi narasi dan dialog antar tokoh. Teknik membaca karya sastra teks drama sebagai berikut:

a) Pembaca membacakan naskah drama dengan suara yang lantang dan jelas.

b) Pembaca dapat mengatur tinggi rendahnya suara.

c) Pembaca dapat mengatur tinggi rendahnya nada.

d) Pembaca dapat mengatur cepat lambatnya irama.

Sedangkan dalam membaca teks drama dengan tujuan pementasan drama maka tekniknya sebagai berikut:

a) Membaca naskah secara keseluruhan.

b) Membaca, menghafal dan menghayati dialog yang akan diperankan.

c) Memberikan gerak (pola) yang sesuai dengan dialog

d) Mulai berlatih melafalkan dialog dengan ekspresi dan gerak yang sesuai dengan isi dialog.

e) Mulai berlatih mendalami karakter tokoh, sehingga akan menghasilkan sebuah drama yang baik.

Dapat disimpulkan bahwa membaca merupakan keterampilan berbahasa yang sangat penting dan harus dikuasai. Salah satu jenis literasi adalah membaca sastra. 

Membaca karya sastra dapat menumbuhkan imajinasi kita sebagai pembaca, dengan membaca karya sastra dapat memberikan gambaran utuh tentang pesan pengarang yang disampaikan dalam bentuk teks.