Aku duduk menghayati karunia Tuhan semesta alam. Hujan turun mengambil alih peran matahari. Langit gelap pekat dan guntur menyala sesuka hati. Angin kencang meniupkan kelam.

Kelam. Persis dua tahun lalu dia hilang. Hilang tanpa memberi petunjuk arah. Aku kini hilang rasa apa pun.

Bahagia itu apa? Sedih itu apa? Benar bagai tukang cat menghadapi sebidang tembok polos. Aku lalu menundukan kepala dan membuang beban jauh-jauh.

Namun, seperti biasa dorongan untuk menanggis tiba-tiba hadir bersamaan air hujan. Selalu seperti ini terus. Aku memutuskan menjauhi air hujan dan beringsut menuju dapur. Sekadar melepas bebatuan yang menumpuk di atas bahu ini.

Aku lalu mengeluarkan mug kecil, memasukan sesendok teh dan gula manis. Hanya inilah yang bisa kulakukan saat ini. Kemudian tak lupa menuangkan air panas dan sedikit melontar doa melupakan tentang kenangan lalu.

Setelah kembali tiba di teras depan, aku lekas menyeruput teh hangat itu. Sekilas potongan kenangan lalu itu hadir memeluk kepala. Persis seperti saat ini.

Dulu dia senang membagi ambisi pribadi denganku. Sambil ditemani secangkir teh manis dan suasana mendung dan rintik air yang malu-malu datang.

Tapi itu dulu bukan. Sekarang dia sudah terkapar dibawah tanah dan tertidur menuju alam tanpa dimensi. Sementara aku cuma bisa menunggu waktu menjemput dan membawaku ke sana.

Aku lantas membanting cangkir, menutup pintu depan, menjatuhkan tubuh di atas kasur dan meneriakan nama dia kencang-kencang.

Kamu dimana?