Aku  adalah pemuda yang lahir oleh ibu dengan mempertaruhkan nyawanya untuk sebuah keturunan, besar akibat dididik dengan rotan, sebilah kayu serta pukulan rutin, hanya agar tumbuh seperti anak-anak lainnya yang pintar membaca dan bisa hafal Quran.

Aku adalah laki-laki dengan segala kekurangan yang selalu ditutup-tutupi agar tetap terlihat istimewa di matamu.

Seperti pemuda pada umumnya, aku juga mencintai dan berharap dicintai. Sebab cinta yang sendiri selalu sakit dan lebih awet, bertahan lebih lama.

Walau selalu disebut buaya, aku juga selalu penasaran dengan sebutan mengerikan itu. Tetapi, harus aku akui bahwa setiap lelaki harus siap menanggung segala konsekuensi dari tindakannya. Demikian saat aku menyukaimu, Lin.

Lin, adalah seorang perempuan yang akan menemaniku hari ini di hadapan laptop. Ia adalah perempuan dengan sekelumit persoalan di wajahnya yang kehilangan jawaban, hanya sedikit kesimpulan.

Pun, hanya akan dirasakan di hati. Ditaksir banyak lelaki menjadikan pendiriannya semakin kokoh. Namun, aku tetap akan menuliskan beberapa gejolak yang khusus tertuju padanya.

Bahwa keindahan Tuhan yang dikucurkan ke bumi bisa jadi jatuh dan mendominasi wajahmu. Aku tidak begitu yakin Glosia Swanson benar-benar merasakan makna dari ekspresi setiap orang.

Hanya saja aku juga tidak bisa ingkar, lantaran sedikit atau banyaknya, aku sungguh menemukan bahasa baru setiap kali melihat wajahmu.

Di sini, aku hanya akan fokus pada kekagumanku padamu. Bagaimana susunan senyum di bibir masinmu seolah menyihir mataku untuk tetap tegak melawan kantuk. Ada energi lain yang menembus tatapku, seolah aku melihat semesta dengan kehidupan yang jauh dari zaman kegelapan (Dark Age).

Ketenangan dirimu menjalani setiap aktivitas membuatku semakin terpikat, saat kau berjalan dengan sedikit menundukkan kepala, dengan keteduhan yang mendalam membungkam sekeliling, dan itu merupakan penampakan yang sangat jarang dijumpai.

Belum lagi saat aku memintamu mengisikan botol minumanku, kau selalu mengerti kalau aku suka minum air hangat, dan itu perilaku yang selalu aku bawa sampai di rumah hingga tertidur lelap.

Salah satu hal unik di luar dari cantik wajahmu adalah kau tak suka minum kopi, mungkin kau juga tak menghendaki pahitnya kehidupan, tetapi aku yakin kau masih senantiasa mencintai pagi.

Itulah sebab kau selalu terbangun di sepertiga malam, shalat subuh dan belajar hingga pagi. Dan yang paling menarik adalah kau tetap mahir meracik kopi. 

Menciptakan sensasi racikan kopi yang membuat candu, dengan aroma khas, serta rasa yang pas di tenggorokan, sempurna. Diseduh oleh perempuan tak suka kopi merupakan keajaiban dunia yang kesekian.

Bahkan terlepas dari semua itu, aku masih sering bertanya-tanya tentang bagaimana kau memanajemen keseharian. Sambil kuliah, kerja, bersantai dengan teratur dan selalu tepat, sungguh merupakan kehebatan mensiasati waktu.

Orang-orang sepertimu mestinya menggunakan jam tangan mahal, sebab tak semua orang sepertimu memiliki waktu. Sebagian lainnya hanya menggunakan jam tangan bermerek tetapi selalu kehilangan waktu.

Selanjutnya, aku masih akan mengungkapkan fakta-fakta yang selama ini kurang dipahami darimu. Bahwa aku selalu mengingat bagaimana nabi mengisahkan perempuan idaman.

Baginya, perempuan idaman adalah mereka yang saat dilihat mampu membuat hati bahagia, sementara kau? Jangankan melihat, mendengar namamu disebut saja hatiku sudah sangat senang.

Saat membaca tulisan ini, kau pasti berpikir betapa berlebihannya aku memuji. Tetapi satu hal yang harus kau tahu, sungguh. Ini bukan pujian.

Sekiranya terlihat berlebihan, itu hanya sebab aku memahamimu lebih dari yang dipahami orang lain, aku menemukan banyak hal pada dirimu yang juga tak ditemukan oleh lelaki lain.

Jadi tolong jangan berpikir ini pujian, melainkan ini adalah suguhan minuman hangat untuk perempuan sepertimu yang tak suka minum kopi, anggap saja seduhan teh hangat untuk bersantai sambil mencercap satu per-satu kata pada tulisan ini.

Aku berharap tulisan ini bisa kau selesaikan, bacalah pelan-pelan dengan penuh perasaan. Sesekali jangan lewatkan, aku mohon padamu, selesaikanlah.

Bila pada akhirnya kau mencaci-maki, katakan itu setelahnya dan terimalah tulisanku sebagai sampah bila memang tidak layak.

Ini hanyalah curhatan singkat, sebab bila kutuliskan semua, aku khawatir kosa-kata Indonesia tidak cukup mewakili atau justru membuatmu bosan membacanya.

Dan hal-hal yang membuatmu bosan sangat aku hindari, demikian pula kelak bila kau bosan dengan tulisanku, maka. Aku hanya akan menulis untukmu dan kubaca sendiri, tidak menyampaikannya.

Sependek pengetahuanku menyimpulkan, kau mengakhiri tulisan ini dengan berpikir bahwa ini hanya satu dari ribuan lelaki yang memberikan tulisan serupa tentangmu.

Aku pikir itu kewajaran yang mesti kuterima, juga kutanggung sendiri sebagai lelaki yang telah lama kehilangan sopan santun dalam mengagumi.

Suatu kesyukuran tulisan singkat ini bisa kuselesaikan tanpa motif apa-apa. Sekiranya kau nyenyak membaca, maka simpanlah baik-baik. Sebagai bukti sejarah, kelak.

Tentang seorang lelaki yang berambisi untuk merealisasikan perasaannya lalu berakhir jadi pertanyaan berkelanjutan, entah.