"Sambil mengunyah matanya terpejam pertanda lega."

Kesan pertama berjumpa warung Tegal, Warteg, maka syaraf pemantik selera menyuap sesendok nasi bertumpuk irisan lauk, sontak terpicu. 

Betapa tidak, penampakan aneka lauk pauk menggunung dalam etalase berkaca bening yang bisa dilihat bertelanjang mata dari kejauhan begitu menggoda.

Godaan pemandangan yang demikian, lalu menggugah reaksi berantai pada setiap simpul ujung syaraf mulai dari mata, turun ke lambung. 

Terus otot-otot lambung berkontraksi berkedut-kedut, mak nyuut-nyut, mengembalikan alur reaksi kimiawi berantai hormon penggugah selera kembali ke atas di daerah rongga mulut.

Di dalam rongga mulut, lalu hormon itu merangsang otot-otot pipi, lidah dan bibir untuk memeras enzim penikmat cita rasa.

Semakin deras enzim yang terperas, lalu membuat si pemilik otot-otot lidah, pipi dan bibir pelan-pelan merasakan ada cairan yang membanjiri rongga dalam mulutnya, terus ditelan lagi pelan-pelan.

Syaraf pemeras enzim memang mekuthuk, tak mau mengalah, terus memeras enzim cita rasa. Sampai si pemiliknya menyerah. Dari bibir yang tadinya terkatup rapat, pelan-pelan lalu sedikit terbuka, meski tak terlalu menganga.

Jika tatapan ke arah etalase tumpukan lauk yang tampak sedang rileks dalam lemari etalase Warteg dibiarkan lama, keadaan jadi semakin runyam!

Kaki si pemilik enzim bandel itu, yang seharusnya diniatkan melangkah lurus, mendadak membelok pelan-pelan, memasuki Warteg bagian dalam. Lalu dia memanggil Mbak-mbak muda penyaji masakan, sambil jempol tangan kanannya menuding etalase ke arah tumpukan lauk, tanpa perlu berkata-kata.

Etalase Kaca Warteg Menginspirasi Teknologi Layar Sentuh (?)

Tak perlu berlama-lama, si pemilik enzim cita rasa yang merasakan semakin berkothos-kothos luapan enzim dalam rongga mulutnya pun segera duduk. Kemudian dia menyuapkan sesendok nasi yang tak begitu pulen, bertumpuk orek tempe halus dan irisan telur dadar. 

Sambil mengunyah matanya terpejam pertanda lega.

Itu semua adalah contoh kasus betapa tatanan etalase Warteg mampu menyihir siapa pun yang melihatnya mendadak merubah niatan awal menuju perjalanannya.

Bahari bisa bermakna lautan.

Lautan bisa bermakna gulungan ombak.

Gulungan ombak bisa bermakna kumpulan enzim cita rasa yang membanjir.

Enzim cita rasa yang membanjir pun lalu bermakna, tak kuasa menyentuh jempol ke arah tumpukan lauk, dibalik kaca bening.

Overall, Bahari bermakna; Peruntuh iman bercita rasa.

Sepiring Menu Warteg Melengkapi Gizi

Sekarang, menjadi suatu kecenderungan bahwa pengelolaan Warteg bisa secara waralaba, membuka peluang usaha.

Terdapat ciri utama pada Warteg yang dikemas waralaba, yakni tatanan warung yang lebih terang benderang, kaca etalase lebih tembus pandang, meja dan dinding dilapisi keramik, suasana lebih bersih dan kinclong. Adapun aneka lauk yang disajikan terlihat kurang begitu menumpuk.

Pemandangan Ruang Dalam Sebuah Warteg Waralaba, Berhias Pesan Berbagi Pada Sesama.

Sementara Warteg yang dikelola mandiri, tertata lebih bebas, dinding terlihat ada sensasi kusam-kusamnya bekas sandaran orang yang belum mampu berdiri karena kekenyangan, tanpa lapisan keramik dan aneka lauk yang ditampilkan dibalik etalase terlihat lebih menggunung.

Menu Dalam Etalase Warteg Non Waralaba Tampak Lebih Menggunung, Menggairahkan.

Penulis termasuk pengidola masakan Warteg.

Lauk kesukaan Penulis, adalah berkisar orek tempe empuk, oseng kerang, rendang ati ampla dan cap je.

Oh! Kurang satu lagi, kripik tempe goreng tepung.

Ah! ... Satu lagi ding, es tomat kopyok jika ada.

Eh ... Kopi tubruk kok ketinggalan.

Lha dalah! ... Lupa, dua lagi, telor dadar sama ikan Tong-tong masak sambal. Ikan Tongkol maksudnya.

Di Setiap Warteg, Olahan Tempe Wajib Ada.

Menikmati seporsi hidangan Warteg, selalu menggunakan sendok dan garpu, dengan piring berukuran sedang cenderung kecil, sehingga porsi sajian berisi menu pilihan, terlihat menumpuk banyak.

Tak hanya itu, paling afdol menikmati sepiring nasi Warteg itu bila menghadap etalase.

Sambil menatap menu lauk di dalam etalase, penuh sikap waspada, siap-siap jika ada bisikan hati untuk minta nambah bangsa sesendok dua sendok acar, misalnya.

Juga, sesekali menatap Mbak-mbak muda yang menyetel penampilan wajahnya begitu lurus-lurus saja, namun sangat sigap terampil mengambil lauk pilihan pelanggan.

Jika terlihat sedikit peluh membasahi kening Mbak-mbak penyaji, maka menjadi pemandangan yang sempurna, pertanda beliau mewakili sosok wanita pekerja keras, penuh ketulusan.

Warung Tegal, keberadaannya memang ditakdirkan sebagai legenda pembagi limpahan kebahagiaan dalam kebersahajaan.

Syaraf enzim pemicu cita rasa telah terpenuhi kebutuhannya. Sang pemiliknya pun keluar Warteg sambil memainkan tusuk gigi dalam bibirnya.

Sekali melangkah hendak melanjutkan perjalanan, dia dipanggil oleh Mbak-mbak penyaji dari dalam Warteg.

Baphak ke ! ...”

Pria itu sontak berhenti melangkah, menoleh ke arah suara tadi berasal, sambil bertanya dalam hati, "Oh ada apa?"

Ah! Rupanya pria paruh baya si pemilik enzim itu lupa belum bayar.