Teenlit merupakan akronim dari teenager literature, sebuah jenis sastra populer yang ringan bobot literernya.

Umumnya teenlit berisi masalah-masalah yang lebih mengedepankan hiburan belaka, mengemukakan kenyataan semu, membangun fantasi dan kadar emosi yang kadang sangat berlebihan sekali. Penyajian teenlit kental dengan kehidupan kaum remaja dan anak sekolahan dengan serta-merta mampu membangkitkan keterlibatan pembacanya.

Pada novel-novel teenlit, remajalah yang menjadi sentralnya. Pergaulan seputar sekolah, persahabatan dengan gaya berkelompok atau hidup mewah dan glamor, percintaan, sampai kenakalan remaja.

Sebagaimana karakter dari sastra teenlit, sejarah Sumpah Pemuda pada tahun 1928 tak ubahnya seperti ketetapan-ketetapan khas teenlit Indonesia dengan gaya-gaya glamor dan hasil pertemuan dan pesta-pesta yang “disumpahkan” saja dulu, “praktik” kemudian.

Apa yang dimaksud dengan “Sumpah Pemuda” adalah keputusan Kongres Pemuda Kedua yang diselenggarakan dua hari, 27-28 Oktober 1928, di Batavia (Jakarta). 

Keputusan yang dengan susah payah agar dapat narsis disiarkan dalam segala surat kabar dan dibacakan di muka rapat perkumpulan-perkumpulan. Kumpul-kumpul anak ningrat yang mungkin bisa meredam perlawanan fisik mereka yang di luar sana; yang jelas tak terwakilkan dalam kumpul-kumpul eksklusif itu.

Kumpul-kumpul yang sering diiringi makan-makan mewah di restoran "Insulinde" Pasar Baru itu. Kumpul-kumpul yang masih mengakrabi sejumlah anggota Volksraad Dahler, Gemeenteraad van Batavia, hingga kepada Prof Dr Bertram Johannes Otto Schrieke, guru besar Etnologi di Rechtshoogeschool te Batavia itu.  

Tak ada upaya rahasia dan tersembunyi alias bergerak bawah tanah sedikit pun dari acara kumpul-kumpul ini, yang memang sejatinya agar narsis dan gemerlap ditangkap oleh khalayak.

Sumpah Pemuda 1928, yang khas teenlit dengan kadar emosi tinggi, dengan pernyataan yang terburu-buru dan menggebu-gebu untuk menjunjung Bahasa Indonesia. Kenyataannya, setelah Sumpah Pemuda, kaum remaja terdidik dan borjuis Indonesia berbahasa satu sama lain dengan bahasa Belanda. Sedang kaum rendahan tentunya memakai bahasa daerah masing-masing.

Mari, simak versi Ejaan Ophuijsen ini.

Kami poetera dan poeteri Indonesia mengakoe bertoempah-darah jang satoe, tanah Indonesia.

Kami poetera dan poeteri Indonesia mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia.

Kami poetera dan poeteri Indonesia mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.

Tanpa “Sumpah Pemuda” pun, Bahasa Indonesia akan tetap dipaksakan oleh Belanda lewat Ejaan Van Ophuijsen, si ahli bahasa berkebangsaan Belanda itu. Sedang Indonesia hanyalah sebagai jongosnya, seperti Engku Nawawi gelar Sutan Makmur dan Moh. Taib Sultan Ibrahim. Ejaan ini menjadi panduan bagi pemakai bahasa “Melayu” di Indonesia. Jelaskan, “melayu”, hehehe.

Mereka tak mampu mempertahankan kata “Indonesia”. Nyatanya, kata “Hindia Belanda” masih bertahan hingga pendudukan Jepang, 8 Maret 1942.

Setelah Sumpah Pemuda, ya, mereka balik lagi ke rutinitas masing-masing. Pelajar dan Pemuda yang kebanyakan lulusan atau masih bersekolah, baik di Belanda ataupun di Indonesia yang disubsidi Belanda. Tentunya mereka kebanyakan dari kalangan ningrat ataupun anak para pegawai Belanda, semisal anak wedana, camat, asisten kontrol, atau pegawai penjajah lainnya. 

Ada lagi yang unik, pada redaksi sumpah yang ke-3: "Kami poetera dan poeteri Indonesia mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia." Keputusan untuk menggunakan bahasa Melayu atau Indonesia ternyata menimbulkan kebingungan di antara peserta konferensi.

Van der Plas sebagai pengamat Belanda dalam Kongres tersebut berkata: pemimpin kongres, pelajar Soegondo, tidak dapat memenuhi tugasnya dan kekurangan otoritas. Ia mencoba untuk berbicara bahasa Indonesia, tetapi tidak mampu membuktikan dirinya mampu melakukannya dengan baik.

Soegondo Djojopoepito, sebagai orang Jawa, kesulitan berbahasa Indonesia yang berakar Melayu. Orang Jawa, Sunda, dan suku lain dalam kongres itu merasa tidak leluasa dengan keinginan bahwa seseorang harus melepas bahasanya sendiri demi Bahasa Melayu (Bahasa Indonesia).

Jadi, mereka “mengaku” berbangsa dan bertanah air satu, namun tidak secara tegas “mengaku” berbahasa satu. Mereka memilih menyatakannya dengan kata “menjunjung” bahasa persatuan.

Kongres ini diikuti oleh seluruh organisasi pemuda yang tentunya dari kalangan terdidik, borjuis, dan remaja dengan pengaruh budaya Belanda yang kental saat itu, seperti Jong Java, Jong Sumatra, Jong Betawi, dan lainnya. Jelas tak mewakili para pemuda kurang terpelajar dan kere.

Kongres Pemuda II, yang diadakan pada tanggal 27-28 Oktober 1928, dipimpin oleh pemuda Soegondo Djojopoespito dari PPPI (Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia), akhirnya menghasilkan keputusan kacau yang disebut sebagai Sumpah Pemuda.

Selain itu, keputusan kacau tersebut diiringi dengan alunan biola ngak ngek ngok , yang kemudian hari disebut sebagai lagu “Indonesia Raya” yang ciptaan Wage Rudolf Supratman yang anak tentara KNIL tersebut.

Ini juga tak stabil ala teenlit, lirik dan aransemennya yang berubah-ubah hingga tiga kali. Dari lirik dan aransemen asli, lirik dan aransemen tahun 1958, hingga lirik dan aransemen modern yang kekinian. Sedang lirik dan notasi asli lagu ini dimuat di surat kabar Sin Po, edisi 10 November 1928. Semula berjudul Indonesia, bukan Indonesia Raja ataupun Indonesia Raya.

Roh teenlit Sumpah Pemuda yang kacau makin kacau lagi beberapa tahun kemudian saat peringatannya yang ke-50. Tersebutlah Presiden Soeharto mengawali pidato peringatannya dengan redaksi yang ngawur.

Inilah sambutannya: tepat 50 tahun yang lalu, di Jakarta ini, lahirlah Sumpah Pemuda yang sangat terkenal; mengaku berbangsa satu, bangsa Indonesia; mengaku bertanah air satu, tanah air Indonesia; mengaku berbahasa satu, bahasa Indonesia.

Padahal teks aslinya tidak seperti itu. Hadirin tak berani meralat pernyataan presiden yang keliru parah itu, bisa-bisa hilang.

Selain Soeharto, roh teenlit yang kacau ini juga menghantui pakar semiotika Indonesia, Benny H. Hoed. 

Di harian Kompas, 28 Oktober 1970, ia menyatakan: Sumpah Pemuda hasil kongres pemuda-pemuda Indonesia pada 1928 menyatakan kita berbahasa satu, yaitu bahasa Indonesia. Kalimat ngawur itu adalah sebuah paragraf terakhir esainya yang berjudul Ada Ancaman Bahasa Indonesia Akan Menjadi seperti Tahun 1928.

Spirit apa yang bisa diharapkan dari perayaan yang awalnya memang sudah kacau itu? Sebuah sumpah yang tak pernah menemukan kafaratnya.