Dunia makin hari makin berkembang. Perkembangan dunia yang sangat cepat ditandai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang juga memengaruhi sebagian besar aspek kehidupan masyarakat dunia. 

Di Indonesia sendiri, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dapat kita rasakan dampaknya, terutama dalam kota-kota besar di mana masyarakat (umumnya) menggunakan teknologi-teknologi canggih dalam melaksanakan pekerjaannya; apalagi pada masa pandemi ini, teknologi komunikasi sangat berpengaruh dalam pekerjaan setiap orang sehingga kadang muncul ujaran mengenai masyarakat saat ini adalah masyarakat dengan budaya baru, yakni budaya.

Namun siapa sangka dalam dunia yang sarat dengan arus globalisasi yang deras, ternyata masih ada orang yang senantiasa tidak melupakan budaya-budaya asal mereka. Alasan yang mereka utarakan mengenai sikap mereka adalah perasaan mereka untuk bertanggung jawab terhadap budaya asli mereka – mereka lahir dalam budaya tersebut dan merasa bertanggung jawab untuk terus melestarikan budaya tersebut hingga keturunan mereka selanjutnya. 

Sehingga sekalipun mereka hidup dalam perkembangan arus global yang deras, mereka tetap berusaha untuk menghidupkan nilai-nilai budaya mereka agar dapat menyeimbangkannya dengan pergumulan budaya baru zaman ini.

Maka dalam tulisan kali ini, penulis hendak mendalami komologi Jawa yang terkandung dalam salah satu tradisi dari budaya Jawa, yakni Tedak Siten yang secara singkat menjelaskan bahwa tradisi ini diperuntukkan khusus untuk anak-anak agar mereka dapat mencapai kesuksesan ketika mereka dewasa nanti. Selain itu, penulis meyakini bahwa tradisi ini masih tetap bertahan dalam arus globalisasi yang sangat deras pada zaman ini. 

Dengan mendalami salah satu tradisi budaya Jawa ini, harapan penulis adalah agar penulis dapat semakin mengenal budaya Jawa dan mampu mendalami dan merelevansikan nilai-nilai filosofis Jawa dalam kehidupan penulis sehari-hari serta menjadi permenungan penulis ke depannya.

Kosmologi Tedhak Siten

Budaya menurut akar katanya, kata kebudayaan berasal dari bahasa Sanskerta yakni buddhayah yang merupakan bentuk jamak dari kata budhi yang memiliki arti budi atau akal. Sehingga kebudayaan sendiri dapat diartikan sebagai “hal-hal yang bersangkutan dengan budi dan akal”. 

Arti kata kebudayaan menurut seorang antropolog bernama Tylor dalam bukunya yang berjudul “Primitive Culture” yang dikutip oleh Tri Joko Sri Haryono mengatakan bahwa kebudayaan adalah kompleks keseluruhan yang meliputi pengetahuan, kepercayaan, kesenian, hukum, moral, kebiasaan dan lain-lain kecakapan dan kebiasaan yang diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat.

Sehingga dapat dikatakan bahwa manusia adalah titik sentral dalam budaya di mana manusia adalah pribadi yang mana dengan segala kemampuannya, manusia bergerak dalam cipta, karya, dan karsa.

Jika demikian, maka hal yang kemudian dapat ditarik dalam perspektif kebudayaan Jawa secara singkat adalah orang Jawa adalah sentral dari budaya Jawa tersebut di mana segala aspek kehidupan dalam kehidupannya mencerminkan diri seorang Jawa. 

Hal inilah yang kemudian kerap menjadi permasalahan dalam masyarakat Jawa terutama ketika seorang Jawa baru pertama kali memahami keberagamaan budaya termasuk budaya-budaya baru yang bersinggungan dengan budaya Jawa atau orang-orang Jawa yang lahir bukan di daerah pedesaan melainkan di ibukota, yakni ketika seseorang menilai orang Jawa dengan sebutan Njawani dan tak Njawani.

Sebagian orang Jawa menyatakan bahwa orang Jawa yang Njawani adalah orang Jawa yang masih lekat hidupnya dengan tata krama Jawa di mana penilaian tersebut diberikan oleh orang Jawa generasi tua kepada generasi muda.

Dalam pemikiran masyarakat Jawa, pemahaman masyarakat Jawa terkait alam semesta ini menyatakan bahwa alam semesta yang diciptakan oleh Tuhan ialah cahaya (rukyati) yang kemudian meng-anasir ciptaan manusia yang terdiri dari api, air, tanah, dan udara yang mana keempat elemen tersebut menggambarkan antropologi manusia Jawa.

Dengan demikian, manusia Jawa meyakini bahwa alam semesta adalah ciptaan Tuhan yang di mana dalam memahami hidup manusia juga harus memahami alam semesta sebagai lambang kemahakuasaan Tuhan, sehingga mereka meyakini bahwa Tuhan senantiasa menuntun jalan hidup mereka di alam dunia dengan memberikan penunjuk arah agar mereka tidak tersesat. 

Penunjuk arah tersebut biasanya disebut keblat papat lima pancer yang berarti empat arah dan satu pusat. Manusia Jawa meyakini bahwa keempat penjuru tersebut adalah saudara-saudara dari manusia sejak awal kehadirannya di dunia.

Keempat saudara yang terdiri dari, Timur (kakang kawah: air ketuban), Selatan (getih: darah), Barat (puser: tali pusar), dan Utara (adi ari-ari: plasenta) akan membantu manusia Jawa dalam menjalani hidupnya dengan aman dan terlindungi dari kesialan sehingga mereka keempat saudara tersebut harus diberi sesajen.

Sedikit kembali pada keharmonisan yang terjadi antara manusia dan alam semesta seperti yang dijelaskan sebelumnya, pada akhirnya alam inderawi bagi masyarakat Jawa adalah ungkapan alam gaib, yakni adanya kuasa adiduniawi yang mengelilingi manusia dan daripadanya manusia mendapat eksistensinya dalam dunia.

Di dalam alam itu sendiri manusia bergantung pada kekuasaan adiduniawi yang tak dapat dikira kepastiannya. Sehingga segala sesuatu yang ada (kosmos) merupakan satu kesatuan yang terkoordinasi secara teratur. Dengan demikian hal yang kemudian ditekankan oleh manusia Jawa dalam hidupnya di dunia adalah mengutamakan keharmonisan antara dirinya dengan sesama, alam, dan Tuhan.

Dalam kepercayaan Jawa sendiri, manusia sejak kelahirannya sudah memiliki tanda-tanda kekuatan yang berasal dari alam sehingga alam-lah yang kemudian membentuk kepribadian khas dari masing-masing orang Jawa. Maka cara untuk menentukan kepribadian seorang Jawa adalah dengan melihat weton orang tersebut.

Dalam kepercayaannya, weton sendiri didasarkan pada perhitungan (petungan) dari peredaran matahari, bulan, bintang, dan planet untuk memahami nasib manusia ke depannya. Dalam petungan Jawa terdiri dari pitu dina (Senin: 8, Selasa: 3, Rabu: 7, Kamis: 8, Jumat: 6, Sabtu: 9, Minggu: 5) dan lima pasaran (Legi: 5, Pahing: 9, Pon: 7, Wage: 4, Kliwon: 8). Setiap dina maupun pasaran memilik nilai yang nantinya akan menentukan neptune dina lan pasaran.

Dengan demikian, kosmologi Jawa sangat menekankan keharmonisan yang terjadi antara manusia, alam, dan Tuhan. Keistimewaan dalam hidup manusia Jawa terlihat dari corak hidup masyarakat Jawa yang meyakini bahwa alam-lah yang memberikan kekuatan bagi manusia, sehingga persiapan yang matang seperti halnya menentukan weton seseorang dengan perhitungan berdasarkan peredaran benda-benda langit untuk menentukan nasib seseorang.

Nilai dalam Tedhak Siten

Demi memahami nilai-nilai kosmologi Jawa ini, penulis meyakini bahwa salah satu budaya yang juga memiliki nilai-nilai kosmologi Jawa terdapat dalam salah satu tradisi budaya Jawa, yakni tradisi Tedhak Siten. 

Melansir berita dari Liputan6.com, dikatakan bahwa Nadiem Makarim selaku Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia menyelenggarakan tradisi Tedhak Siten untuk anak pertamanya yang sudah berumur sekitar 7-8 bulan, di mana beliau menyiapkan upacara tersebut hanya bersama keluarga tanpa jasa EO (Event Organizer).

Dalam tradisi Tedhak Siten, prioritas yang disorot adalah pada anak dari orang tua, yakni dengan melaksanakan upacara Tedhak yang berarti menginjak, melangkah, dan Siten yang berarti tanah, bumi. Makna dari upacara ini adalah agar si anak yang berusia sekitar 245 hari (pitung lapan) tersebut dapat mempersiapkan diri dalam menghadapi dunia yang luas ini dan kehidupan di sekitarnya.

Upacara Tedhak Siten yang dilakukan oleh Menteri Nadiem tentu mengikuti apa yang sudah menjadi pakem dari tradisi tersebut dan tentun saja dalam setiap rangkaian upacara tersebut memiliki makna-makna filosofis ala Jawa yang sangat bernilai.

Dalam kosmologi Jawa, keharmonisan yang terjadi dalam kehidupan manusia adalah manusia hidup di dunia juga berdampingan dengan “mereka” yang gaib tersebut sehingga hal inilah yang digambarkan dari maksud tradisi Tedhak Siten yang mana menunjukkan kepercayaan masyarakat Jawa yang menyatakan jika bumi ini dijaga oleh raksasa bernama Batara Kala

Maka tujuan dari upacara ini adalah memperkenalkan anak kepada raksasa tersebut dengan cara menginjak tanah. Selain itu upacara ini juga harus disesuaikan dengan weton si anak.

Setiap rangkaian dalam upacara ini hendak menunjukkan bagaimana manusia Jawa menjalani hidupnya di dunia. Seperti halnya dalam Munggah andha Arjuna yang berarti kelak anak tersebut harus mantap dalam menjalani kehidupannya (manteb ing kalbu) sebagaimana dimaknai dalam kosmologi Jawa bahwa sejak lahirnya manusia telah diberikan arah (keblat) agar hidupnya tak tersesat sehingga kematapan dalam hati adalah ungkapan harmonisasi manusia dengan alam yang telah memberikan eksistensi kepada manusia. 

Manusia pun harus berlaku selaras dengan alam di sekitarnya. Sehingga ke mana pun manusia melangkah dalam menjalani nasibnya, ia akan terus berada dalam lindungan Tuhan. 

Keselarasan ini juga ditunjukkan dengan kandangan ayam yang berarti bahwa si anak akan bekerja sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya. Dengan kemampuan yang dimilikinya, maka manusia Jawa mampu memahami bagaimana dia harus mengusahakan keselarasannya dengan alam dan kehidupan di sekitarnya.

Dengan demikian, tradisi Tedhak Siten seperti maknanya adalah memperkenalkan manusia dengan dunia dan lingkungan sekitarnya – digambarkan dengan raksasa Batara Kala – agar ia mampu menghadapi dunia yang penuh gejolak hendak menunjukkan bahwa gejolak kehidupan merupakan dinamika dalam keselarasan tersebut, sehingga manusia dapat menyadari dirinya sebagai bagian (kecil) dari keselarasan dengan alam semesta yang begitu besar dan luas dengan mengaktualisasikan segenap kemampuan yang dimilikinya demi keselarasan itu sendiri.

KESIMPULAN 

Pada akhirnya, bagi penulis tradisi Tedhak Siten ini memiliki makna filosofis dari kosmologi Jawa, yakni bagaimana manusia menyadari dirinya sebagai bagian dari alam semesta dan dengan kemampuan manusia berusaha dalam mencapai keselarasan dengan alam dan Tuhan. 

Nilai-nilai yang penulis dapatkan dalam pemahaman mengenai kosmologi Jawa ini adalah bagaimana sedari awal manusia sudah diajak untuk menyadari apa yang harus dia lakukan.

Apa yang kemudian harus dilakukan oleh manusia Jawa adalah mengedepankan nilai-nilai, seperti halnya kerukunan, kedamaian, dan hidup yang tanpa konflik, sebagaimana gambaran akan keselarasan yang hendak dicapai tersebut. 

Sehingga tidak salah jika salah satu tugas manusia Jawa adalah mempercantik dunia, yakni dengan mengaktualisasikan kemampuan manusia dalam hidupnya demi mengedepankan kerukunan, perdamaian dan lepas dari konflik sebagai jalan manusia yang akhirnya mengalami kebersatuan dengan Tuhan.