Mahasiswa
1 bulan lalu · 92 view · 3 min baca menit baca · Sosok 62442_99328.jpg

Ted Bundy: Charming Psycho

Baru saja selesai menonton serial dokumenter besutan Netflix: Conversation with a Killer: The Ted Bundy Tapes. Bercerita tentang dokumentasi dari total 100 jam wawancara seorang jurnalis bernama Stephen Michaud dengan seorang pembunuh berantai keji pada hari-hari menjelang eksekusi hukuman mati yang akan di hadapinya. 

Seorang pria flamboyan yang begitu rupawan, kharismatik, dan berwawasan luas. Mata birunya menjadi magnet untuk setiap wanita yang menatapnya. Tutur laku yang memesona terpancar begitu rupa bagi orang-orang yang bercengkrama dengannya. Bermodal keahlian berakting di UKM Teater kampusnya, bergaul dengannya begitu mengasyikan. Dialah Theodore “Ted” Robert Bundy.

Ted Bundy lahir di Florida, Amerika Serikat dari keluarga biasa-biasa saja. Masa kecil yang tidak begitu bahagia membuatnya terpinggirkan dan jadi korban perundungan teman-teman sebayanya. Ted tumbuh menjadi anak yang nakal dan brutal. Suatu hari, besi-besi runcing menembus tubuh seorang anak perempuan yang terperosok ke dalam lubang perangkap yang dibuat oleh Ted.

Pada saat remaja, Ted menjadi orang yang begitu perfeksionis. Untuk tampil sempurna di hadapan orang lain, ia tak mau ada cela pada penampilannya. Karena keterbatasan biaya, Ted berulang kali harus mencuri barang-barang milik orang lain untuk menjaga penampilannya tetap necis dan berwibawa.

Saat dewasa, Ted adalah pria yang lumayan well educated. Tidak tanggung-tanggung dirinya mengenyam pendidikan psikologi dan hukum di kampus2 ternama. University of Puget Sound, University of Washington, Temple University dan University of Utah adalah almamaternya.

Bermodal wawasan dan gelar akademisnya, Ted aktif di berbagai organisasi kemasyarakatan dan partai politik. Sosok Ted Bundy menjadi orang yang dianggap penting dalam struktur Partai Republik kala itu. 

Ia aktif dalam kegiatan kampanye capres Nelson Rockefeller pada tahun 1968 dan pernah sukses menjadi juru kampanye Dan Evans dalam pencalonannya menjadi Gubernur Washington sehingga ia terpilih kembali. Karir Ted begitu moncer. Koneksinya tersebar dimana-mana.


Namun siapa sangka, dibalik itu semua ia adalah pembunuh bengis yang tak kenal ampun. Setiap korbannya (yang semuanya perempuan) direnggut nyawanya dengan begitu keji; diperkosa, dihabisi lalu diperkosa kembali, dibakar dan dimutilasi. Tengkorak beberapa korbannya terpajang di lemari apartemennya.

Bertahun-tahun Ted melancarkan aksinya tanpa pernah terjerat hukum. Kelihaiannya membunuh dan membuang jasad korbannya tanpa jejak berhasil membuat Ted menjadi sosiopat keji yang tak terlacak. Untuk memanipulasi aksinya, Ted bahkan pernah menjadi anggota tim investigasi kasus pembunuhan-pembunuhan yang ia lakukan!

Tahun-tahun berganti. Korban kekejian pria penggemar mobil VW Beetle ini terus bertambah. Gadis-gadis muda, ceria, dan tanpa dosa menghilang tiba-tiba dari asrama-asrama kampusnya. Para korban tersebar mulai dari California, Colorado, Florida, Idaho, Oregon, Utah hingga ke Washington. Koran dan televisi mengabarkan kejadian menggemparkan itu ke penjuru negeri.

Ted berhasil terjaring operasi kepolisian di jalan raya negara bagian Utah. Ciri-ciriny mirip dengan sketsa yang dicurigai sebagai tersangka setelah sebelumnya ia bergonta-ganti penampilan. 

Pengadilan menanti dirinya. Sesaat sebelum sidang pengadilan pertamanya di mulai, Ted berhasil melarikan diri dari ruang tunggu persidangan dengan cara meloncat melewati jendela lantai dua gedung pengadilannya digelar. Ia melarikan diri dengan cara berjalan kaki mendaki pegunungan Aspen selama berhari-hari hingga akhirnya tertangkap kembali.

Dengan sungging senyum tanpa dosanya, kepada media Ted mengaku bahwa dirinya tak bersalah karena hingga saat itu tidak pernah ada bukti bahwa ia yang melakukannya. Persidangan pun digelar kembali. 


Ted begitu percaya diri menjalani pengadilan atas tuntutan pembunuhan berencana di salah satu negara bagian Utah. Lagi2 dengan kelicikannya, Ted memanipulasi jalannya sidang dengan drama pemecatan pengacaranya sendiri di tengah2 sidang. Dan ia menjadi pengacara mewakili dirinya sendiri!

Dengan strateginya, Ted Bundy mengarang berbagai macam drama untuk mempengaruhi ketua sidang dengan maksud mengulur-ulur waktu persidangan agar putusan hakim atas dirinya tertunda. Dalam masa penahanan pengadilan, Ted lagi2 berhasil melarikan diri dari penjara dengan cara membobol atap penjara.

Nasib sabut terapung, nasib batu tenggelam, Ted berhasil kembali ditangkap. Ted didakwa bersalah atas salah satu kasus pembunuhan biadab terhadap dua gadis penghuni asrama universitas di Florida. Ia pun dijatuhi hukuman mati. Hukuman yang sama ia dapatkan dari pengadilan atas kasus lain yang terungkap.

Satu persatu kasus pembunuhan yang dilakukannya terkuak. Sedikitnya 30 orang menjadi korban kebiadabannya, dan mungkin lebih banyak lagi dari yg tidak terungkap. Berapa jumlah keseluruhan wanita yang ia bunuh hingga kini masih menjadi misteri.

Artikel Terkait