Saya mengamati aktivitas para penggiat seni drama di masa Pandemi sekarang ini yang tetap menyuarakan karyanya di akun sosial media mereka masing-masing. 

Hal tersebut membuat saya merasa kagum dengan keteguhan mereka dalam berkarya untuk menginspirasi generasi muda Millennial seperti saya ini. Seperti pada Akhir tahun 2021 ini terpublikasi di akun Instagram dan YouTube pribadi Teater Koma.

Dalam upaya untuk tetap berkarya dan memberikan gambaran kehidupan kampus untuk masyarakat dan mahasiswa, Teater Koma hadir dengan pertunjukan segarnya di akhir tahun 2021 ini.

#TeaterKomaPentasDisanggar kembali mempersembahkan pertunjukan terbarunya dengan tema yang menonjolkan sisi kreatif para wanita yaitu ‘Perempuan Berkarya’.

Pertunjukan ini ditulis langsung oleh Nano Riantiarno selaku penulis naskah Teater Koma, beliau menulis empat naskah pendek untuk pementasan kali ini, yaitu Arsena, Arkanti, Siti Seroja dan Padang Bulan. 

Karena pertunjukan ini bertema perempuan, maka ada  empat wanita yang menjadi sutradara yaitu, Rita Matu Mona, Sari Madjid, Palka Kojansow dan Sekar Dewantari. 

Melalui pementasan ini, Teater Koma ingin memberikan kesan kepada generasi mudah milenial kalau wanita pun dapat berkarya dengan baik dan setara dengan laki-laki.

Lukisan yang eksentrik dan unik karya Taufan S. Chandranegara digunakan dalam pementasan ini untuk mendukung Lakon Arsena menjadi lebih nyata dan hidup. Teater Koma bekerja sama dengan Bakti Budaya Djarum Foundation, PAC, BCA dan Cannon untuk menyukseskan pementasan ini

"Lakon Arsena" telah tayang di Kanal Youtube pribadi Teater Koma ini disutradarai oleh Polka Kojansow (24/11/2021). Terlihat beberapa bintang aktor yang sudah memiliki jam terbang tidak terhitung lagi tampil dalam pertunjukan ini antara lain Sir Ilham Jambak (Arsena), Zulfi Ramdono (Bucuk Arsito), Ohan Adiputra (Koesharyadi). 

Polka Kojansow sebagai sutradara dari pementasan 'Arsena', dirinya telah naik pentas bersama Teater Koma sejak tahun 2013 di Lakon Ibu. Lalu, pada tahun 2014 memerankan tokoh Mc dalam Lakon Republik Cangik.

Polka Kojansow memunculkan pandangan eksentrik tokoh pelukis terhadap dunia sekelilingnya dengan dukungan artistik ciamik yang juga tidak kalah unik dan eksentrik. Hal ini tercantum dalam deskripsi sutradara di akun Instagram Teater Koma.

"Arsena adalah seorang pelukis yang sedari masa mudanya memiliki sifat yang sangat eksentrik, sayangnya dia sering terbentur tembok angkuh tradisi dan Birokrasi." Ujar Nano Riantiarno dalam prolog "Lakon Arsena" (24/11/2021).

Nano menjelaskan, pentas kali ini berkisah tentang seorang mahasiswa Fakultas Seni yang menuangkan seluruh kreativitasnya dalam lukisan. tetapi, kreativitasnya itu terhalang oleh kewenangan Dosen dan Fakultasnya. 

Sinopsis dari Drama ‘Lakon Arsena’ ini memperlihatkan sebuah pemberontakan yang dilakukan seorang mahasiswa terhadap pemberangusan kreativitas. 

Fakultas Seni telah memecat Arsena sebab, kesalahpahaman antara dirinya dan Dosennya itu terkait tugas lukisan Segi Tiga Imajinasi yang dia kerjakan tidak sesuai instruksi. 

Seiring berjalannya waktu, ternyata Arsena menjadi pelukis terkenal yang lukisannya selalu dibeli mahal oleh orang-orang berduit. Lukisannya tersebut mampu bergaung di kancah Nasional sampai ke Internasional. 

Hal ini membuktikan kalau sukses itu tidak terukur dari di mana kita berada dan dari mana lulusan kita. Tetapi, potensi seperti apa yang kita miliki dan kegigihan kita dalam mengasah potensi tersebut.

Lukisan Arsena itu mewakilkan kreativitasnya yang eksentrik dan unik, memakai tema sosok wanita dalam berbagai persoalan, yaitu Politik dan kekerasan seksual yang menjadi momok bagi wanita.

Wanita memang terkadang dianggap sebelah mata, lalu lewat pertunjukan ini dengan menggunakan wanita sebagai tema telah mewakilkan suara wanita melalui goresan kuas di atas kanvas.

Naskah pertama yang ditulis oleh Nano Riantiarno ini memberikan pelajaran kepada kita kalau mahasiswa seharusnya kuliah dengan gembira dan begitu juga untuk para dosen. 

Bila ada kebijakan yang dirasa memberatkan dan menghambat mahasiswa dalam mengeksplorasikan dirinya haruslah melakukan musyawarah antara pihak Fakultas dan para mahasiswa. 

Bila suara mahasiswa yang kurang terdengar oleh pihak Fakultas, maka akan diteriakkan mahasiswa di tempat yang dapat langsung terdengar oleh pihak Fakultas.

Seperti apa yang diceritakan Arsena dalam monolognya di awal tayangan, Arsena akan memimpin demo yang dilakukan oleh para mahasiswa kampusnya untuk menyuarakan pendapat mereka kepada Fakultas.

Dosen pun harusnya menjadi pembimbing yang mengarahkan mahasiswa dalam berkreativitas untuk menciptakan karya, bukannya malah mengekang kreativitas mahasiswa dan mempersempit inspirasi mahasiswa.

Wah, setelah membaca sinopsis dan menonton drama ‘Lakon Arsena’ ini saja sudah membuat masyarakat khususnya para mahasiswa mendapat ilmu baru. 

Serial drama ini dapat menjadi pelajaran dan inspirasi bagi para Dosen dan mahasiswa dalam Kegiatan Belajar dan Mengajar (KBM) di Kampus mereka masing-masing terutama Jurusan Seni. 

Tontonan ini bisa menjadi rekomendasi tontonan untuk menyegarkan hari-hari di masa pandemi seperti sekarang ini dan dapat memberi semangat generasi muda dalam menyuarakan pendapat.

Baca Juga: Pentas Seni