Teater akan terus hidup jika dihidupkan. Teater akan mengalami dekadensi jika tidak ada regenerasi.

Teater tidak bisa tumbuh dan berkembang tanpa ada insan-insan yang menghidupkannya. Teater bisa saja ditinggalkan kapan saja oleh masyarakatnya. Untuk itu teater akan membutuhkan para dramaturg yang trengginas, aktor yang tangkas, sutradara yang cerdas, para direktur artistik yang kreatif, kritikus yang kritis, jurnalis yang aktif dan tentu saja penonton yang apresiatif. 

Kampus menjadi salah satu sasaran ketika sosok-sosok di atas absen dalam kancah teater. Beragam pertanyaan muncul mempertanyakan efektivitas kurikulum yang disusun untuk menempa para cendekia muda teater ini. Sedangkan sudah bermacam strategi dijalankan – pengetahuan-pengetahuan yang bernilai kebaruan sudah ditawarkan – berbagai terobosan sudah diajukan. 

Tapi masih saja terjadi minimalisme kreativitas di antara penerus teater kita! Lalu apa permasalahan kita? Apakah mandeknya kreativitas yang menjadi musuh besar kita? Atau ada kondisi yang tidak mendukung kembangnya kreativitas yang berakibat belum lahirnya cendekia teater kita? 

Kreativitas!?! Kerap dianggap seroman dengan imajinasi, invensi, intuisi, bakat, dsb. Padahal hal-hal tersebut hanya bagian-bagian tak lengkap dari kreativitas. Kreativitas adalah totalitas dan kompleks. 

Bagi seorang mahasiswa teater kreativitas adalah modal utama. Berbeda dengan para mahasiswa sains atau teknologi yang menggunakan rasio tanpa melibatkan kapasitas emosi, seorang seniman melibatkan semua kapasitas yang ada pada dirinya. Rasio, kehendak, emosi untuk menciptakan sebuah karya baru. 

Menurut Mihaly Csikszenmihalyi, kreativitas mengacu pada orang yang mengekspresikan pemikiran-pemikiran yang tidak biasa; mengalami dunia dengan cara yang baru, orisinal, segar, dan mencerahkan; yang mengubah budaya kita secara radikal. Kreativitas adalah pemikiran yang hasilnya adalah ide-ide baru yang berguna. 

Bertautan dengan hal tersebut maka seorang mahasiswa teater dapat dikatakan seorang yang kreatif ketika mampu mengekspresikan atau mengomunikasikan sesuatu secara out of the box. Mengeksplorasi konsep pertunjukan baru ketika penikmat drama sudah mulai bosan dengan stilistika drama atau teks dramatis. Menghasilkan gagasan yang diikuti atau diperdebatkan masyarakat teater.

Kendatipun demikian, kreativitas juga tidak sekonyong-konyong perkara individu. Domain sosial dan kultural juga memainkan peran dalam ranah kreativitas. Csikszenmihalyi menyatakan ada tiga pilar yang menopang kreativitas yakni domain, ranah dan individu.

Pertama, domain. Terdapat tiga dimensi domain yaitu kejelasan struktur, sentralitas dalam kebudayaan dan assesibilitas. Misalkan di sebuah daerah terdapat lembaga pendidikan yang memunyai jurusan/prodi/fakultas teater dengan kurikulum yang sistematis dan jelas. Dalam struktur sosial, ekonomi, politik ekspresi teatrikal dihargai dan diapresiasi. 

Peluang berekspresi dan kesempatan untuk beraudiensi dijamin oleh lembaga dan daerah tersebut. Dengan kondisi demikian dapat dipastikan peluang tumbuhnya kreativitas akan sangat pesat dibandingkan dengan daerah yang berkondisi sebaliknya. Kejelasan struktur, dianggap berperan penting dan mudah untuk diakses menunjukkan domain yang sehat.

Permasalahan pada domain disebut sebagai minimalitas domain. Problem tersebut ditandai dengan minimnya unsur yang membangun pengetahuan, pikiran, ide, institusi, sarana, gagasan, dll. Aturan tidak jelas dan cenderung berbelit, sarana tidak memadai, peluang tidak terbuka, masyarakatnya tidak bergairah. 

Kedua, ranah. Kualitas ranah atau penghuni domain akan sangat menentukan berkembangnya kreativitas. Bagaimana sikap dari penghuni domain, reaktif atau proaktif? Konservatif atau afirmatif? Apakah ranah menjalin relasi yang baik dengan sistem sosial lainnya atau malah tertutup sama sekali?

Sikap sensitif dari penghuni domain akan menghambat lajunya kreativitas maka dibutuhkan dukungan dari penghuni domain. Selain itu, sikap konservatif akan sangat membatasi setiap kemajuan yang dihasilkan oleh individu kreatif. Maka ranah yang afirmatif akan sangat membuka peluang untuk tumbuhnya ide dan mempercepat tempo perubahan.

Persoalan penghuni domain disebut minimalitas ranah yang  ditandai dengan lemahnya dorongan dari komunitas penciptaan ide baru. Misalnya mahasiswa yang terbiasa menggunakan prinsip meniru, menjiplak, plagiasi. Keadaan seperti ini justru meredupkan iklim yang bergairah untuk tumbuhnya kreativitas.

Ketiga, individu yang kreatif. Meskipun domain dan ranah memungkinkan untuk tumbuhnya kreativitas namun tidak ada individunya yang kreatif maka di situlah terjadi masalah. Problema individual dinyatakan sebagai minimalitas aktor. Kondisi ini ditandai  pribadi (mahasiswa) yang pandangan hidupnya sekedar bertahan hidup, sekedar dapat nilai. 

Pada tataran ini pengetahuan direduksi menjadi kebutuhan teknis, praktis, pragmatis seperti sekedar mendapatkan ijazah, mencipta karya sesuai selera pasar. Seharusnya mahasiswa membangun diri sebagai pribadi cerdas, terbuka, memunyai spirit untuk bermain, disiplin, imajinatif, memunyai rasa kebanggaan, mencintai apa yang mereka kerjakan, spontan dan iseng. 

Selain ketiga pilar di atas, kondisi lainnya juga bisa menentukan munculnya kreativitas. Kemelut, kejengahan, protes, perang, krisis, pandemi bisa menjadi kondisi-kondisi menguntungkan bagi seniman yang kreatif. Pribadi kreatif bisa lahir dari keinginan untuk menghadapi krisis yang mengancam eksistensi dan kontinuiti mereka.

Bertitik tolak pada kondisi teater kita hari ini, kita mengharapkan mahasiswa teater  yang menjadi cendekia teater yang tangguh. Mahasiswa teater yang mampu menawarkan kebaruan-kebaruan dari dan secara akademis. Berani mengajukan gagasan yang orisinal, percaya diri atas idenya lalu praktik yang berimbang. .

Mahasiswa teater yang cendekia adalah ia yang menyelidiki dan mencari pengetahuan baru. Tertarik akan gagasan yang segar atau pengalaman yang tak terbayangkan sebelumnya. Memiliki kesadaran bahwa ia sangat memerlukan modal kreativitas dalam meningkatkan kualitas diri. Kecendekiaan akan mencuatkan kualitas kedisiplinan, penuh daya imajinasi, percaya diri yang tinggi.

Menurut Andreas Harefa, cara membangun kecendekiaan adalah dengan menciptakan manusia pembelajar. Manusia yang belajar bertanggung jawab untuk menjadi dirinya sendiri. Berinisiatif menunjukkan tanggung jawab terhadap setiap gagasan, kata, tindakan dengan segala konsekuensinya. Mampu menekan hasrat irasional yang dapat merugikan diri sendiri. 

Masyarakat teater hari ini, semuanya mengharapkan kelahiran sang cendekia teater. Semuanya menunggu cendekia teater yang lahir sehat dari rahim akademis. Cendekia yang membangun generasi teater nan kreatif. Semoga...