Sudah bukan rahasia lagi jika tayangan televisi kita telah lama menjadi alat untuk meneguhkan diskriminasi gender, salah satunya sebagai alat kekerasan seksual berbasis gender. Dalam jenis tayangan televisi seperti ini, representasi buruk atas perempuan seringkali terjadi. Misalnya, bagi saya yang hidup dalam asuhan sinetron Tersanjung dan Cinta Fitri, figur perempuan yang saya yakini baik adalah perempuan tabah dan selalu sabar ketika dipojokkan.

Sayangnya, seiring waktu berjalan, tidak ada yang berubah dari tayangan televisi kita. Contoh lainnya tercermin dari protes yang belakangan ini dilayangkan oleh Koalisi Masyarakat Sipil Anti Kekerasan Seksual (KOMPAKS) atas tayangan “Mega Series Suara Hati Istri : Zahra”. Tayangan itu dinilai melanggengkan praktik perkawinan anak. Padahal, praktik itu termasuk melanggar hukum serta merupakan implikasi nyata dari kekerasan bebasis gender.

Tidak hanya serial televisi, tayangan talk show juga menghadirkan hal yang sama. Ini terjadi pada tahun 2012 lalu, dan sangat memungkinkan hingga hari ini tercermin pada tayangan serupa. Remotivi sebagai salah satu media yang kritis memandang tayangan televisi Indonesia mengajukan protes atas tayangan Kakek Kakek Narsis (KKN) di Trans TV (www.remotivi.or.id). Tayangan itu dinilai melecehkan perempuan karena telah melulu melihat perempuan sebagai objek seksual, berlaku bias gender, bahkan melanggengkan streotip negatif atas perempuan.

Sangat disayangkan memang, kondisi pandemi justru membuat tayangan-tayangan serupa lebih intens hadir dalam layar kaca kita. Tidak ada tayangan yang menghibur, justru yang terjadi semakin tak berkualitas baik dari segi jalan cerita maupun pesan yang disampaikan.

Cerita-cerita yang selalu kemudian mereproduksi perselingkuhan, poligami, bahkan ketabahan pada praktik kekerasan seringkali secara tidak disadari menjadi wujud eksploitasi perempuan di dalam setiap narasinya. Perempuan seringkali digambarkan sebagai objek penderita yang mendapatkan kekerasan dari suami yang sebenarnya menjadi wujud Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT).

Tidak hanya praktik kekerasan, tayangan televisi kita juga seringkali melanggengkan streotip negatif terhadap perempuan. Misalnya, perempuan karir yang seringkali digambarkan menjadi perebut rumah tangga dan justru karir itulah yang menjadi biang keladi kegagalan rumah tangganya. Tayangan ini berpotensi menebalkan pandangan bahwa perempuan karir adalah sumber petaka.

Kelner menegaskan bahwa media populer, termasuk di dalamnya tayangan televisi, film, radio, dan produk lain budaya memang telah lama menjadi referensi tentang bagaimana menjadi perempuan atau laki-laki, tentang nilai baik dan buruk, yang bermoral dan tidak, atau apa yang positif dan negatif. Sehingga, streotip memang tidak hanya ada pada saat ini saja, streotip hadir dan dihadirkan di hadapan khalayak sejak media populer diciptakan.

Streotip negatif yang muncul di tayangan kita kemudian menumbuhkan ‘kebencian’ perempuan terhadap perempuan lainnya. Perempuan selingkuhan yang seringkali digambarkan lebih cantik dalam standar media, sementara perempuan yang tersakiti seringkali digambarkan sebaliknya. Penggambaran itu justru membuat perempuan menumbuhkan rasa curiga dan insecure atas dirinya jika tak sesuai dengan standar cantik yang digambarkan dalam tayangan-tanyangan televisi itu. Akibatnya, perempuan cenderung lebih menyalahkan perempuan atas perselingkuhan yang terjadi.

Sebuah istilah yang menarik untuk menggambarkan kebencian tersebut adalah adalah “ woman’s wolf”, perempuan menjadi srigala bagi sesamanya. Keadaan saling membenci itu timbul dari keadaan pengasuhan, termasuk bagaimana pengasuhan yang dilakukan oleh media. Ketika perempuan menilai dirinya berdasarkan hubungannya terhadap pria, maka saat itulah pilihan ekspresinya terbatas, yang kemudian menciptakan standar dan kompetisi satu sama lainnya hanya dalam lingkup hubungan romantis dengan pria.

Barangkali kemunculan tayangan-tayangan ini justru secara tidak sadar telah menimbulkan kekhawatiran, ketakutan, bahkan rasa curiga terhadap perempuan lainnya.  Kecemasan ini kemudian menimbulkan istilah pelakor menjadi lebih populer belakangan ini, sebuah istilah yang muncul dari kondisi keluarnya srigala betina dalam diri setiap perempuan atau “ woman’s wolf”, yakni perempuan menjadi srigala bagi sesamanya. Keadaan saling membenci itu timbul dari keadaan pengasuhan, termasuk bagaimana pengasuhan yang dilakukan oleh media.

Karena media popular pada faktanya selalu berkelindan dengan massa, reproduksi yang terjadi tentu bukan tanpa sebab, karena tayangan selalu menyesuaikan dan disesuaikan oleh pasar. Oleh karena itu, media selalu berkaitan dengan budaya, sehingga keduanya saling mempengaruhi. Budaya mempengaruhi media, begitu pula sebaliknya. Ibarat kita tidak bisa membedakan mana yang lebih dulu ada antara ayam atau telur. Kondisi ini kemudian menciptakan keserupaan antara budaya masyarakat masih kental merepresentasikan ketidaksetaraan berbasis gender dan tontonan televisi yang ada.

Masyarakat yang tumbuh dalam asuhan televisi sebagai sumber utama media hiburan, apapun yang menjadi tontonan akan menjadi tuntunan bagi mereka. Munculnya tayangan tentang kekerasan gender akan membuat praktiknya takkan pernah putus. Hal ini tentu menjadi dampak yang menakutkan di kemudian hari dan tayangan televisi menjadi salah satu pihak yang bertanggung jawab atas kecemasan ini.