Pengelana
2 tahun lalu · 231 view · 7 min baca · Ekonomi images_81.jpg
sumber gambar : tribunnews.com

Tax Amnesty, Menakut-Nakuti atau Sebaliknya?

Apa alasan utama masyarakat ikut tax amnesty?

1. Takut

2. Sadar

Dua jawaban di atas menjadi alasan utama. Dan ketika kesempatan untuk membunuh rasa takut itu ada, maka sudah pasti orang akan beramai-ramai membelinya, membeli pembunuh rasa takut  yang diberi nama tax amnesty. Apalagi, harganya juga sedang diskon, dan diskonnya besar-besaran lagi. Lagi on sale, seperti obral barang sisa ekspor di pusat-pusat perbelanjaan. 

Namun, ada juga sebagian kecil masyarakat yang sebenarnya sudah sadar telah melakukaan kesalahan dalam urusan pajak, namun selama ini tidak tahu bagaimana solusi untuk membereskannya. Jikalaupun ada sebelumnya yang menawarkan atau menghimbau,  maka selalu timbul keraguan dan kekhawatiran bahwa urusan bisa jadi akan bertambah  rumit di depan, yang justru akan mempersulit diri sendiri. 

Akhirnya, walaupun kesadaran untuk membereskan kekeliruan itu ada, namun karena tidak adanya trust, maka urusan yang satu ini akhirnya ditunda. Menunda sambil menunggu terjadinya suatu perubahan yang bisa memberi rasa aman. Sudah pasti, rasa takut itu terus mengganggu, dan akan selalu menghantui dengan terus menyembunyikan kesalahaan. Apalagi di zaman keterbukaan seperti saat ini, apa saja bisa terbongkar. Belum lagi nanti di tahun 2018, jika semua informasi keuangan menjadi terbuka dan bisa diakses oleh pihak yang berwenang, maka tidak ada lagi tempat untuk bersembunyi.

Hal ini tentu membuat rasa khawatir semakin tidak terkendali dan rasa takut semakin mengganggu kenyamanan hidup. Buat apa hidup, namun selalu dihantui oleh rasa takut? Namun, juga menjadi dilemma karena tidak ada solusi yang terjamin yang bisa memberi rasa aman. Demikianlah, banyak dari orang-orang kaya dan berduit hidupnya sebenarnya justru  tidak nyaman, jauh dari apa yang mereka tampilkan dalam keseharian, yang seakan-akan  tidak kekurangan sesuatu apapun di hidup mereka.

Ketika segala hal yang umumnya diperlukan untuk menjaga rasa aman ada pada mereka, seperti uang dan deposito yang barangkali tidak akan pernah habis, pengawal, sistem keamanan yang canggih, tembok pagar yang kokoh, dokter dan fasilitas kesehatan yang terbaik, hingga back up dari aparat yang tidak pernah absen dan menjauh dari  kehidupan mereka.

Namun, sudah tentu semua itu tidak bisa menjamin rasa aman dan nyaman. Rasa takut, sekalipun tidak tampak  namun sudah pasti selalu menghantui. Bisa saja, ketika mereka mendengar kata pajak, degup jantung mereka langsung berlari kencang. Padahal, tidak ada apa-apa sebenarnya. Namun begitulah, jika sudah berbicara tentang sesuatu hal yang salah dan melanggar, maka suara hati akan bertindak sebagai hakim, dan akan mengadili diri sendiri.

Dari mana rasa takut ini berasal?

Rasa takut merupakan respon alamiah ketika tubuh dan jiwa terancam keselamatan dan kesejahteraannya. Seseorang yang merasa tidak aman dan nyaman sudah pasti hidupnya tidak sejahtera. Kesejahteraan  bukan hanya soal lahiriah semata, namun yang terutama adalah justru urusan batiniah. Itulah sebabnya ada banyak orang yang tidak berpunya secara lahiriah, namun ia bisa merasakan sejahtera, dan tidak sedikitpun ia risau dengan banyak hal yang tidak dimilikinya, dari apa yang ada dan tersedia di kehidupan saat ini.

Terhadap ancaman tadi, seseorang kemudian bereaksi. Reaksi yang ditimbulkan bisa sesuatu yang positif atau juga negatif. Misalnya, seseorang yang berjalan di tepi jalan raya, ketika melihat mobil besar sedang lewat, akan segera menepi dan mengambil jarak agar aman dan berada di luar jangkauan. Ketika orang melakukan kesalahan dan menjadi takut, lalu membuat kesalahan lain untuk menutupi kesalahannya, itu dinamakan reaksi  negatif.

Jika rasa takut itu tidak berdasar, itulah yang disebut dengan rasa takut yang salah. Kita menyebutnya dengan istilah fobia, dimana objek dari rasa takut itu sebenarnya tidak ada, atau hanyalah sesuatu berupa persepsi. Misalnya orang takut dengan petugas pajak, padahal sama sekali tidak ada yang perlu ditakutkan dengan petugas pajak. Bahkan, terhadap desas-desus atau isu kecil, ada banyak orang yang merasa takut. Padahal, belum tentu isu itu benar, dan jikalau hal itu pun benar, belum tentu itu merupakan suatu ancaman dan memiliki sesuatu yang sifatnya membahayakan atau  mematikan. 

Ketakutan seperti ini ada setelah manusia tahu dan sadar sudah bersalah atau bahasa teologisnya berdosa. Manusia menjadi penakut, bahkan seringkali ketakutan itu sangat tidak rasional, yang mendorong manusia melakukan hal yang salah, sekaligus menghalanginya untuk berbuat sesuatu yang benar, apa yang semestinya dilakukan.

Ketakutan yang salah  ini  bermula ketika seseorang tahu  telah melanggar. Sebagai akibatnya, ia takut, karena adanya ancaman berupa konsekuensi sebagai akibat dari pelanggaran itu. Ancaman inilah yang membuat seseorang takut. Lalu kemudian bereaksi dan meresponi ketakutan itu  dengan mencoba bersembunyi, atau di tingkatan  lebih rendah mencoba mengabaikannya atau berdamai dengan rasa takut.

Namun, sampai kapan seseorang bisa terus bersembunyi? 

Semua orang merasakan hal yang sama, merasa takut saat tahu dan sadar telah melanggar, atau melakukan kesalahan. Ketakutan itu baru ada ketika tahu sudah melanggar atau salah. Pengetahuan inilah yang membuat manusia itu takut. Jika seseorang tidak tahu dan tidak sadar telah berbuat salah atau melanggar, maka ia tidak perlu merasa takut dan sangat bisa akan melangkah terus, walaupun sebenarnya salah.  

Tidak terkecuali, semua orang diperlengkapi dengan hati nurani,yang berfungsi sebagai sensor untuk menimbang segala hal, apa yang benar dan apa yang salah, apa yang baik dan jahat. Tentu sensor itu tidak jadi begitu saja  dan otomatis menjadi sempurna pada setiap orang. 

Apa yang dilihat, didengar, dialami dan yang masuk ke dalam pikiran seseorang kemudian tersimpan di hati. Apa yang menjadi pokok-pokok kebenaran itu, lewat pengalaman dan perjalanan hidup kemudian dimatangkan dan menjadi kesimpulan – kesimpulan yang tersusun di dalam hatinya dan terakumulasi dari waktu ke waktu, dan  itulah yang membentuk suara hati. 

Suara hati inilah yang kemudian berfungsi sebagai hakim, ketika seseorang melakukan suatu tindakan. Jika tindakannya itu benar maka ia akan dibenarkan oleh nuraninya dengan mengalami damai sejahtera. Jika tindakannya salah, maka ia akan dituduh oleh nuraninya dan kehilangan damai sejahtera. 

Demikianlah dengan soal harta dan penghasilan yang berkaitan dengan urusaan perpajakan sesorang. Setiap saat rasa takut bisa hadir dan mengganggu kenyamanan. Sudah seperti rutinitas, setiap tahun saat hendak melaporkan SPT tahunan, maka berbohong atau sengaja menyembunyikan apa yang sebenarnya menjadi suatu keharusan. Jika tidak, maka apa yang sebelumnya pernah atau telah disampaikan menjadi tidak sinkron, yang bisa mengakibatkan urusan menjadi panjang dan rumit.

Segala sesuatu dibuat sedemikian rupa supaya terlihat masuk akal dan tidak mencurigakan. Dan itu berlangsung dari waktu ke waktu. Rasa aman dan nyaman menjadi semakin mahal,karena akumulasi kesalahan semakin menumpuk. Sementara, jika dengan kesadaran hal itu hendak dibereskan,  tidak ada tanda-tanda mereka yang bisa membereskannya sudah layak untuk dipercaya ,sekaligus bisa menjamin datangnya rasa aman.

Akhirnya, kesempatan yang dinantikan  itu pun datang dan secara langsung ditawarkan oleh negara melalui Presiden. Tax Amnesty, suatu bentuk kemurahan hati negara kepada rakyatnya untuk berdamai dalam urusan perpajakan. Sudah pasti kesempatan emas ini tidak akan disia-siakan, karena kesempatan seperti ini sangat jarang ada, bahkan juga tidak sebaik dan semenarik apa yang ditawarkan kali ini. Apalagi yang menawarkan adalah Presiden yang bisa dipercaya, siapa yang tidak mau?

" Dosamu sudah diampuni, pergilah dengan sejahtera!” Kira-kira demikianlah Presiden, atas nama negara menyapa masyarakat yang sudah melakukan perdamaian pajak dengan negara. Anda bisa bayangkan, betapa leganya disapa demikian oleh Presiden RI.

Memang, sebelumnya ada kekhawatiran dari masyarakat, jangan-jangan tax amnesty ini adalah sebuah jebakan. Setelah kewajiban dilaksanakan, maka urusan akan berlanjut dan akan menjadi rumit. Beruntunglah dalam berbagai kesempatan, Presiden Jokowi secara langsung berusaha sekuat tenaga meyakinkan masyarakat bahwa program yang ditawarkan pemerintah kali ini benar-benar suatu kemurahan hati negara kepada rakyatnya, sehingga tidak perlu dicurigai.

Andai yang menawarkannya bukan Presiden Jokowi, sangat mungkin situasinya akan berbeda. Lagi-lagi, hal  ini merupakan perkara yang sangat fundamental, yakni kepercayaan. Bagaimana mungkin seseorang mau mengungkapkan kesalahannya kepada orang yang tidak dipercaya? Apalagi, seseorang tersebut atas nama negara bisa menggunakan kekuasaan yang ada padanya untuk menindak siapapun yang bersalah. Lalu, bisa-bisanya kita mengungkapkan kesalahan kita kepadanya untuk kemudian ia bisa menindak kita!

Namun, keraguan itu perlahan-lahan mulai terkikis seiring dengan kegigihan Presiden dibantu Menkeu untuk meyakinan masyarakat bahwa tawaran pemerintah kali ini sangat sayang bila dilewatkan. Negara menjamin rasa aman dan kelegaan akan diberikan kepada  mereka –meraka yang selama ini  belum jujur melakukan urusan perpajakannya, dengan syarat mau memberikan uang tebusan yang jumlahnya juga tidak terlalu memberatkan. Berbeda jika dibayarkan secara penuh berdasarkan aturan yang ada, maka jumlah yang harus dibayarkan bisa berjumlah puluhan kali lipat.

Itulah rasa aman, sesuatu yang sangat mahal dan sulit dicari. Namun, kali ini bisa dibeli dengan uang tebusan yang ringan. Dengan demikian, adalah keliru jika orang beranggapan bahwa tax amnesty itu harus ditolak. Tax amnesty jangan ditolak, ini berlaku untuk semua, semua yang melanggar tentunya. 

Dan jikalau kita berani jujur, seberapa banyakkah kita yang sudah jujur melakukan urusan perpajakan kita? Bahkan rohaniwan sekalipun belum tentu mereka sudah jujur melaporkan apa yang pernah mereka dapatkan dari aktivitas mereka. Saatnya membeli rasa aman, apalagi sedang diskon. Jangan sampai terlambat

Artikel Terkait