Senang melihatnya, setiap hari memandangi siswa tersenyum dan tertawa di sekolah. Mereka terlihat begitu menikmati suasana bersama guru dan teman-temannya. Tentu saja bukan sekadar untuk ngobrol ngalor-ngidul tentang banyak hal, mereka memiliki harapan besar untuk masa depan.

Terutama orang tua mereka yang setiap hari mengiringi mereka dengan doa dan harapan. Orang tua menginginkan anak-anaknya kelak menjadi orang sukses dan berkepribadian yang baik. Doa mereka tidak pernah berhenti sepanjang waktu.

Kenyataannya, poses pendidikan tidak semulus yang diharapkan. Banyak jalan terjal yang harus dilalui, halangan dan rintangan siap menerpa kapan saja. Apalagi siswa yang sedang beranjak remaja, perhatian dari orang tua sangat dibutuhkan karena di masa-masa ini siswa ingin menunjukkan eksistensinya.

Keinginan untuk menunjukkan eksistensi mendorong para siswa untuk berupaya agar dirinya diakui. Cara-cara yang ditempuh pun berbeda-berbeda tergantung pada stimulus yang diterima oleh mereka. Jika siswa memperoleh stimulus yang positif maka cara yang dilakukan pun akan positif. Tetapi, jika stimulusnya negatif maka cara yang ditempuh pun akan negatif.

Sebagai contoh, aksi tawuran yang dilakukan siswa adalah bentuk dari dorongan stimulus negatif. Cara berpikir mereka cenderung impulsif karena tidak melalui proses pertimbangan yang matang. Padahal banyak kerugian yang diakibatkan dari aksi tawuran, selain mengancam kehidupan siswa itu sendiri juga orang lain.

Beberapa waktu yang lalu, Kamis, 14 Oktober 2021 pagi, masyarakat kembali dikagetkan oleh aksi tawuran pelajar. Salah seorang siswa di Kota Bogor yang berinisial RM tewas dalam aksi tawuran tersebut. Bekas luka tusukan dan sabetan senjata tajam menyebabkan RM meregang nyawa. Lagi-lagi nyawa seorang siswa terbuang sia-sia.

Bahkan yang lebih miris, tawuran yang menelan korban nyawa tersebut terjadi ketika pembelajaran tatap muka terbatas baru dibuka kembali di masa PPKM. Inikah wajah hasil pendidikan kita selama ini? Apakah kebijakan PPKM atau sistem pendidikan kita yang gagal?

Selama pandemi, pemerintah telah menggulirkan beberapa kebijakan di antaranya: PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar), PSBB transisi, micro lockdown, dan PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat). Kebijakan ini mewajibkan sekolah-sekolah harus melaksanakan kegiatan belajar jarak jauh.

Hampir 1,5 tahun siswa dan guru melaksanakan kegiatan belajar mengajar secara daring atau online tanpa ada kegiatan tatap muka langsung. Dampaknya bukan hanya pada hasil akademis siswa yang menurun, juga menimbulkan gangguan psikologis siswa.

Berdasarkan survei Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) pada Juli 2020 yang lalu menunjukkan sebanyak 13% responden dari 3.200 lebih siswa tingkat dasar hingga menengah mengalami gejala-gejala yang mengarah pada gangguan depresi ringan hingga berat selama masa "kenormalan baru".

Nah, tidak menutup kemungkinan salah satu pemicu timbulnya aksi tawuran pelajar di masa PPKM dikarenakan siswa mengalami depresi berat.  Mereka akan mudah berperilaku agresif dan yang penting bisa melampiaskan keinginannya, tidak peduli siapa atau apa yang menjadi korban dan dampaknya bagaimana.

Tapi coba kita flashback, apakah kasus tawuran pelajar hanya terjadi di masa pandemi? Tidak, kasus serupa sudah sangat sering terjadi sebelum adanya PSBB, lockdown dan PPKM, terutama di kota-kota besar. Perilaku tawuran sudah seperti rumput liar yang dapat tumbuh subur dan sulit dibasmi.

Sepertinya tawuran sudah menjadi budaya yang mengakar di kalangan pelajar. Lalu apakah ada solusi yang efektif untuk menanggulangi masalah ini? Melihat tren tawuran pelajar yang selalu ramai diberitakan, sepertinya memang belum ada solusi yang benar-benar ampuh. 

Sistem pendidikan yang selama ini diterapkan di sekolah-sekolah pun belum memberikan dampak yang signifikan. Padahal penguatan pendidikan karakter sudah jauh-jauh hari telah digaungkan dan diimplementasikan. Akan tetapi, kasus tawuran pelajar tetap saja tidak pernah surut dari pemberitaan.

Apa ada yang salah dengan sistem pendidikan kita? Yang salah bukan pada sistem pendidikannya, tetapi pada penerapan sistem pendidikan itu sendiri yang tidak menyeluruh sampai pada tingkat kehidupan siswa di rumah dan masyarakat.

Mereka hanya dikatakan belajar ketika berada di lingkungan sekolah, tetapi tidak ketika berada di rumah dan lingkungannya. Proses pendidikan siswa terputus ketika mereka meninggalkan sekolah. Padahal seharusnya proses pembelajaran di sekolah harus diteruskan dan dipraktikkan di dalam kehidupan siswa sehari-hari di mana pun mereka berada. 

Selain itu, minimnya wawasan orang tua dan masyarakat akan pentingnya pola asuh anak yang baik bagi pertumbuhan dan perkembangan fisik dan psikis siswa menjadi salah satu faktor penyebab orang tua tidak memahami cara memberikan asuhan yang tepat pada anak di rumah. Akibatnya siswa kurang memiliki rasa empati dan kasih sayang pada orang lain.

Sudah saatnya kita bangun dari mimpi yang panjang. Pendidikan anak-anak kita bukan hanya tanggung jawab guru, tetapi tanggung jawab kita selaku orang tua. Mari bersinergi dengan semua pihak agar tujuan pendidikan dapat tercapai sesuai harapan. 

Jadikan lingkungan keluarga dan masyarakat sebagai tempat menempa diri bagi siswa sebagai implementasi dari pembelajaran di sekolah.  Berikan asuhan yang tepat sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan siswa agar mereka menjadi pribadi yang berbudi pekerti luhur dan unggul sesuai potensinya masing-masing.