Mahasiswa
3 tahun lalu · 1455 view · 3 menit baca · Lainnya images-1.jpeg
Foto: sitalbiruni.com

Tauhid, Cinta dan Kesetiaan

Kehidupan di dunia ini sangat dinamis. Terkadang kita berada dalam kondisi bahagia, duka, sedih, senang, susah, dan gelisah. Hidup ini juga berbicara mengenai berbagi peran. Terkadang mencintai atau dicintai, menyayangi atau disayangi, mengkhianati atau dikhianati, memberi atau diberi, dan lain sebagainya.

Hidup juga adalah tentang bagaimana kita menentukan pilihan mana yang harus kita ambil. Berbagai macam pilihan terhampar di hadapan kita. Kita harus pandai-pandai memilah dan memilih pilihan yang tepat untuk kebaikan kita sendiri. Karena itu, hidup adalah memilih, bukan pilihan.

Hidup adalah serangkaian aktivitas sistem kerja yang satu aktivitas berkaitan erat dengan aktivitas lainnya. Sistem kerja yang baik tentu didasarkan pada sistem nilai yang benar. Tanpa sistem nilai yang benar, kehidupan ini tidak akan berjalan sebagaimana mestinya. Dengan kata lain sistem nilailah yang menentukan baik dan buruknya alur cerita kehidupan ini.

Allah adalah sumber nilai. Allah adalah sumber nilai kebenaran, kebaikan, dan keindahan. Dialah yang Maha Benar, Maha Baik, dan Maha Indah. Dari itu, sudah menjadi suatu kepantasan dan kepastian bahwa pada dasarnya kita harus menjadikan Allah sebagai satu-satunya pegangan hidup.

Ibn Sina menyebut bahwa Allah adalah wajib al-wujud yang artinya niscaya ada. Dialah yang pertama dan terakhir, Dialah yang Mutlak dan Dialah yang kukuh nan abadi. Dalam al-Qur’an surah al-Ikhlas, ayat kedua disebutkan bahwa Allah adalah sebaik-baiknya tempat yang pantas untuk dijadikan sandaran hidup, Allahu al-shamad.

Kita dituntut untuk memercayakan dan memasrahkan kehidupan ini hanya kepada-Nya. Itulah yang dinamakan bertauhid secara utuh dan menyeluruh. Sikap kepasrahan dan ketundukan kepada Kebenaran Mutlak inilah yang oleh Nurcholish Madjid disebut dengan istilah ‘Islam’.

Tidak bisa dipungkiri, pada dasarnya manusia adalah makhluk yang dianugrahi Allah dengan perasaan. Manusia adalah makhluk perasa, termasuk dapat merasakan getaran-getaran cinta yang bergejolak di dalam jiwa.

Mencinta adalah suatu keniscayaan bagi diri manusia yang sifatnya alamiah. Mau tak mau, suka tak suka, perasaan cinta terhadap sesuatu itu pasti adanya. Tidak ada satu pun manusia yang mampu untuk menolak kehadiran cinta kecuali jika sekiranya manusia itu mati rasa. Lantas bagaimana cara kita untuk menyikapi rasa cinta tersebut, dan apa kaitannya dengan tauhid dan kesetiaan?

Cinta kepada sesuatu yang sifatnya material itu sesungguhnya bersifat temporal dan hanya sesaat. Cinta seperti itu sudah dapat dipastikan rapuh dan tak utuh karena pada dasarnya, sesuatu yang material itu terbatas ruang dan waktu dan akan lekang dimakan usia.

Mencintai seseorang yang didasarkan atas keindahan fisiknya itu hanya berlaku sesaat, tidak akan abadi. Begitu juga ketika kita mencintai kehidupan dunia ini. Pada suatu saat dunia ini akan berkesudahan, dan dengan sendirinya cinta itu pun akan hancur lebur.

Cinta sejati nan abadi tentu harus ditujukan kepada sesuatu yang sejati dan abadi pula dan satu-satunya yang sejati dan abadi hanyalah Allah semata. Allah adalah Tuhan yang Maha Tunggal, yang dengan segala kemahaan-Nya segala sesuatu yang terhimpun di alam semesta ini ada.

Cinta kepada Allah adalah ketika kita menjadikan-Nya sebagai satu-satunya sandaran hidup. Kala kita dalam kegundahan dan kegelisahan, Dialah tempat yang pantas untuk kita ‘curhati’. Saat kita merindu, jadikan Allah sebagai satu-satunya muara kerinduan tempat di mana semua kegelisahan berlabuh.

Dari pemahaman seperti itu, akan muncul dalam jiwa kita suatu kesadaran bahwa diri ini hanyalah milik Allah. Saat diri ini milik Allah, maka kita harus jadikan Allah sebagai milik kita. Dari itu akan muncul perasaan saling mencintai antara diri manusia dengan Allah.

Saat kita mencintai Allah, maka apa pun yang diinginkan oleh Allah akan kita penuhi. Semisal saat Allah meminta kita untuk berbuat baik kepada orangtua, maka permintaan itu akan kita penuhi, kita harus berbuat baik kepada orangtua.

Ketika Allah mencintai kita, maka segala bentuk permintaan kita, akan Allah kabulkan. Seumpama saat kita meminta kepadaNya rezeki, maka Ia pasti akan memberikannya. Pada akhirnya, ketika kita mencintai seseorang, jadikan Allah sebagai dasar atas rasa cinta tersebut. Katakanlah, “Aku mencintaimu hanya atas dasar aku mencintai Allah.”

Tanda bukti seseorang mencintai sesuatu secara utuh adalah kesetiaan. Kesetiaan adalah tolok ukur rasa cinta seseorang. Saat kita mencintai Allah, apakah kita akan setia kepada-Nya. Kesetiaan dapat dilihat dari sejauh mana kita menunaikan segala bentuk kehendak dan keinginannya.

Duduk termenung sendiri saat menunggu yang tercinta datang menghampiri adalah salah satu bukti bahwa seseorang itu setia. Kesetiaannya diuji saat ia menunggu. Tapi jika saat itu ia berpaling, maka kesetiaannya pun diragukan. Begitupun cintanya.

Cinta dan kesetiaan adalah satu kesatuan yang utuh yang tidak dapat dipisahkan. Seseorang tidak dapat dikatakan mencinta saat ia tak setia. Sebaliknya, saat kesetiaan itu ada, di situlah cinta itu nyata.

Konsekuensi dari mencinta adalah bahwa ia harus setia, setia pada yang Satu. Saat seseorang mendua, kesetiaan itu tak pernah ada dalam dirinya. Mencinta itu harus kepada yang Tunggal, dan itu adalah tauhid. Sedangkan mencinta kepada yang banyak adalah perlakuan musyrik atau selingkuh, dan hal itu tidak dibenarkan.

Tauhid, cinta, dan kesetiaan adalah satu-kesatuan yang utuh. Ketiga hal itu harus dimiliki oleh setiap insan yang mengaku sebagai sang pencinta.

Artikel Terkait