Struktur masyarakat modern telah memberi ruang bagi eksistensi perempuan. Dibandingkan dengan struktur masyarakat primitif yang kental dengan aroma patriarki, posisi perempuan tidak banyak berpengaruh dalam pengambilan kebijakan dan representasi mereka dalam pembangunan dan arena politik. 

Dominasi patriarki telah mensegregasi sekaligus mensubordinasikan posisi perempuan dari struktur masyarakat dan kehidupan sosial. Hal inilah yang menjadi sumber inspirasi bagi gerakkan perjuangan perempuan membebaskan diri dari belenggu patriarki dan struktur masyarakat yang menindas.

Pengaruh globalisasi dan modernisasi membawa perubahan yang cukup signifikan termasuk pemikiran dan sikap masyarakat terhadap eksistensi perempuan dalam ruang sosial. Apalagi dengan lahirnya perkembangan digitalisasi dalam ruang kehidupan sosial warga memberi kesempatan (opportunity) dan akses (acceptability) terhadap semua lapisan masyarakat berselancar dalam media sosial.

Disini pula posisi perempuan diartikulasikan melalui jejaring media sosial dalam memperoleh kesetaraan akan hak-hak mereka sebagai warga. Pada aspek lain, jejaring media sosial memberi peluang yang lebih besar bagi perempuan melakukan perlawanan, alih-alih penegasan posisi mereka sebagai bagian dari subjek yang perlu diakomodir oleh hadirnya digitalisasi.

Namun, terlepas dari berbagai perdebatan sana-sini tentang digitialisasi dan eksistensi perempuan, tulisan ini mencoba menjangkar keluar dari berbagai diskusi yang sangat umum tentang perempuan. Saya tidak hendak masuk pada diskusi soal dominasi patriarki dan sejenisnya, sebab tidak membawa kita pada telaah kritis pada bagaimana perempuan sebetulnya mengalami penindasan yang lebih sistemik, tetapi tidak tampak sebagai penindasan.

Tato, Kapitalisme dan Masyarakat Kita

Saya cukup tertarik dengan diskusi belakangan ini terutama soal tato pada tubuh perempuan. Argumen saya sederhana, tato sebagai sebuah seni pada tubuh perempuan merupakan hasil dari kerja kapitalisme yang membawa perubahan bagi kelangsungan hidup masyarakat. 

Disaat bersamaan pula, tato sebagai seni yang diproyeksi melalui kerja kapitalisme, sebenarnya juga menindas eksistensi perempuan dengan mensegregasi keberadaan mereka dari budaya yang berlaku dan dianut dalam masyarakat hingga hari ini, bahwa tato pada tubuh perempuan lebih dipahami sebagai sebuah ‘pelanggaran dan ketidakadaban’ dari seorang perempuan. Inilah yang saya sebut sebagai paradoks perempuan.

Kita tahu, kapitalisme memberikan sebuah perubahan yang luas sekaligus membawa masyarakat pada kehidupan baru yang lain dari kehidupan sebelumnya. Kerja kapitalisme pada dasarnya mempengaruhi pemikiran dan sikap setiap individu dalam melihat, merasakan dan menikmati sesuatu, termasuk tato. Persis disini logika dan kerja kapitalistik itu mempengaruhi setiap orang serta membelah mereka kedalam berbagai pemikiran dan sikap-sikap yang berlainan.

Misalnya, seorang perempuan akan mengatakan bahwa tato merupakan sebuah karya seni yang ada pada tubuh perempuan. Sementara seorang perempuan yang lain lagi akan mengatakan tato sangat tidak bagus sekaligus melanggar nilai-nilai budaya ketika perempuan bertato. Bagimana kerja kapitalisme seperti itu mempengaruhi pemikiran dan sikap kita terhadap tato pada tubuh perempuan?

Pertama-tama yang perlu dipahami ialah, kerja kapitalisme selain mempengaruhi kesadaran kita tentang sesuatu, di saat bersamaan pula menawarkan sesuatu yang terlampau menggairahkan dan unik. Karenanya, tato termasuk bagian dari kerja kapitalisme yang menawarkan kegairahan dan keunikan bagi siapa saja yang menikmati, merasakan dan ingin mencapai kebebasan utuh.

Namun, pada tataran inilah sebenarnya tato pada tubuh perempuan kehilangan identitasnya sebagai subjek yang berbudaya dan beradab. Di satu sisi tato menawarkan kebebasan utuh pada perempuan bahwa mereka memiliki akses, kesempatan dan hak yang sama seperti subjek lain (laki-laki). Namun, saat bersamaan pula mereka terekslusi, dipinggirkan dan terdiskriminasi sebagai subjek yang tidak lagi ‘bermoral, beradab, dan berbudaya’.

Namun, tidak berhenti disitu, perempuan yang bertato selain ditindas oleh struktur masyarakat seperti itu, mereka juga ditindas oleh sistem kapitalistik yang menempatkan perempuan sebagai subjek pasar yang perlu disasar. Pada tingkat ini, kerja kapitalisme selain mendapat dukungan pasar dari laki-laki, mereka juga mendapat pelaku pasar lain yakni perempuan.

Sialnya, kelompok perempuan inilah yang pada akhirnya justru rentan didiskriminasi dari struktur sosial masyarakat yang mendaku diri paling beradab dan berbudaya. Disinilah paradoksnya, perempuan mendukung kerja-kerja kapitalistik memperoleh segmen pasar baru, tetapi disaat bersamaan pula perempuan terekslusi dari struktur masyarakat dan ditindas oleh kerja kapitalisme dengan memanfaatkan mereka sebagai konsumen pasar.

Kerja kapitalistik tentu sangat tahu bahwa dengan memperoleh segmen pasar baru dari kalangan perempuan, profit bagi mereka mengakumulasi keuntungan tetap terpelihara dengan sangat berlimpah. Namun, kapitalisme tidak memberi kerangka penjelasan yang memadai bagi perempuan dalam menghadapi berbagai kecaman dan sumpah-serapah dari berbagai subjek dalam masyarakat yang sok-soan berbudaya dan beradab itu.

Kapitalisme justru membiarkannya, karena bagi mereka hal itu akan menguntungkan mereka dalam memperoleh segmen pasar baru. Dengan sengaja pola semacam ini dibiarkan tanpa kerangka penjelasan yang memadai.

Bahkan, ketika perempuan mengalami kecaman sebagai subjek yang tidak berbudaya dan beradab, kapitalisme tidak berani tampil mengambil posisi menantang, melawan dan berpihak pada kelompok perempuan. Bagi mereka, hal ini justru menimbulkan kekacauan pasar yang berdampak pada segmen pasar dan pada keuntungan yang mereka peroleh.

Hasilnya yang terlihat ialah, pembelahan cara berpikir tentang tato pada tubuh perempuan akan terus terjadi, ada yang mendukung dan ada yang mengecam. Namun bukan berarti kerja kapitalisme berhenti, malah mereka membiarkannya sebagai bagian dari upaya menyerap segmen pasar dari kalangan perempuan agar mereka terbelah dan tidak kompak melawan, baik struktur masyarakat yang kental dengan patriarki maupun menyerang kapitalisme itu sendiri.

Bersambung...