Mahasiawa
4 bulan lalu · 778 view · 4 menit baca · Politik 91132_25423.jpg

Tatanan Dunia Baru yang Ditawarkan Presiden Jokowi

“I don’t believe of the famous figure strong man. I believe in international order to rule the world” (Pidato Presiden Obama dalam kegiatan Kongres diapora Indonesia tahun 2017)

Tradisi keilmuan HI (Hubungan Internasional) mengenal mazhab pemikiran klasik yang bernama Realisme. Tokohnya ada Thomas Hobbes, Thucydides, dan Niccolo Machiavelli. Realis memahami bahwa sifat dasar manusia adalah jahat, greedy/rakus, dan tends to conflict/cenderung berkonflik. Mereka mengenal istilah bahwa manusia adalah Homo Homini Lupus, serigala atas manusia lainnya. Saling memakan dan memangsa. 

Realis memandang bahwa aktor utama dalam Hubungan Internasional adalah State/Negara. Dalam kacamata Thomas Hobbes, negara harus menjadi Leviathan, seekor monster laut yang cakar dan taringnya panjang, dan bisa memangsa siapa pun yang tak ikut aturan negara. Singkatnya, baik manusia maupun negara, dalam asumsi realis adalah jahat, dan dunia adalah sebuah tatanan yang anarki.

Dalam pembukaan Plenary Annual Meeting IMF-World Bank di Bali beberapa bulan yang lalu, asumsi itu dibantah oleh Presiden Jokowi yang pidatonya menuai banyak pujian dari pemimpin dunia. Dengan paparan yang terkonsep baik dan tak biasa (out of the box), Presiden Jokowi menganalogikan situasi dunia laiknya Game of Thrones, dimana Great Houses berupaya untuk memperebutkan The Iron Throne (Tahta Tertinggi). 

Persaingan pengaruh antar kekuatan besar inilah yang dielaborasi Presiden Jokowi untuk menggambarkan betapa suramnya dunia yang dibangun atas semangat untuk saling melemahkan. Bahkan “Balance of Power” yang menjadi konsep utama Realis dalam mencipta perdamaian, justru dipandang sudah kehilangan konteks karena dianggap lemah dalam membangun kerjasama dan koordinasi antar negara. Balance of Power yang dianggap bisa berdiri di antara keteraturan dunia (world order) dan kekacauan dunia (international chaos) sudah tak lagi mampu menerjemahkan fenomena negara-negara yang semakin kompleks.  

Presiden Jokowi menawarkan New World Order/Tatanan Dunia Baru yang dibangun atas dasar kolaborasi dan kerjasama. Peperangan menurutnya hanya akan menyisakan penderitaan. Baik bagi yang menang maupun bagi yang kalah, perang hanya akan menghasilkan dunia yang porak-poranda. 

Presiden Jokowi menggambarkan bahwa Negara yang kuat ekonominya di atas negara-negara lain yang jatuh adalah meaningless, tak ada artinya. Tak ada guna maju dan terdepan disaat yang lain tenggelam. Sebuah provokasi positif untuk menjadikan dunia sebagai rumah bersama, yang tak pelak disambut oleh riuh puji dan tepuk tangan peserta Konferensi. Standing Ovation. 

Winter is Coming yang dijadikan judul pidato adalah sebuah mosi yang brillian. Dalam serial Game of Throne, ia adalah slogan yang diucapkan oleh House Stark, sang kepala wilayah utara, The Warden of The North. Dalam tradisi negara 4 musim, winter adalah ancaman karena sulit diprediksi apa yang akan terjadi. Sebagai penghuni wilayah bagian utara, tentu The House Stark punya informasi lebih dulu kapan kiranya Winter akan datang. 


Warning inilah yang disampaikan Presiden Jokowi agar Great Houses/Great Powers di dunia tidak terlena dalam situasi yang sejatinya amat tidak berpihak kepada negara-negara periphery. Lagipula, taka da yang bias dibanggakan dari sebuah tatanan dunia yang seluruh negara berada pada posisi security dilemma, sebuah keadaan dimana negara berada pada posisi gamang (being threatened) secara keamanan.

Sebaliknya, membangun sebuah tatanan dunia baru dengan menggeser paradigma lama yang konfliktual, meniscayakan kompetisi dan rivalitas, menuju tatanan dunia baru dengan semangat kerjasama dan kolaborasi. Tentu ini bukan ide baru dalam paradigma Hubungan Internasional. Tapi kekuatan narasi pidato Presiden Jokowi yang dengan unpredictable menampilkan serial Game of Thrones tadi lah yang pada akhirnya mampu membawanya pada image internasional bahwa Jokowi adalah Presiden Berkelas Dunia. 

Tak pelak hal ini menjadikan Presiden Jokowi menuai pujian dari tokoh-tokoh dunia. Diantaranya Christine Lagard Direktur Pelaksana IMF (International Monetary Fund), Jim Yong KIM Direktur Bank Dunia, dan Petteri Orpo Gubernur IMF dan World Bank untuk Finlandia. Dalam pidato yang disampaikan pada momentum dan kegiatan yang sama, mereka masing-masing menyampaikan kekaguman mereka atas paparan pidato Presiden Jokowi.

Dalam teori Liberalisme-Institusional, inilah sejatinya posisi strategis institusi sebagai lembaga internasional. Menjadi wadah untuk negara-negara menyampaikan pendapat dan gagasan. Kesempatan itu lah yang dimanfaatkan dengan baik oleh Indonesia, lebih-lebih posisinya adalah sebagai Tuan Rumah yang memberikan welcome speech. Posisi tawar untuk lebih didengar terbuka lebar.


Dunia sudah berubah seiring dengan laju perkembangan teknologi dan modernitas. Siapa pun atau negara mana pun yang mampu dengan sigap membaca tanda-tanda zaman, ia lah yang akan keluar sebagai pemenang. Bedanya, jika tatanan dunia lama meniscayakan rivalitas dan kompetisi, dunia hari ini membuka pintu lebar-lebar untuk kerja sama dan kolaborasi. 

Jika dulu pergaulan dan komunikasi terbatas oleh sekat-sekat terirori, hari ini semua semakin borderless. Kita bisa berkomunikasi dengan siapa pun dari belahan dunia mana pun. Keniscayaan ini lah yang oleh Presiden Jokowi harus disikapi dengan upaya untuk membangun Tatanan Dunia Baru/New World Order yang lebih koperatif dan kolaboratif.

“Heal the world, make it better place. For you and for me and the entire human race”


(Michael Jackson, Heal the World)

   

Artikel Terkait