Sebagai orang yang kerap ikut serta dalam kegiatan umum, Eny R. Octaviani termasuk sosok yang perhatian pada penampilan badan. Perhatian dapat berupa perawatan fisik, pemilihan busana yang dikenakan, hingga perilaku ketika mengenakan busana tertentu. Karena mengalami keadaan seperti ini, Tata, sapaan popular-nya, biasa tampil dengan busana yang dirasa enak dipandang.

Sebagian orang tak terlalu memperhatikan perihal penampilan badan. Nyaris sangat mengabaikan cenderung meremehkan. Dapat dimengerti, pasalnya sebagian orang memang menganggap bahwa perilaku ini hanya menjadi ajang untuk pamer saja. 

Hanya saja Tata memiliki pandangan lain terkait hal ini. “Kalau kita tampil rapi, itu berarti kita menghormati orang lain,” tuturnya saat ditemui dalam makan siang di Warung Keboen Iboe Kudus.

“Menghormati orang lain,” rasanya Tata tepat juga, atau minimal perkataannya tak bisa disalahkan begitu saja. 

Coba bayangkan, andaikan ada rekan meminta kita ikut acara futsal, namun busana yang dikenakan ialah kemeja dan sarung, kira-kira apakah orang yang meminta merasa dihormati? Membuat orang lain merasa dihormati bukankah perilaku terpuji?

Untuk urusan  penampilan badan, Tata memilih jilbab sebagai busana keseharian. Sekadar pilihan berbusana tanpa merasa sebagai perempuan paling shalīhah di dunia dan merendahkan perempuan lainnya. 

Terkait jilbab, Tata memiliki pandangan dinamis sepanjang mengenakan. Awalnya, dia hanya memahami bahwa berjilbab adalah kewajiban menaati aturan. Ketaatan yang juga menambah kecantikan. Lambat laun, dia mengerti bahwa jilbab bukan sebatas penggugur kewajiban, melainkan sebagai kebutuhan buat perempuan.

Perempuan tercipta sebagai seni hidup yang identik dengan kecantikan. Kecantikan yang terpancar dari perempuan kadang menjadi pemicu perselisihan. Karena itu perlu untuk sedikit ditutupi. Bukan semata sebagai wujud perilaku mawas diri, melainkan untuk mencegah gairah tak biasa dari lelaki.

Tak heran kalau Tata merasa tak berkenan dengan ungkapan, “Berjilbab agar lebih cantik.” Menurutnya, “Dengan berjilbab, perempuan berupaya untuk menutupi kecantikan.” 

Tata tak salah berungkap demikian. Dalam lintasan sejarah, jilbab memang berfungsi sebagai penutup kecantikan. Agar kecantikan tak begitu saja diumbar, supaya tak memicu timbulnya perselisihan.