Anikonisme atau pantangan untuk menggambar makhluk hidup, sebanarnya bisa dilacak jejaknya hingga Judaisme. Pada Exodus 20:4 misalnya, dijelaskan bila bangsa Yahudi dilarang untuk membuat patung dan membuat gambar apapun yang ada di langit, bumi dan laut. Larangan serupa juga muncul beberapa kali di ayat berbeda pada Bible. Jadi dalam Judaisme menggambar itu adalah sesuatu hal yang tabu.

Entah mengapa tabu ini tidak muncul sama sekali dalam Quran. Apa mungkin Tuhan lupa? Tapi jika lupa, kenapa tabu menggambar justru marak dalam hadits, bahkan dengan teks yang sangat keras, bahwa orang yang paling keras siksaannya dalam neraka adalah para penggambar, al-mushawwir. 

Tentu saya tidak paham dengan baik siapa yang dimaksud dengan al-mushawwir ini. Apakah mereka orang kafir, atau musyrik, karena dalam Quran orang-orang yang berada di dasar neraka adalah orang-orang munafik. Apa dengan demikian al-mushawwir ini tergolong orang munafik, atau apakah orang yang mengekspresikan kesenian itu bisa disebut munafik?

Saya sebenarnya tidak terlalu paham soal derajat punishment dalam hadits universe yang seringkali hiperbolik, tapi bila tabu ini sangat dilarang dengan keras, kenapa juga tidak dimasukkan sebagai dosa besar, macam membunuh, berzinah, mabuk-mabukkan atau riba? Jika bukan dosa besar, lalu kenapa ancamannya sangat keras, apa maksudnya? Apa orang yang membunuh, yang jelas-jelas mengambil nyawa orang lain "tanpa izin Tuhan" memiliki hukuman yang lebih ringan dari orang "menggambar" yang hanya berusaha menghidupkan apa yang tidak mungkin hidup?

Pertanyaan-pertanyaan filosofis ini sebenarnya harus terlebih dahulu diajukan sebelum anda memakan hadits larangan menggambar ini secara bulat-bulat. Tapi jika anda benar-benar memilih pendirian literalis, kenapa tidak mencoba menelaah makna kata mushawwir dalam Quran. 

Apakah kata ini dalam Quran benar-benar memiliki arti menggambar? Jadi ketimbang menafsirkan Quran dengan hadits, mari kita reverse metodenya dengan meneropong hadits berdasarkan Quran.

Tashwir dalam Quran

Beruntung Quran memiliki beberapa referensi mengenai kata shawara yang merupakan akar kata mushawwir. Ayat pertama muncul dalam QS 7:11 yang menyatakan bahwa Tuhan telah menciptakan manusia dan kemudian shawwarnakum, atau membentuk rupanya. Proses pembentukan rupa ini kemudian dijelaskan dalam QS 3:6 yang menyatakan bahwa:

Dialah yang membentuk kamu (yushawwirukum) dalam rahim sebagaimana dikehendaki-Nya. Tak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Dengan kata lain, proses pembentukan rupa manusia menurut Quran terjadi pada saat manusia masih di dalam kandungan. Tapi proses tashwir manusia tidak hanya berhenti di sana. 

Pada dua ayat selanjutnya, yakni QS 40:64 dan QS 64:3, dijelaskan bahwa setelah manusia dibentuk, maka Tuhan juga membuat indah rupanya, ahsana shuwarakum, yang menunjukkan perubahan raut wajah manusia setelah lahir mulai dari bayi hingga menjadi manusia dewasa.

Dia menciptakan langit dan bumi dengan haq. Dia membentuk rupamu, shawwarakum, dan dibaguskan-Nya rupamu, fa ahsana shawarakum, dan hanya kepada Allah-lah kembali(mu). QS 64:3

Sedang pada QS 59:24 Quran menyatakan bahwa salah satu nama Tuhan adalah al-mushawwir yang berarti pembentuk rupa.

Berdasarkan penggunaan kata shawwara dalam Quran ini sebenarnya kita bisa mendeduksi bila kata tersebut lebih dekat maknanya pada kemampuan membentuk sesuatu secara tiga dimensi, entah itu dengan memahat atau membentuk benda elastis macam tanah liat dengan tangan, dibandingkan dengan proses menggambar diatas kertas yang hanya bersifat dua dimensi.

Ambiguitas

Sampai disini bisa dipahami bila kata tashwir dalam Quran itu tidak lain dan tidak bukan adalah seni rupa tiga dimensi dan bukan menggambar diatas kertas atau bidang dua dimensi. Sekarang mari kita perluas implikasi dari larangan tashwir ini ke makhluk bernyawa yang oleh ulama didefinisikan sebagai binatang (animalia) dan manusia, bukan tumbuh-tumbuhan (vegetasi).

Impact dari tabu ini sangat besar pengaruhnya pada kesenian Islam yang melahirkan corak geometris, abstrak dan floral rumit macam arabesque, salah satunya bisa dilihat pada langit-langit Istana Alhambra, Spanyol.

Sayangnya, pembatasan nyawa, atau makhluk hidup, hanya kepada manusia dan binatang tidak lagi bisa diterapkan di dunia modern. Karena konsep makhluk hidup dalam Biologi Modern cakupannya sudah sangat luas hingga tujuh kingdoms bukan semata dua sebagaimana pada masa lalu.

Bahkan bila ada yang melarang men-tashwir binatang, maka hal yang sama juga bisa diterapkan pada tumbuh-tumbuhan, bakteri, jamur, atau protozoa, karena mereka semua adalah makhluk hidup bukan benda mati.

Lalu bagaimana dengan rekayasa genetik?

Secara praktis para ilmuwan yang mengotak-atik gen binatang atau makhluk hidup lainnya memang tidak menggambar, tapi mereka secara literal melakukan tashwir karena dengan memodifikasi atau mengedit DNA makhluk hidup sebenarnya mereka telah berada dalam level playing as God yang bisa memberi bentuk dan merubah tampang makhluk hidup, bukan lagi level seniman yang cuma bisa menggambar benda mati diatas kertas. 

Rekayasa DNA bahkan bisa menciptakan makhluk-makhluk hibrid baru yang bahkan tidak ditemukan di alam semesta. Macam Dolion, hibrid anjing singa, lemurat, hibrid kucing lemur, atau ayam tanpa bulu.

Lemurat

Apa dengan demikian rekayasa genetik dilarang oleh Islam? Bila dilarang, coba ceritakan hal tersebut kepada mereka yang menjalani prosedur bayi tabung karena secara literal dapat digolongkan dalam kerangka tashwir.

Kesimpulan

Dari sudut pandang Quran menggambar bukan tergolong kedalam tashwir, dengan demikian tidak ada larangan untuk menggambar apapun dalam Islam, kecuali mungkin pornografi. Menghakimi orang menggambar sebagai melakukan tashwir, dan lalu melarangnya, bagi saya adalah salah satu bentuk intellectual malaise yang akut, apalagi sampai mencegah anda menciptakan karya-karya indah.

Yang jadi masalah kemudian konsep tashwir ini mencakup juga seni 3D, modelling, demikian pula rekayasa genetik bahkan operasi plastik. Apa dengan demikian semua hal tersebut menjadi haram?

Well, saya tidak dalam posisi menghakimi, tapi jika melihat kemampuan sains modern yang sudah melampaui kemampuan manusia-manusia zaman dahulu yang hanya bisa menciptakan barang mati, maka tabu tashwir sudah tidak relevan lagi pada saat ini. 

Meski tetap saja bisa digunakan sebagai basis dari etika modern, seperti larangan mengotak-atik DNA calon anak agar menyerupai wajah artis idola.