Penerjemah Buku
2 tahun lalu · 1270 view · 5 menit baca · Filsafat scontent.cdninstagram.com_.jpg
scontent.cdninstagram.com / ist

Tasawuf, Seni Memelihara Rasa

Tasawuf itu ilmu praktis, yaitu ilmu yang untuk diamalkan, bukan sekadar teoritis. Bahkan pada awalnya, tasawuf adalah praktik semata atau semata-mata praktik, bukan sebuah ilmu. Jadi, ada praktik ibadah-muamalah yang hidup di masa Rasulullah saw, lalu seiring dengan perkembangan dan kebutuhan ilmu pengetahuan dan masyarakat, praktik-praktik ibadah-muamalah itu dituangkan ke dalam sebuah ilmu pengetahuan.

Karena itu, lahir dua aliran tasawuf yang seakan bertentangan secara diametral, padahal mereka berdua saling melengkapi.

Tasawuf Falsafi dan Tasawuf Suni

Dua aliran tasawuf itu adalah tasawuf suni dan tasawuf falsafi. Keduanya tidak bisa dipisahkan. Tasawuf suni dan tasawuf falsafi adalah seperti rasa marah/cinta dan rasionalisasi di balik rasa marah/cinta itu. Ketika seseorang marah, maka praktik rasa marah di dalam hatinya hingga dia bertindak kasar, bersumpah serapah, membanting gelas dan piring, itu semua adalah kajian tasawuf suni.

Di dalam tasawuf suni dijelaskan bahwa jika rasa marah timbul, maka diamlah, tahan diri, tangan tidak memukul, dan mulut ditutup. Jika marah saat berdiri, maka duduklah. Jika marah saat duduk, maka berbaringlah. Jika saat berbaring masih marah, maka ambillah wudhu’ dan lakukan shalat dua rakaat.

Satu rumpun dengan rasa marah adalah rasa cinta. Rasa marah bisa melanda kapan saja. Seseorang bisa marah secara tiba-tiba. Begitu juga dengan cinta, cinta datang tak diundang. Seseorang bisa jatuh cinta pada pandangan pertama. Dan anehnya, cinta pada pandangan pertama itu bisa langsung menguat dan kokoh, sekuat-kuatnya dan sekokoh-kokohnya.

Seseorang yang sedang dimabuk cinta, tiba-tiba bermetamorfosa menjadi seorang penyair ternama. Hatinya penuh dengan bunga. Bibirnya tak henti-hentinya melantunkan nama seorang yang dicintainya. Dia mampu menulis 1000 bait puisi cinta. Dia hanya memikirkan kekasih yang dicintainya.

Qais, al-Hallaj, dan Abu Yazid al-Busthami

Waktu Qais datang dari sebuah perjalanan dan ditanya ‘Datang dari mana kamu?’, Qais menjawab ‘Dari Laila’. Qais ditanya lagi, ‘Mau ke mana kamu pergi’. Qais menjawab ‘Ke Laila’. Ketika ditanya, ‘Siapa kamu sebenarnya?’, Qasi menjawab, ‘Saya adalah Laila’. Iya, ketika Qais mencintai Laila, perhatian Qais hanya untuk Laila. Di dalam hati Qais hanya ada Laila, sang pujaan hatinya. Qais sedang dimabuk cinta (ekstase) oleh Laila. Qais sedang dalam puncak cintanya pada Laila.

Nah, tasawuf itu adalah seni memelihara rasa. Di dalam tasawuf, rasa cinta (dan rasa-rasa yang lain di dalam hati) bisa dirangsang, digelitik, dan dibangunkan agar cintanya benar-benar menjadi cinta yang sejati.

Tak usah heran, jika kemudian tokoh-tokoh tasawuf falsafi menelurkan kata-kata ekstase (syathahat: ungkapan liar saat sedang di puncak mabuk cinta) yang seakan-akan eksentrik dan tak masuk akal, bahkan dituding melanggar hukum syariat.

Ketika seseorang hanya memikirkan Allah swt, rasa cintanya kepada Allah swt terus diasah, diasuh, dan diasih, maka yang ada di pikirannya hanya ada Allah swt. Lalu, Husein Ibn Manshur al-Hallaj mencapai klimaks cinta itu dan berucap ‘Ana al-Haqq’: ‘Aku adalah al-Haqq (Allah), serupa dengan Qais yang berkata ‘Saya adalah Laila’. Abu yazid al-Bushtami pun berucap ‘Subhani subhani’: ‘Maha suci Aku, Maha suci Aku’.

Ibn ‘Arabi, Puisi-Puisi Bersayap

Suatu ketika Ibn ‘Arabi ditanya tentang ungkapan syathahat-nya,

Yaa man yaraa nii wa laa araa hu,

Kam dza araa hu wa laa yaraa ni

Artinya:

Wahai Allah yang melihatku dan aku tidak melihat-Nya

Betapa sering, aku melihat-Nya dan Dia tidak melihatku

Dengan spontan, Ibn Arabi bersenandung:

Ya man yaraa ni mujriman

Wa laa araa hu aakhidzan

Kam dzaa araa hu mun’iman

Wa laa yaraa nii laa-idzan

Artinya:

Wahai Allah yang melihatku berdosa

Dan aku tidak melihat-Nya menyiksa

Betapa sering, aku melihat-Nya memberi nikmat

Dan Dia tidak melihatku berlindung

Nah, tasawuf falsafi bertugas merasionalisasi cinta yang sedang berkecamuk dan liar di dalam hati seorang sufi. Ketika cinta diasah dan dibangunkan dari tidurnya melalui tasawuf suni, lalu ketika cinta itu tajam dan terbangun, maka tasawuf falsafi mengambil peran yang sangat penting untuk melepaskan simpul-simpul kesulitan agar mudah dipahami.

Mari kita sederhanakan jawaban Ibn Arabi di atas ke dalam sebuah penjelasan yang mudah dimengerti. Ibn Arabi berkata:

Wahai Allah yang melihatku dan aku tidak melihat-Nya

Betapa sering, aku melihat-Nya dan Dia tidak melihatku

Sepintas lalu, seakan-akan ungkapan ini menyalahi syariat Islam. Bagaimana mungkin Allah swt tidak melihat Ibn Arabi, padahal Allah swt Maha Melihat. Dan bagaimana mungkin pula, Ibn Arabi melihat Allah dengan mata telanjang, padahal Allah swt Maha Gaib. Makanya, perlu diperhatikan jawaban spontan Ibn Arabi saat ditanya tentang ungkapannya itu. Ibn Arabi menjawab:

Wahai Allah yang melihatku berdosa

Dan aku tidak melihat-Nya menyiksa

Betapa sering, aku melihat-Nya memberi nikmat

Dan Dia tidak melihatku berlindung

Agar mudah dipahami, bait-bait di atas akan dituangkan ke dalam bentuk pasal sebagai berikut:

Wahai Allah yang melihatku (pasal 1)

dan aku tidak melihat-Nya (pasal 2)

Betapa sering, aku melihat-Nya (pasal 3)

dan Dia tidak melihatku (pasal 4)

lalu, jawaban spontan itu juga dituangkan ke dalam bentuk pasal lanjutan sebagai berikut:

Wahai Allah yang melihatku sedang berdosa (pasal 5)

Dan aku tidak melihat-Nya menyiksa (pasal 6)

Betapa sering, aku melihat-Nya memberi nikmat (pasal 7)

Dan Dia tidak melihatku berlindung (pasal 8)

Sesuai jawaban spontan Ibn Arabi di atas, bisa dijelaskan bahwa maksud dari ‘Wahai Allah yang melihatku’ (pasal 1) adalah ‘Wahai Allah yang melihatku, sedangkan aku sedang berdosa’ (pasal 5). Jadi, aku terlihat berdosa di ‘mata’ Allah. Ini sesuai firman-Nya ‘Rabbana dzalamna anfusana: Wahai Tuhan kami, kami aniaya terhadap diri kami’. Ibn Arabi melihat dirinya sendiri sedang berdosa, sebab menurut ayat ini, manusia dzalim/aniaya terhadap dirinya sendiri.

‘Dan aku tidak melihat-Nya’ (pasal 2), maksudnya adalah ‘dan aku tidak melihat-Nya menyiksa’ (pasal 6). Jadi, maksudnya adalah meskipun aku sedang berdosa, Allah tidak serta merta menyiksaku. Sesuai hadis qudsi; sabaqat rahmati ghadabi: kasih sayang-Ku mendahului marah-Ku.

‘Betapa sering, aku melihat-Nya’ (pasal 3), maksudnya adalah ‘Betapa sering, aku melihat-Nya memberi nikmat’ (pasal 7). Ibn Arabi melihat bahwa semua yang terjadi pada dirinya adalah nikmat dari-Nya. Kita bisa beribadah adalah nikmat dari Allah swt. Kita bisa melakukan sunah adalah nikmat dari Allah swt.

Meskipun kita selalu aniaya dan lalai, Allah tidak serta merta menyiksa, malah nikmat-Nya terus menerus mengalir tanpa henti. Jantung terus berdenyut. Mata tetap masih bisa berkedip. Bagaimana jika jantung kita dilepaskan dari denyutnya dan mata dihentikan dari kedipnya?!

‘Dan Dia tidak melihatku’ (pasal 4) maksudnya adalah ‘dan Dia tidak melihatku berlindung (pasal 8). Jadi, meskipun kita sudah aniaya, lalu tak serta merta disiksa oleh Allah swt, malah nikmatnya terus mengalir, mengapa kita tidak coba berlindung  dan memperbaiki diri. Ini pertanda bahwa kita lalai. Betapa lalainya manusia itu.