Tulisan ini mengambil referensi dari jurnal yang ditulis oleh Muh. Gitosaroso yang berjudul tasawuf dan modernitas (mengikis kesalahpahaman masyarakat awam terhadap tasawuf) dan jurnal yang berjudul tasawuf dan tantangan modernitas yang ditulis oleh Tri Astutik Haryati dan Mohammad Kosim, penulis sendiri hanya mereview dan mengkolaborasikan tulisan kedua jurnal penelitian tersebut menjadi sebuah tulisan ini.

Tasawuf merupakan salah satu disiplin keilmuan yang tumbuh dan menjadi bagian dari tradisi kajian Islam. Tasawuf adalah dimensi esoterik dalam Islam, Sementara itu modernitas bukan hanya menunjuk pada suatu periode, melainkan juga suatu bentuk kesadaran yang terkait dengan kebaruan, karena itu istilah perubahan, kemajuan, revolusi, pertumbuhan dan lain-lain adalah istilah-istilah kunci kesadaran modern.

Penekanan pada aspek batiniah itulah yang menjadikan ajaran tasawuf sering dianggap berseberangan dengan nilai-nilai hidup masyarakat modern yang lebih banyak bermuatan glamor, pemujaan materi, persaingan keras yang dipenuhi intrik dan tipu daya, keserakahan, cinta dunia, dan lain-lain.

Hal itu dikarenakan tasawuf lebih menekankan pada kerendahan hati, kehidupan yang sederhana, zuhud terhadap dunia, cinta sejati tanpa pamrih, dan lain-lain yang seakan-akan hanya cocok untuk diaplikasikan pada pola hidup tradisional.

Karakteristik itulah yang justru menjadikan tasawuf tetap urgen bagi masyarakat modern karena tasawuf bisa memberikan kesejukan batin dan disiplin syariah sekaligus, sehingga bisa menjadi pintu keluar bagi problema masyarakat modern yang cenderung sekuler, individual, materialistis, dan hedonistis.

Konsekwensi yang tak terelakkan dari sistem dan cara berpikir rasional adalah menguatnya sekularisasi yang menunjukkan arah perubahan dan penggantian hal-hal yang bersifat teologis menjadi hal-hal yang bersifat ilmiah dalam dunia ilmu pengetahuan yang serba ilmiah dan argumentatif.

Penemuan metode ilmiah dalam sains yang berwatak positivistik menggiring manusia untuk memikirkan dunia an-sich sehingga persoalan-persoalan eskatologis tidak lagi menjadi pusat perhatian.

Pada posisi yang berseberangan, tasawuf merupakan bentuk pengalaman spiritualitas seseorang yang lebih menekankan pada rasa daripada rasio, bahkan sering disebut ilmu rasa (dzawq).

Zaman ini mencerminkan suasana kebebasan intelektual, manusia merasa dirinya dilahirkan kembali dalam suatu dunia baru, kesadaran baru dengan kekuasaan dan kekuatannya yang pada gilirannya manusia menempati kedudukan sentral dengan kekuatan rasionya (antroposentris).

Pola hidup manusia menjadi serba dilayani oleh perangkat teknologi yang serba otomat dan canggih, yang pada gilirannya akan membuat manusia lengah dan tidak menyadari bahwa dimensi spiritualnya terdistorsi.

Sementara kemasan tasawuf sebagai aspek ajaran Islam lebih menekankan pada kerendahan hati, kehidupan yang sederhana, zuhud terhadap dunia, cinta sejati tanpa pamrih, dan lain-lain yang seakan-akan hanya cocok untuk diaplikasikan pada pola hidup tradisional.

Sebagai sisi empirisitas keberagamaan Islam, tasawuf dituntut peran aktifnya secara konstruktif-solutif terhadap kemiskinan spiritualitas manusia modern yang secara realitas sangat berbeda dengan setting maupun struktur masyarakat pada saat tasawuf dilahirkan.

Berbagai anomali pada sisi empirisitas keberagamaan merupakan kemestian, karena betapapun idealnya suatu konsep, pada suatu saat akan mengalami keusangan dan sampai pada batas kedaluwarsa.

Kedua istilah ini (tasawuf dan modernitas), merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan, saling membutuhkan dan saling melengkapi, bukannya saling bertentangan.

Sebagian orang mengindentikkan tasawuf dengan orang-orang yang hidupnya anti dunia, anti kekayaan bendawi, anti komunitas sosial, dan lain sebagainya. Tasawuf dikira sebagai suatu kehidupan yang tidak boleh mengikuti perkembangan zaman, miskin, terasing, dan beribadah tanpa henti seperti Puasa, Shalat, Dzikir dan sebagainya dalam waktu dan porsi yang tidak terbatas.

Banyak yang berpendapat bahwa tasawuf bertentangan dengan ajaran Islam dan tidak ada dasarnya dalam syari'at, baik al-Qur'an maupun Sunnah. Sebab lain adalah munculnya sufi gadungan (pseudo-sufi), yang mengingkari keberadaan syari'at dan membuat aturan-aturan sendiri serta mengklaim memiliki otoritas agung yang ahistoris dan tak berakar pada pendahulu manapun.

Pada zaman Rasulullah SAW hidup, semua orang menjadi shufi, yaitu keluar dari budi perangai yang tercela dan masuk ke dalam budi perangai yang terpuji. Persoalannya kemudian adalah bagaimana memahamkan dan mengamalkan tasawuf, terutama pada zaman modern yang banyak tantangan dan tuntutan?

Oleh karena itu pembahasan tentang tasawuf dan modernitas sangat perlu dan menarik untuk dibahas, agar pembaca tidak salah faham lagi dan alergi dengan tasawuf. Jika dilihat dari akar pemikirannya, maka tasawuf berasal dari konsep Ihsan.

Secara ringkas tasawuf adalah suatu norma, aturan, dan ilmu bagaimana orang bisa mendidik jiwa dan hatinya untuk bisa berakhlakul karimah, beribadah, dan selalu mendekatkan diri kepada Allah serta selalu mencari ridha-Nya.

Oleh karena itu tasawuf adalah jalan yang harus ditempuh oleh setiap individu yang ingin mencari keselamatan hidup di dunia dan akhirat, baik oleh orang-orang yang hidup di masa lalu, masa kini maupun yang akan datang.

Ada juga yang mengatakan bahwa kata tasawuf berasal dari kata Sovia yang artinya kebijaksanaan, Sufanah yaitu sejenis buah-buahan kecil dan berbulu yang banyak tumbuh di tanah Arab yang mencerminkan pakaian kaum sufi yang sederhana.

Secara terminologi, menurut Muhammad Amin Al-Kurdy tasawuf adalah suatu ilmu yang dengannya dapat diketahui hal-ihwal kebaikan dan keburukan jiwa, cara membersihkannya dari sifat-sifat yang buruk dan mengisinya dengan sifat-sifat yang terpuji, cara melakukan suluk, melangkah menuju keridhaan Allah dan meninggalkan larangan-Nya menuju kepada perintah-Nya.

Dengan demikian, dapat dimaknai bahwa tasawuf adalah norma atau aturan agar orang berakhlak mulia, memerangi nafsu syahwat, membersihkan dan mempertinggi rohani dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah dan mencari ridha-Nya.