Islam adalah agama rahmatan lil alamin, panduan hidup yang amat kompleks mengatur tatanan hidup manusia, mengatur pemeluk nya dengan sebaik-baiknya syariat. (ini bisa ditambah pembahasan yang mengarah pada islam sebagai agama yang tidak menganjurkan pemborosan dan mubadzir arah konsumtif, misalnya perihal bagaimana manusia memanfaatkan apa-apa yang telah disediakan juga demikian. Seorang muslim bertanggung jawab atas apa yang dimiliki, bahkan bagian terkecil sekalipun, makanan misalnya. Oleh sebab itu, muslim selalu dianjurkan untuk tidak menjadi pribadi yang boros.)

Mengutip dari  laman ibtimes tertulis  The Conference Board Global Consume Confidence Survey bekerja sama dengan Nielsen merilis Indonesia (sebagai) peringkat ketiga negara konsumen optimis setelah India dan Filipina. Ini menandakan meningkatnya kesejahteraan Indonesia berbanding lurus dengan meningkatnya konsumsi bukan pada tabungan.

Meningkatnya perilaku konsumtif mungkin terjadi karna masyarakat Indonesia masih menganggap bahwa banyaknya barang yang dimiliki menjadi tolok ukur kesejahteraan dan kebahagiaan.

Tradisi pamer dan mengikuti tren untuk mempostingnya di media sosial mendorong hal ini terjadi. Tentu perempuan menjadi sasaran empuk, terutama dalam bidang fashion yang mudah sekali berubah. (bisa beri satu kalimat sebagai contoh)

Beberapa tahun terakhir, hidup minimalis amat digandrungi.

Minimalis awalnya berfokus pada sebuah desain interior dan arsitektur pada awal abad ke-20. Van Der Rohe, pasca Perang Dunia I merupakan salah satu arsitek terkemuka pertama yang mempopulerkan prinsip-prinsip desain minimalis. Tren ini terus berlanjut dalam berbagai bidang baik dalam seni melukis, fashion dan musik yang fokus pada kesederhanaan. 

Kesederhanaan juga dicontohkan dalam rumah tradisional Jepang, berusaha hanya menambahkan yang perlu dan menyingkirkan yang tidak perlu menjadi kunci masyarakat Jepang dalam menjalani budaya zen dan kesederhanaan. Selain itu, sedikitnya barang dalam rumah mereka membantu mereka selamat dari gempa yang sering terjadi di Jepang.

Semakin (ke sini), perilaku konsumtif justru memusingkan (membuat pusing) kepala. Pelakunya menjadi kebingungan karena banyaknya barang yang dimiliki tak berguna bahkan belum pernah terpakai, sehingga menghadirkan keresahan karena bingung dan belum siap melepaskan, entah (itu) dibuang atau disumbangkan.

Hadir sebagai solusi yang ada, minimalis menjadi sebuah jalan keluar dan dibanggakan. Pasalnya perilaku minimalis yang akhir ini diperbincangkan  mampu menyelesaikan kekonsutifan pelakunya.

Dipakai dan dielu-elukan dimana-mana oleh muslim dan banyak penduduk dunia.

Ternyata, teori ini, telah diterapkan oleh agama kita dan dicontohkan oleh nabi Muhammad SAW serta para sahabatnya jauh sebelum minimalisme ada. (sebagaimana yang terdapat dalam tasawuf)

Tasawuf layaknya air yang mengikuti wadahnya, bidang ilmu yang aplikatif dan adaptif bila disandingkan dengan berbagai keilmuan.

Di dalam Al-Qur'an. Allah SWT telah melarang sikap berlebihan dalam QS Al-A’raf 7:31, “Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.”

Dan di surat lain.

“Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan.” QS. Al Isra’ [17]: 26-27.

Sekarang kita jadi tahu, mengapa Rasulullah dan para sahabatnya memilih perilaku zuhud sebagai life style.

Tak pernah memusingkan masalah pakaian, hunian, juga makanan.

Kita kembali mengingat pesan salman Al-farisi pada tukang bangunan rumahnya " kalau berdiri, kepalaku harus terpentok, kalau tidur, kakiku harus tertekuk"

Mengingat baju-baju mereka yang hanya tiga sampai empat macam, penuh tambalan, cuci, kering lalu pakai kembali. Memperbanyak puasa, makan secukupnya dan berhenti sebelum kenyang. Sekarang kita paham, bahwa materi tak boleh melekat di hati dan membuat fokus kita pada akhirat terdistraksi. Membiarkan dunia hanya rengkuh dalam genggaman, bukan menempel kuat di dalam hati.

Sikap zuhud adalah obat sifat konsumtif atau boros. Dalam minimalisme kita dituntut untuk hidup berkesadaran dan sesuai kebutuhan, zuhud dan qona'ah pun menggaungkan hal yang sama, bahwa sebagai muslim kita harus saar barang, perilaku, dan segala lintasan yang ada di hati kita akan dihisab di yaumil akhir. Kita menjadi sadar bahwa semua yang ada di islam tidak lain hanyalah kebaikan. Kita dilatih mindfull atau khusyuk lima hari sekali dalam sholat. Dianjurkan zuhud, qona'ah dan ridha agar materi tak jadi pemberat langkah kita menuju kebaikan. Sayangnya banyak yang lebih bangga dengan teori-teori atau life style keren yang ada baru-baru ini, padahal islam, hadir lebih dulu menjawab segala pertanyaan dan mengatur seluruh aspek dalam kehidupan.

(beri akhiran yang membangun misalnya  Islam yang di dalamnya terdapat tasawuf memberikan ruang dan cahaya bagi siapa saja untuk kembali membuka jalan kehidupan yang lebih baik. Bukan hanya sekedar bagaimana menjalani kehidupan minimalis, tapi tasawuf memberi gambaran secara jelas bahwa ketika kita hidup dalam kesederhanaan dan mengaitkan hati dengan Tuhan, segala sesuatu yang sederhana bisa menjadi istimewa.)