Sapari mengerang dan nafasnya tersengal-sengal. Kadang kala disertai batuk yang tersendat dan berat. Ia meringkuk di dipan rumahnya hanya ditemani Saidah istrinya.

Setiap pagi Saidah rutin membikinkan teh hangat untuk suaminya itu sebagaimana hari-hari yang telah lalu ketika mendapati Sapari sedang tidak enak badan. Ia adalah perempuan yang kuat dan sabar, meski tiap hari,  selalu dicaci dan tak jarang menerima pukulan dari suaminya,  tapi kesetiaannya tak pernah luntur.

Jika mendapati suaminya pulang dalam keadaan mabuk minuman  pun, Saidah  dengan lembut tetap  menyambutnya dan memapahnya ke dalam rumah. Dengan penuh kelembutan ia akan memapah suaminya yang sempoyongan agar tak terjatuh disebabkan efek minuman keras itu. Seringkali, ia pun harus mengepel sisa muntahan Sapari di ruang tamu dengan kepasrahan yang sangat.

Saidah tak tahu pekerjaan sesungguhnya dari Sapari suaminya. Ia hanya tahu suaminya menjadi mandor angkut di pelabuhan. Dan ia pun tak lagi berani bertanya jika suaminya itu memberi sejumlah uang yang dianggapnya berkebihan. Ia pernah kena tampar karena bertanya perihal asal uang yang ia terima. Ia betul-betul trauma karenanya.

Sapari mengigau dan meracaukan kata-kata yang tak dimengerti Saidah. Suhu tubuhnya tinggi dan Saidah pun panik karena tak biasanya suaminya mengalami demam setinggi ini. Ia tergopoh-gopoh ke belakang untuk  menyiapkan kompres untuk suaminya.

"Dah,..Saidah selimuti aku, Dah..!!" Sapari memanggil istrinya yang sedang sibuk menyiapkan kain dan air untuk kompres.

"Ya..Bang, tunggu sebentar," jawabnya sambil membawa air dan handuk kecil yang sudah dibasahi. Ia menempelkan handuk kecil itu di dahi suaminya.

Saidah menuju ke kamarnya untuk membereskan pakaian hasil jemuran siang tadi. Sementara siaran televisi di ruang tengah seolah berbicara sendiri. Dibiarkan menyala tanpa ditonton dan hanya didengarkan Saidah sambil melipat pakaian di kamarnya. Berita tentang makin merebaknya virus Korona di televisi itu hanya di dengar Saidah tanpa perasaan apapun.

Sore itu, di sebuah jalan yang sepi, Sapari mengincar korbannya. Ia selama ini selalu mengincar perempuan yang sedang berjalan sendiri sebagai korbannya. Ia dan Jebres, karibnya dalam menjambret, selalu merasa lebih aman mengincarpara perempuan yang sedang berjalan atau naik kendaraan  sendiri. Mereka tak akan sigap mengejar, dan paling kalau berteriak, teriakannya akan terlambat didengar orang, begitulah perkiraan mereka.

Di sore yang naas itu Rina sedang pulang dari piket jaga di rumah sakit tempatnya bekerja. Merebaknya korona membuat ia harus bekerja dengan waktu lebih lama. Ia kebagian menangani pasien yang sedang diisolasi karena diduga terpapar Korona.

Tas jinjing yang selalu ia bawa bukanlah barang mewah. Hanya bentuknya kecil dengan hiasan bunga-bunga yang berwarna pink. Dan lagi bentuknya yang cembung mengesankan isinya penuh barang berharga. Mungil dan berkelas.

Setiap pergi bekerja ia terbiasa membawa tas ini untuk menyimpan dompet dan beberapa alat kosmetik serta buku agenda kerja. Bentuknya kecil, sederhana, dan efisien bagi seorang wanita dengan profesi perawat yang harus bergerak cepat seperti dia.

Ia tak menyadari bahwa sebuah sepeda motor telah lama mengintai pergerakan orang yang keluar dari rumah. Dua orang pengendara nampak masing-masing sedang ngobrol dan sesekali mengawasi orang-orang yang keluar dari rumah sakit itu dengan seksama.

Dengan mencangklong tasnya, Rina melenggang dengan sepeda motornya. Dua orang itu langsung naik ke motornya dan segera  mengikutinya dari belakang. Dengan mengambil jarak yang sesuai untuk mengamati laju calon korbanya, dua orang yang sedang berboncengan itu terus mengikuti perjalanan Rina.

Sapari duduk di belakang sementara Jebres yang bertindak sebagai jokinya. "tetep jaga jarak, Bres dan jangan sampai kita kehilangan jejak," Sapari mengomando Jebres dari belakang. Jebres mengendarai RX King itu dengan cekatan. Sambil berlenggak-lenggok menghindari kendaraan yang dilewatinya, ia melaju bagai pembalap di sirkuit.

Rina masih melaju tanpa mewaspadai pengendara di belakangnya. Semua seperti sudah terbiasa. Ia sudah pulang-pergi dari rumah sakit ke tempat kosnya hampir lima tahun lebih. Dan selama itu ia tak pernah mendapat halangan atau kendala di perjalanan.

Tas itu kini menjadi daya tarik pengendara yang sejak tadi mengikuiti di belakangnya. Tas yang ia beli seminggu lalu itu memang model terbaru. Dan ia tak menyadari bahwa kejahatan kadang datang karena kesempatan dan peluang yang ditawarkan oleh keadaan. Tas itu laksana umpan yang menarik bagi ikan yang sedang  kelaparan.

Di sebuah tikungan menuju arah kosnya ia berbelok. Jalan itu begitu lengang karena menuju kompleks perumahan yang baru dan belum banyak penghuninya, hanya ada beberapa unit yang sudah ditempati oleh pemiliknya.

Tiba-tiba ia tersentak ketika sebuah tangan menarik tasnya dengan keras. Ia oleng dan hampir terjatuh.

"Tolong.....tolong....jambret...!!!" Ia berteriak namun sia-sia karena saat itu jalanan begitu lengang dan sepi tanpa ada seorang pun yang melintas.

Pengendara yang berboncengan itu melaju begitu cepat. Dengan helm teropong menutupi wajah, kedua pengendara itu tak sempat dikenalinya. Rna hanya tertunduk. lemas.

Dalam kegugupan dan ketakutan itu ia bingung entah mau apa. Ia hanya bersyukur tidak jatuh. Beruntung, ia masih mengantongi hape kecil yang khusus digunakannya untuk menerima telp yang berhubungan dengan pekerjaannya.

Ia berjalan ke pinggir jalan dan menunggu ada orang lewat yang bisa memberinya tumpangan. Yang dipikirkannya hanyalah segera pulang. Tak terbersit pun di benaknya untuk lapor ke polisi. Baginya, keselamatan dirinya lebih utama dibanding tas yang dijambret itu.

Beberapa saat kemudian tiba-tiba hapenya bergetar. Ada telp dari rumah sakit tempatnya bekerja. Ia mengangkat hapenya, sambil masih kebingungan dan panik sendirian.

"Rin, kamu  segera kembali ke rumah sakit karena tas milikmu tadi sempat terpegang Dokter Rudi. Dokter Rudi kini di ruang isolasi karena tertular pasien Korona yang ditanganinya," suara seorang wanita di seberang sana mengabarinya.

"Ya, saya masih di jalan dan barusan dijambret dua orang penjahat berboncengan," ia menjawab teleponnya. " Tas itu pun kini terbawa oleh dua jambret barusan," lanjutnya.

Rina pun makin panik. Apakah ia juga tertular karena telah memegang tas yang terkontaminasi itu. Peristiwa penjambretan tadi pun terabaikan dari benaknya. Korona membuat semua menjadi gelap. Ia makin terkulai.

Hari ini adalah dua minggu semenjak ia menjambret tas korbannya. Sapari terkulai tak berdaya. Sementara itu siaran berita yang terdengar dari televisi di ruang tamu rumahnya banyak memberitakan jumlah para korban virus Korona. Setiap hari selalu saja ada penambahan jumlah orang yang terkena Korona. Juga jumlah yang mati karenanya.

"Bang, apa tak lebih baik jika sakit Abang diperiksakan ke rumah sakit agar diketahui sakitnya apa," Saidah memberi usul pada suaminya.

"Paling juga, flu biasa, sudahlah buatkan aku teh panas dan selimuti aku!" ia membalas usul istrinya itu dengan sedikit membentak.

"Sekarang ini sedang pandemi Korona, jangan-jangan abang tertular. Tempat kerja abang kan banyak orang berlalu lalang. Di pelabuhan itu kita tak tahu dari mana saja asal mereka," Saidah menambah alasannya sambil menyodorkan teh panas pada Sapari.

Seorang perawat yang diduga tertular virus Korona kini sedang diisolasi di rumah sakit tempanya bekerja. Dua minggu lalu, perawat ini menjadi korban penjambretan di jalan menuju kosnya. Kini Polisi masih mengejar dua penjambret tasnya yang sampai kini belum diketahui identitasnya.

Ditengarai tas yang dijambret itu juga membawa virus Korona. Polisi masih mencari tas itu untuk mencegah meluasnya virus korona. Semua tempat jual beli barang bekas sudah diselidiki namun tas itu belum ditemukan. Demikianlah sekilas info siang ini.

Masih dalam keadaan meringkuk dan nafas tersendat-sendat, Sapari mendengar siaran berita dari televisi di ruang tamunya itu. Di benaknya kini yang ada adalah bayangan kematian dan rasa bersalah. Ia teringat nasib Jebres dan juga Saidah, Istrinya. Keduanya kini pasti sudah terinfeksi Korona.

"Saidah... maafkan aku, " hanya itu kata terakhir yang sempat diucapkannya. Saidah hanya mendengar sambil menutupkan selimut ke tubuh suaminya.